Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 112. Berdebat Di Kantor


__ADS_3

Di kantor, Fahri tengah berhadapan dengan Pak Budi yang merupakan pimpinan dari DS Grup. Pria tersebut tampak menatap Fahri dengan tatapan tak suka.


"Kamu tahu ... banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan kami. Akan tetapi aku memilih kalian diantara perusahaan terbaik lainnya. Ku kira kalian akan lebih disiplin tak tahunya, ck! Sangat mengecewakan," cecar Pak Budi.


"Atas ketidaknyamanan bapak, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya," ujar Fahri lembut.


"Asal kamu tahu, aku tidak memiliki banyak waktu hanya untuk menunggumu. Apalagi dengan alasan yang tak jelas itu!" tukas Pak Budi.


"Maaf sebelumnya, Pak. Saya rasa ucapan Bapak sangat tidak pantas. Alasan saya meminta pengunduran waktu rapat karena istri saya baru saja masuk ke rumah sakit dan ...."


"Persetan dengan alasanmu. Itu tidak penting bagiku," ucap Pak Budi dengan kasar langsung memotong perkataan Fahri yang belum selesai.


Mendengar hal itu, entah mengapa Fahri menjadi merasa panas. Ucapan Pak Budi memang sudah bisa ia tolerir lagi.


"Baik, jikalau begitu persetan pula dengan kontrak kerja sama ini!" tukas Fahri.


Srek ...


Fahri langsung merobek kertas kontrak yang akan ia tunjukan pada Pak Budi. Fahri menggebrak meja, hingga membuat pria tua tersebut langsung terkejut dengan sikap yang diperlihatkan oleh Fahri.


"Jangan terlalu sombong dengan keberhasilan anda sejauh ini. Karena jika sampai anda jatuh, aku orang pertama yang lebih dulu menertawakannya. Camkan itu!" tukas Fahri.


Fahri beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian duduk di kursi kebesarannya. Pak Budi melihat hal tersebut langsung mendecih.


"Doni, buka pintu dan katakan padanya bahwa kita tidak membutuhkan bantuannya lagi!" geram Fahri yang terlanjur kesal.


Doni pun menganggukkan kepalanya. Pria itu pun menuruti perintah dari atasannya. Pak Budi mendengus kesal, lalu kemudian pergi dari ruangan Fahri dengan raut wajah yang masam.


....


Samuel menjaga Arumi dengan baik. Pria itu bahkan tak sedetik pun pergi dari sisi Arumi. Entah mengapa rasa sayangnya begitu besar pada wanita yang kini tengah tertidur pulas di atas brankar.


"Setulus inikah rasa cintaku padamu? Bahkan aku tak bisa melepaskanmu meskipun kamu telah memiliki pria yang kamu dambakan selama ini," batin Samuel.


Pria itu membenarkan selimut yang menutupi tubuh Arumi. Ia pun melirik ponsel Arumi yang berada di atas nakas. Samuel mengambil ponsel tersebut diam-diam. Ia memeriksa ponsel itu selagi Arumi tertidur.

__ADS_1


Entah mengapa, terbesit di pikiran Samuel untuk melihat daftar hitam di kontak Arumi. Dan Samuel pun menemukan satu nomor yang masuk dalam daftar hitam.


"Apakah ini adalah nomor yang mengirimi Arumi pesan? Bu Dewi kah yang memblokirnya?" batin Samuel.


Tanpa ingin berpikir lebih lama lagi, Samuel pun langsung menyalin nomor tersebut ke ponselnya. "Barang kali memang nomor inilah yang mengirimkan pesan tadi. Dengan begitu, aku bisa lebih banyak menyelidikinya," batin Samuel.


Setelah berhasil menyalin nomor tersebut, Samuel kembali meletakkan ponsel Arumi di tempat semula. Ia menatap wajah Arumi yang tengah terlelap, tangannya terulur hendak membelai puncak kepala Arumi. Namun, sesaat kemudian ia tersadar bahwa apa yang hendak ia lakukan itu sudah tak lazim lagi. Arumi telah bersuami.


"Aku akan menjagamu, ku harap kamu tidak terluka karena orang-orang yang berusaha mencelakaimu," batin Samuel.


Tak lama kemudian, ponsel Samuel berdering. Ia menatap layar ponselnya dengan nama Elena yang tertera di layar menyala itu. Samuel pun beranjak dari tempat duduknya, sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan dari Elena.


