
Fahri perlahan membuka matanya. Sinar mentari menerpa wajahnya. Pria itu melihat Sifa yang sudah tak ada lagi di sampingnya.
Fahri bangkit dari tempat tidur. Hari ini adalah hari Minggu, dimana hari terbebas dari urusan kantor. Namun, pada malam harinya pria itu tetap akan bekerja di toserba.
Ia keluar dari kamarnya, mencari keberadaan sang istri, akan tetapi Fahri tak menemukan keberadaan Sifa. Pria itu pun kemudian memilih untuk kembali ke kamarnya, berjalan menuju ke kamar mandi.
Sifa tengah berjalan menuju ke apartemennya. Wanita tersebut menenteng kantong plastik, dengan earphone yang tertanggal di telinganya, ia memasuki lift yang mengantarkan dirinya menuju rumahnya.
Baru saja Sifa keluar dari pintu lift, tiba-tiba ia mendapatkan satu buah notifikasi pesan. Langkah Sifa terhenti sejenak,ia membuka pesan tersebut yang tak lain adalah dari mantan kekasihnya.
Apa kegiatanmu hari ini?
Sifa membaca pesan singkat itu. Lalu kemudian langsung mengetikkan balasan untuk pesan Aldo.
Aku akan di rumah saja, karena suamiku hari ini tidak bekerja di kantornya, hanya masuk malam untuk kerja paruh waktu.
Sifa memilih menyandarkan punggungnya di dinding, seraya menunggu balasan pesan dari Aldo. Tak lama kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Dengan cepat Sifa pun memeriksa benda persegi itu.
Ya sudah, kalau begitu aku akan menjemputmu di tempat kemarin. Kita berkencan nanti malam. Jangan lupa dandan secantik mungkin.
Sifa tersenyum saat membaca pesan dari Aldo. Wajahnya bersemu merah, bak anak remaja yang baru saja mendapatkan surat cinta dari pria idamannya. Suasana itu kembali membawa Sifa seakan merasakan puber kesekian kali.
Baiklah. Kalau begitu aku akan menghubungimu lagi nanti.
Sifa memberikan kode pada Aldo untuk berhenti mengirimkan pesan sejenak padanya, karena wanita itu akan sibuk dengan suaminya nanti. Ia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu melanjutkan langkahnya dengan tersenyum.
Fahri sedang menonton televisi di ruang tengah. Pandangannya teralihkan ke arah pintu saat melihat istrinya baru saja pulang.
"Suamiku ...." Sifa memeluk suaminya dari belakang. Wanita itu bersemu dan menatap sang suami dengan suasana hati yang gembira.
"Iya, Istriku. Apakah ada sesuatu hal yang baik sedang terjadi hingga ekspresimu sangat bahagia seperti ini?" tanya Fahri menarik tangan istrinya, menyuruh Sifa untuk duduk di kursi sebelahnya.
"Benarkah? Apakah aku terlihat begitu bahagia?" tanya Sifa.
__ADS_1
Fahri menimpalinya dengan sebuah anggukan. Pria itu menepikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Pagi ini suasana hatiku sedang baik. Entahlah, aku sangat senang sekali," ujar wanita itu dengan mata yang berbinar.
Fahri sangat senang melihat istrinya begitu bahagia. Tanpa ia sadari bahwa wanita yang dicintainya itu tersenyum karena pria lain.
"Oh iya, aku keluar untuk membeli sarapan. Aku membelikan bubur ayam kesukaan Mas Fahri," ucap Sifa seraya mengangkat plastik yang ada di tangannya.
"Bubur ayam? Kesukaanku?" tanya Fahri memastikan.
"Hmmm, ... bukankah Mas Fahri sangat menyukai bubur ayam?" tanya Sifa dengan penuh harap.
"Ah iya. Aku menyukai bubur ayam," ujar Fahri berbohong. Pria itu tidak menyukai bubur ayam. Ia sangat membenci makanan yang terlalu lembek. Bubur ayam adalah kesukaan Aldo. Dan Sifa, salah membelikannya untuk sang suami.
Namun, Fahri bisa memakluminya. Mungkin saja istrinya akan makanan kesukaannya.
"Ya sudah, kau begitu aku akan menaruhnya di mangkuk dulu," ucap Sifa membawa bubur ayam tersebut.
