Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 81. Sikap Manis


__ADS_3

Arumi baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu segera bersiap, menuju lemari pakaiannya dan memilah baju yang akan ia kenakan hari ini.


Pilihan Arumi jatuh pada jumpsuit lengan pendek berwarna dark pink. Setelah mengenakan pakaiannya, ia pun langsung duduk di depan meja rias. Membiarkan rambutnya tergerai begitu saja, dan mengenakan make up yang natural.


Setelah berias, Arumi langsung keluar dari kamarnya. Di bawah sana, Fahri sudah menunggu dirinya hampir setengah jam lamanya.


Arumi melangkahkan kakinya, menuruni anak tangga. Saat itu, ia melihat Fahri bersama dengan Samuel tengah asyik bermain game yang ada di ponselnya.


"Ayo!! Cepat serang!! Lihat map! jangan biarkan musuh sampai ke base kita!" tukas Samuel seraya memperhatikan layar ponselnya.


"Kamu jangan hanya memberikan perintah! Serang juga! Jangan hanya bersembunyi di semak-semak," ujar Fahri menimpali Samuel.


Melihat hal tersebut tentu saja membuat Arumi menggelengkan kepalanya. Gadis itu menjatuhkan bokongnya tepat di salah satu sofa yang ada di ruang tengah.


Ia memperhatikan kedua orang yang sibuk dengan game-nya. Tanpa tahu, bahwa saat ini Arumi sudah berada di hadapan mereka..


Eheemm ...


Arumi berdeham, membuat Fahri langsung mengarahkan pandangannya kepada sosok yang sedang duduk di hadapannya.


"Kamu sudah siap?" tanya Fahri yang baru saja sadar akan kehadiran istrinya di sana.


"Iya, Mas."


Fahri langsung menutup gamenya. Menyimpan benda pipih tersebut ke dalam saku. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Mau langsung berangkat?" tanya Samuel.


Fahri menganggukkan kepalanya. Melihat Fahri yang menyudahi permainannya, membuat Samuel juga menutup aplikasi game yang ada di ponselnya.


"Ya sudah. Kalau begitu, aku pergi dulu," ujar Samuel yang juga beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu mau kemana?" tanya Arumi.


"Memanfaatkan waktu libur untuk mencari seorang kekasih," celetuk Samuel.


Fahri dan Arumi saling berpandangan, lalu kemudian menggelengkan kepalanya mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Samuel tadi.

__ADS_1


"Mungkin dia sudah lelah menjomblo," ujar Arumi.


Fahri terkekeh kecil, lalu kemudian merangkul pundak Arumi. "Ayo! Kita ke dokter untuk memeriksakan tanganmu!" ajak Fahri.


Arumi pun menimpalinya dengan sebuah anggukan. Keduanya berjalan keluar dari rumah, lalu kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di halaman depan. Fahri membukakan pintu untuk Arumi. Kali ini, Fahri tampak lebih memperlakukan Arumi dengan manis dari pada sebelumnya.


Arumi tersenyum, lalu kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah sang istri masuk ke dalam mobil tersebut, Fahri pun menutup pintunya. Lalu kemudian berjalan menuju ke pintu kemudi, untuk menempati posisi di kursi tersebut.


Fahri terlihat begitu sangat perhatian, ia membantu Arumi memasang sabuk pengamannya, meskipun saat itu, Arumi bisa memasangnya sendiri. Pria itu menolak dengan alasan bahwa luka di tangan Arumi belum sembuh. Ia tidak mau jika nantinya luka bakar di tangan Arumi akan bertambah parah.


Arumi terlihat sangat senang. Toh, ini juga yang ia inginkan. Diperlakukan manis layaknya seorang istri yang amat dicintai oleh suaminya. Meskipun hati Fahri kini masih dipertanyakan untuk siapa.


Setelah membantu Arumi memakai sabuk pengamannya, Fahri pun langsung menghidupkan mesin mobilnya. Pria itu membawa kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


.....


Di lain tempat, Sifa dan Aldo yang saat ini tengah menikmati sarapannya bersama dengan Kartika. Kedua pengantin baru tersebut tak banyak bicara, membuat Kartika menggoda anak dan menantunya itu.


"Ada apa? Kenapa kalian sepertinya lebih banyak diam sedari tadi?" tanya Kartika.


