
Fahri tengah membagi uang yang di dapatnya tadi. Untuk membayar separuh uang tersebut pada Elena. Pria itu kembali membawa tas yang berisikan uang dua ratus juta, dan kemudian pergi menuju ke tempat pertemuannya dengan Elena.
Kali ini Fahri mengenakan taksi untuk menuju ke tempat tersebut. Ia sesekali menatap ke arah luar jendela, membuka jendela kaca taksi tersebut untuk menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah tampannya.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, Fahri pun tiba di tempat yang menjadi pertemuannya dengan Elena. Sebuah kedai kopi yang tak jauh dari rumah wanita itu.
Fahri membuka pintu masuk kedai tersebut. Melihat Elena yang sudah lebih dulu berada di sana. Tanpa aba-aba, pria itu pun langsung menghampiri Elena dengan membawa tas berisi uang itu.
Elena menyambut Fahri sembari menyunggingkan senyumnya. Ia senang karena pada akhirnya uangnya kembali setelah jangka waktu yang cukup lama.
Fahri meletakkan uang tersebut di atas meja. Lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di sana.
"Ini uang sebanyak dua ratus juta. Hutang Sifa sudah lunas," ucap Fahri pelan.
Elena menarik sedikit tas tersebut agar lebih mendekat dengannya. Lalu kemudian membuka separuh resleting dari tas itu, hanya sekedar mengecek bahwa di dalamnya adalah uang sungguhan.
"Baiklah. Aku senang karena kalian menepati janji," ujar Elena.
"Semoga kelak, kamu dan istrimu akan lebih hidup berkecukupan," sambung wanita tersebut.
Fahri hanya tersenyum menanggapi ucapan Elena. Setelah ini, Sifa bukanlah istrinya lagi. Dan Fahri juga turut mendoakan semoga Sifa akan lebih berkecukupan hidup bersama pria pilihannya.
"Aku tidak tahu ingin memulai pembicaraan ini dari mana. Tapi yang jelas, aku hanya memberitahukan satu hal padamu. Kamu adalah pria yang baik, akan tetapi nasibmu kurang beruntung," tutur Elena. Ia merasa kasihan pada Fahri yang mati-matian bekerja demi Sifa. Sementara istrinya sudah mengkhianatinya dengan bermain bersama pria lain.
Fahri kembali tersenyum menanggapi ucapan Elena. Ia tahu maksud dari perkataan wanita tersebut. Ternyata, perselingkuhan Sifa memang sudah cukup banyak orang tahu. Hanya saja, ia yang terlalu bodoh masih mempercayai sang istri, menutup matanya hanya untuk cintanya.
"Aku rasa tidak ada lagi yang harus diperbincangkan. Untuk di lain waktu, kamu jangan pernah lagi menagih hutang ataupun mengganggu kehidupannya. Ku harap kamu mengerti akan ucapanku."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Fahri langsung beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi meninggalkan Elena.
Elena mencebikkan bibirnya. Ia mengambil tas tersebut, lalu kemudian pergi dari tempat itu setelah membayar kopi yang dipesannya tadi.
__ADS_1
Fahri berada di dalam taksi untuk kembali ke apartemennya. Namun, pria tersebut singgah sejenak di suatu tempat. Sebuah kontrakan yang letaknya tak jauh dari toserba tempatnya bekerja.
Fahri melihat-lihat kontrakan tersebut. Bertanya tentang harga sewa hunian itu.
"Apakah Bapak berminat? Untuk fasilitas, tenang saja. Kami menyediakan kamar mandi di dalam rumah. Dengan kamar yang cukup luas dan juga memiliki ruang tengah serta dapur," ujar pemilik kontrakan tersebut.
"Aku tidak memerlukan hunian yang luas. Karena aku hanya hidup sendirian nantinya," lirih Fahri.
"Baiklah. Aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Nanti aku akan kembali ke sini lagi jika sudah memutuskannya," ucap Fahri.
"Siap, Pak. Kami akan selalu menunggu keputusan dari Bapak," ucap pemilik kontrakan tersebut.
Fahri pun kembali menghadang taksi untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
.....
Hari ini Sifa pulang kerja lebih awal karena wanita tersebut tidak di jemput oleh Aldo. Biasanya jika di jemput Aldo, pasti mereka akan singgah dulu ke suatu tempat, setidaknya menikmati waktu bersama sejenak sebelum akhirnya mereka berpisah.
Aldo mengirimkan pesan padanya tadi siang. Untuk hari ini pria tersebut tidak bisa menjemputnya karena harus pergi ke suatu tempat. Aldo tak menjelaskan tempat apa itu. Namun, Sifa tak ingin ambil pusing dengan meng-iyakan saja.