Fahri kembali menatap ke layar televisi. Batinnya bertanya-tanya, mengapa istrinya membeli bubur ayam setelah sekian lama ia tak membelinya. Mungkin, karena Sifa ingin makan bubur ayam hingga wanita itu melupakan makanan yang tidak disukai oleh Fahri. Hanya itu yang ada di dalam pikiran Fahri saat ini.
"Mas Fahri menonton film apa?" tanya Sifa seraya memasukkan satu sendok bubur ayam ke dalam mulutnya.
"Aku lupa judulnya. Tapi ini sangat bagus. Yang aku lihat adalah seorang wanita yang terdampar di suatu pulau sendirian," papar Fahri. Ia meraih mangkuk buburnya, lalu berusaha sekuat tenaga untuk menyantap bubur itu. Satu sendok bubur ayam yang masuk ke dalam mulutnya, seteguk air pula untuk mendorong bubur tersebut masuk ke dalam perutnya.
"Wanita? Yang benar saja!" celetuk Sifa seakan menyepelekan alur dari film tersebut.
"Bagaimana jika wanita itu adalah kamu. Kamu saat itu sedang mendayung sebuah perahu di suatu tempat, lalu tiba-tiba perahumu memliki kerusakan sehingga mengharuskan dirimu untuk menepi terlebih dahulu. Kamu memiliki peralatan untuk memperbaiki perahumu, tapi kamu melihat ada perahu lain yang lebih baik untuk di gunakan. Apakah kamu akan tetap memperbaiki perahu yang selalu menemanimu mengarungi lautan, atau kamu lebih memilih mendayung perahu baru, meninggalkan perahu lamamu?" tanya Fahri.
Sifa terkekeh. Wanita tersebut menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Fahri. "Mas Fahri memberikan satu pertanyaan, tapi penjelasannya hampir satu bab," ujar Sifa.
"Bisakah kamu memberikan jawabannya?" tanya Fahri.
Sifa meletakkan mangkuk buburnya, lalu meraih air minum yang ada di atas meja. "Mas, jika aku jadi wanita yang Mas Fahri sebutkan tadi, maka aku akan memilih menaiki perahu yang lainnnya. Untuk apa aku mempertahankan perahuku yang rusak," jawab Sifa.
__ADS_1
"Begitulah?" tanya Fahri memastikan.
"Ya iyalah, Mas. Tidak mungkin aku harus berlama-lama memperbaiki perahuku sedangkan ada perahu yang lainnya masih bisa aku gunakan dan berfungsi dengan baik."
Fahri mengulas senyumnya. Entah mengapa ada rasa sakit dalam dirinya saat mendengar jawaban dari Sifa.
"Ada apa, Mas? Kenapa wajah Mas Fahri tiba-tiba berubah?" tanya Sifa heran.
"Tidak apa-apa," elak Fahri.
"Ya sudah, kalau begitu habiskan makanannya."
Fahri kembali menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Ia berusaha keras untuk menikmati bubur tersebut meskipun Fahri sangat tidak menyukainya.
....
Di lain tempat, Arumi dan Samuel sedang berada di ruang tengah, tepatnya di rumah Arumi. Saat itu ibu Arumi sedang tidak di rumah, jadi dengan leluasa Arumi menceritakan hal yang sedikit bersifat rahasia dengan leluasa.
"Aku sudah menemukan calon suami untukku kelak," ujar Gadis itu dengan mantap.
"Suami? Dalam jangka waktu sehari?" tanya Samuel seakan tidak percaya.
"Iya." Arumi mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan beberapa foto pria yang ia ambil semalam.
Samuel mengernyitkan keningnya. Ia menggeser beberapa foto yang sama. Tak lama kemudian, Samuel pun terkekeh geli, lalu menyerahkan kembali ponsel tersebut pada pemiliknya.
"Yang benar saja! Apakah kamu seorang penguntit?" tanya Samuel yang tak bisa menahan tawanya.
"Jaga ucapanmu, Sam. Aku bukanlah penguntit!" tegas Arumi.
"Jelas saja kamu terlihat seperti penguntit. Bagaimana tidak? Kamu bahkan mengambil beberapa gambar yang hanya memperlihatkan punggung seorang pria," ujar Samuel mengejek.
Arumi bersedekap sembari memperlihatkan wajah masamnya. Ia kembali memeriksa ponselnya, dan benar saja semua gambar yang ia ambil diam-diam semalam hanya dapat punggung dari pria yang ia ikuti tersebut.
__ADS_1
Bersambung ....