"Halo ...."


"Sam, bagaimana keadaannya?" tanya Elena dari seberang telepon.


"Arumi tidak apa-apa. Dia hanya syok saja," timpal Samuel.


"Syukurlah kalau begitu. Entah mengapa aku sedikit geram dengan orang-orang yang selalu saja berbuat jahat padanya," gerutu Elena.


"Sepertinya kamu sangat peduli padanya," ujar Samuel.


"Ya ... seandainya aku diposisinya, mungkin aku tidak sanggup untuk menjalani hidup selanjutnya," ucap Elena.


"Oh ya, sudah dulu ya. Kebetulan hari ini aku sedikit sibuk, jadi aku tidak banyak waktu untuk bercerita panjang lebar padamu."


"Baiklah, terima kasih karena telah memedulikan Arumi," tutur Samuel.


"Ya ... sama-sama."


Setelah panggilan terputus, Samuel pun kembali ke kursinya untuk menjaga wanita hamil itu.


Di waktu yang bersamaan, Elena tampak menghela napasnya. Sebenarnya ia tak terlalu sibuk, akan tetapi ia mengerti karena saat ini pria itu tengah bersama dengan Arumi.


"Jika aku yang berada di posisi Arumi ... apakah kamu juga akan mengistimewakan ku seperti wanita itu? Bisakah kamu mencintaiku juga?" gumam Elena.

__ADS_1


....


Fahri baru saja menyelesaikan tugas kantornya. Namun, ia beberapa kali menelepon Samuel hanya untuk menanyakan kabar dari Arumi.


Meskipun berada di kantor, tetap saja pikirannya tertuju pada istrinya itu. Namun, setelah diberi nasihat oleh Arumi melalui telepon, Fahri memaksakan dirinya agar tetap menyelesaikan tugas kantor.


Pria itu merapikan beberapa dokumen yang berserakan di atas mejanya, menumpuknya menjadi satu. Ia pun meraih jas yang di gantung tak jauh dari tempat duduknya, lalu kemudian mengenakan jas tersebut untuk bersiap pulang.


Saat keluar ruangan, ia melihat sekretaris barunya itu masih sibuk bekerja. Fahri pun menghampiri sekretarisnya itu.


Pria tersebut mengeluarkan dompetnya, lalu kemudian memberikan beberapa lembar uang ratusan pada sang sekretaris.


"Ambilah, buat kamu makan nanti," ujar Fahri yang memberikan uang cash sebagai bonus untuk sekretarisnya karena telah bekerja dengan begitu keras.


"Terima kasih banyak, Pak." Sekretaris tersebut tampak sangat senang dengan bonus yang diberikan oleh Fahri.


Fahri mengangguk, lalu kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar untuk menemui sang istri tercinta.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Fahri tiba di rumah sakit. Pria itu langsung bergegas menuju ruangan tempat sang istri dirawat.


Setibanya di sana, ia melihat Arumi yang tengah berbincang dengan Samuel. Ia juga melihat keberadaan mertuanya di ruangan tersebut.


"Fahri ... baru pulang kerja, Nak?" tanya Dewi dengan lembut.


Setelah mengetahui keganjilan yang dikatakan oleh Samuel, entah mengapa ada rasa kesal di dalam benak Fahri pada mertuanya itu. Namun, ia mencoba untuk menutupinya. Lagi pula, Fahri tidak memiliki bukti kuat untuk langsung menuduh mertuanya itu. Di tambah dengan posisi Dewi adalah ibu kandung dari istrinya, membuat Fahri masih harus menghormati Dewi.


"Iya, Ma." Fahri menimpali ucapan Dewi seadanya.


Pria itu pun langsung menghampiri istrinya, mengusap puncak kepala Arumi penuh rasa sayang serta rasa khawatir yang saat ini menyelimutinya.


Samuel mengerlingkan matanya, memberikan kode pada Fahri bahwa Arumi tetap aman.


"Dokter sudah mengizinkan pulang. Jadi ... ayo kita pulang sekarang!" ajak Fahri.


Arumi mengulas senyum, lalu kemudian mengangguk pelan. Wanita itu pun dibantu oleh suaminya untuk bangkit dari ranjang rumah sakit, lalu kemudian berjalan perlahan meninggalkan ruangan tersebut. Samuel mengawasi keduanya di belakang. Sementara Dewi, ia berjalan bersisian dengan Samuel.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2