"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin Sifa sedikit malu mengingat kejadian semalam. Iya kan, Sayang?" tanya Aldo seraya menggenggam tangan Sifa.


"Bu, aku berencana membawa Sifa untuk tinggal di rumahku saja. Biar ibu yang menempati apartemen ini. Untuk sewa selanjutnya, aku yang akan membayarnya," ujar Aldo.


Kartika yang memang gila uang, tentu saja akan dengan sangat mudah menyetujui hal tersebut. "Wah benarkah? Baiklah! Lagi pula kalian akan sedikit sungkan jika ada ibu di sini," ucap Kartika seraya terkekeh geli.


"Untuk Sifa, kamu berhenti saja dari pekerjaanmu yang sekarang," ujar Aldo.


"Kenapa?" tanya Sifa mengerutkan keningnya.


"Aku bisa menghidupi kamu. Kamu tidak perlu bekerja, cukup berdiam diri di rumah saja. Apapun yang kamu ingin beli, aku akan mewujudkannya," tandas Aldo.


Mata Kartika kembali berbinar. Ia pun mencoba membujuk anak gadis nya untuk menuruti apa yang dikatakan oleh Aldo.


"Sudah, Nak. Turuti saja keinginan suamimu. Lagi pula memang sudah tanggung jawab Aldo untuk bekerja dan kamu cukup diam diri di rumah. Bukankah itu tawaran yang menggiurkan? Di bandingkan kamu hidup dengan mantan suamimu dulu, mending kamu bersama Aldo," bujuk Kartika.


Sofa yang hanya menurut pada ucapan ibunya pun langsung menyetujuinya. "Baiklah," ujar Sifa.

__ADS_1


....


Mobil yang dikendarai Fahri tiba di rumah sakit. Mereka langsung turun dari kendaraan itu, masuk dalam gedung tersebut.


Keduanya mencari ruangan dokter spesialis kulit, karena sebelum datang kemari, Fahri memang sudah menyiapkan semuanya. Mengatur janji temu pada dokter yang bertugas pada hari itu.


Arumi dan Fahri menemukan ruangan yang menjadi tujuan mereka. Fahri mengetuk pintu sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan tersebut. Pria berperawakan tinggi dengan mengenakan jas dokter pun langsung tersenyum.


"Silakan masuk," ujar dokter tersebut.


Fahri dan Arumi pun langsung masuk ke ruangan tersebut. Fahri menjelaskan luka bakar pada tangan istrinya itu. Sang dokter langsung memeriksa luka tersebut.


"Tidak apa-apa, ini hanya luka ringan saja. Nanti saya resepkan obat supaya lukanya tak berbekas," ucap dokter tersebut.


Setelah mendapatkan resep dari dokter, keduanya pun langsung menuju tempat untuk menebus obat tersebut. Dan setelah semuanya selesai, mereka pun langsung kembali menuju mobil.


Di dalam mobil, Fahri kembali meraih tangan istrinya. Ia mengambil obat salep yang diberikan oleh dokter tadi, lalu kemudian mengoleskan pada luka bakar yang ada di tangan Arumi.


Fahri membawa tangan Arumi lebih mendekat lagi kepadanya, lalu kemudian pria itu pun meniup punggung tangan sang istri.


"Apakah masih perih?" tanya Fahri yang melihat tangan Arumi melepuh.


Arumi menggelengkan kepalanya. Ia menatap Fahri yang bersikap manis padanya. Arumi merasa saat ini ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik di perutnya.


"Langsung pulang atau jalan-jalan sebentar?" tawar Fahri.


"Aku ingin jalan-jalan dulu, tapi aku terlalu malu karena tanganku yang terlihat memerah seperti ini. Pulang saja, lagi pula nanti kan bisa jalan-jalan saat sudah sembuh," cicit Arumi.


Fahri menatap sang istri dengan wajah sendunya. "Maafkan aku, karena telah membuatmu seperti ini," ujar Fahri.


"Ah tidak ... Mas Fahri tidak perlu meminta maaf seperti itu. Lagi pula ini kecelakaan bukan karena ulah Mas Fahri," tutur Arumi.


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang. Aku akan merawatmu, melakukan apapun yang kamu mau," ujar Fahri.


"Baiklah. Tapi Mas Fahri janji ya, jangan menyalahkan diri Mas lagi," ucap Arumi.


Fahri mengangguk, pria itu pun melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2