Pria itu menatap Sifa dengan tersenyum. "Duduklah! Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Fahri.
Sifa menuruti ucapan pria itu. Ia menjatuhkan bokongnya tepat di samping Fahri. Matanya menangkap sebuah koper yang ada di samping pria itu.
"Mau kemana dia?" batin Sifa.
Fahri menaruh tas yang tak jauh dari kopernya. Tas tersebut merupakan sisa uang yang diberikan oleh Arumi tadi pagi. Fahri membuka resleting tas tersebut. Memperlihatkan isi dari tas itu pada Sifa.
Seketika mata Sifa langsung membola. Ia melihat ada banyak uang yang ada di dalamnya. Gadis itu pun menyentuh permukaan tumpukan uang tersebut.
"Ini ...." suara Sifa tercekat. Ia seakan tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat uang tersebut.
__ADS_1
"Gunakanlah uang ini untuk keperluanmu sehari-hari, semoga ini semua bisa mencukupi kebutuhanmu beberapa hari ke depan. Aku telah melunasi hutangmu, dan sekarang kamu tidak perlu merasa khawatir karena takut ditagih oleh Elena," tutur Fahri dengan lembut.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak ini?" tanya Sifa menatap pria yang ada di sampingnya dengan tatapan tak percaya.
"Seperti yang kamu bilang sebelumnya. Demi membayar hutang itu, aku menjual diriku." pria itu tertawa setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Sifa mencoba untuk menggali ingatannya kembali. Wanita itu memang pernah mengatakan hal sekadar itu saat dirinya tengah cekcok akibat Fahri yang tak bisa mencukupi kebutuhannya. Di tambah, saat itu Sifa sedang takut karena ditagih oleh Elena dengan jangka waktu yang cukup singkat. Wanita itu memiliki foto saat ia bersama dengan Aldo.
Sifa tertegun, menatap kembali uang yang ada di hadapannya. Ia tak menyangka jika Fahri merasa benar-benar tersinggung akan ucapannya.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud ...."
"Lupakan! Lagi pula sebentar lagi kita akan berakhir," ujar Fahri yang langsung memotong pembicaraan Sifa.
"Aku tahu alasanmu membuangku karena aku adalah pria yang miskin dan bodoh. Aku tidak mampu mencukupi kebutuhanmu. Aku tidak bisa membelikan barang-barang mewah untukmu." Mata Fahri mulai memerah.
"Setelah aku melihat pria yang kamu pilih, aku sadar bahwa aku tidak ada apa-apanya dibandingkan pria itu. Ia memiliki uang, kendaraan yang mewah dapat menjemputmu kesana dan kemari. Sementara aku, aku hanya bisa membawamu ke dalam lingkaran kemiskinan ini."
"Ini adalah uang sebesar dua ratus sembilan puluh lima juta. Aku menjual diriku sebesar lima ratus juta. Dua ratus juta aku bayarkan pada Elena. Dan lima jutanya lagi, aku gunakan untuk pegangan ku nanti."
"Nikmatilah uang itu, dan kuharap setelah ini kamu dapat mencintaiku karena bisa memberikan uang sebesar itu. Walaupun kenyataannya, yang ku punya masih kalah dengan yang dia punya. Bukankah kamu bisa mencintai seorang pria yang memiliki banyak uang? Maka dari itu, cintailah aku hingga penuh. Dan belilah apapun yang kamu mau dengan uang itu!" Fahri berkata panjang lebar. Dalam penuturan setiap kalimatnya, terdengar suara yang bergetar. Antara menahan amarah, kekecewaan, dan rasa sedih yang mendalam.
"Aku sudah mengurus semua dokumen perceraian kita. Tinggal menunggu sidang saja, setelah itu kita resmi bercerai," ujar Fahri.
"Terima kasih atas tumpangannya, aku harap kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan kelak. Ku harap pria itu lebih mencintaimu dibandingkan aku. Aku pamit!" Fahri beranjak dari tempat duduknya. Lalu kemudian pria tersebut menyeret koper yang berisi barang-barangnya keluar dari tempat tersebut.
Sifa tak bisa berbuat apapun. Ia hanya menatap ke arah pintu yang sudah kembali tertutup. Wanita itu tertawa keras setelah melihat kepergian Fahri.
Di waktu yang bersamaan, ia juga meraung sembari menangis tersedu-sedu. Pandangannya teralihkan pada uang yang ada di atas meja.
"Ini kan yang kamu inginkan, Sifa? Kenapa kamu harus menangisinya?" ucapnya bermonolog.
__ADS_1
Sifa tertawa, lalu kemudian kembali menangis. Karena tak ada perpisahan yang tak menyisakan luka.
Bersambung ....