Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 133. Berkebun


__ADS_3

Kabar tertangkapnya Aldo dan Indra pun telah sampai di telinga Fahri dan Arumi. Keduanya sempat tercengang sembari saling melemparkan tatapan bergantian.


"Bukankah kemarin dia ke sini ya, Mas." Arumi menatap Fahri dengan wajah polosnya.


Fahri hanya menimpali ucapan sang istri dengan sebuah anggukan. "Wajar tertangkap kalau mereka melakukan kesalahan. Apalagi berurusan dengan narkoba, hal yang satu itu tak dapat ditolerir. Keharmonisan sebuah rumah tangga bisa saja hancur karena mengkonsumsi obat-obatan itu," ujar Fahri.


"Aku bersyukur, Indra juga masuk penjara," ucap Arumi sembari terkekeh geli.


"Sssttt ...tidak usah membicarakan tentang mereka. Lebih baik kita fokus ke diri kita sendiri saja," ujar Fahri memberikan sarannya.


"Baik, Mas." Arumi pun menuruti ucapan sang suami.


Kedua pasutri itu memanfaatkan waktu liburnya hari ini untuk menanam bunga. Arumi ingin menambah tanaman bunganya yang ada di rumah kaca. Dan Fahri pun selalu siap siaga untuk membantu istrinya itu dalam melakukan hal apapun.


Fahri menyiapkan tanah serta potnya, sementara Arumi wanita tersebut mendapat jatah bagian menanam bunganya. Arumi melakukan hal tersebut dengan suka hati. Sesekali Fahri mendengar istrinya itu bersenandung sembari mengubur bibit bunga dalam bentuk biji-bijian itu.


Wajah Arumi tampak berkeringat, dengan cepat Fahri pun membuka salah satu sarung tangan yang ia kenakan, lalu kemudian merogoh sakunya, menyeka keringat yang membasahi wajah sang istri. Keduanya saling menatap dan saling melemparkan senyum.


Dari kejauhan, beberapa asisten rumah tangga yang memperhatikan kemesraan keduanya pun merasa sangat iri.


"Lihatlah! Tuan Fahri benar-benar suami yang siap siaga. Perhatian beliau kepada Bu Arumi benar-benar besar. Bahkan sedikit pun kesalahan yang dilakukan oleh Bu Arumi tak luput dari pandangannya," ucap pelayan 1


"Iya, aku juga merasa iri dengan keduanya. Mereka selalu terlihat romantis," ujar pelayan 2.


"Tuan Fahri adalah suami idaman. Semoga saja nanti aku dapat suami yang seperti Tuan Fahri, yang penuh perhatian dan penuh kasih sayang," tutur pelayan no 3.


Arumi melemparkan pandangannya ke sembarang arah. Hingga ia pun melihat ketiga asisten rumah tangganya tengah menatap ke arahnya. Saat Arumi melihat ke arah mereka, ketiga orang tersebut pun langsung berpura-pura bekerja, seakan tak memperhatikan keduanya sedari tadi .


"Bik, ..." Arumi berseru sembari melambaikan tangannya.


Ketiga orang itu pun langsung menimpali Arumi.


"Iya, Nyonya."


"Apakah bibi mau menanam bunga bersama kami?" tanya Arumi sembari menunjuk dirinya dan sang suami.


"Mau, Nyonya." ketiga pelayan tersebut menjawab serentak.


"Ya sudah, ayo ke sini!" ajak Arumi sembari melambaikan tangannya.


Ketiga orang tersebut langsung mendatangi Arumi dan Fahri. Mereka pun menanam bunga tersebut sembari bercerita dan tertawa bersama.

__ADS_1


Fahri dan Arumi tak memiliki jarak dengan pelayan yang bekerja di rumahnya. Meskipun sikap Fahri terkadang sedikit menyeramkan saat para pelayan tersebut menjaga istrinya. Namun, tetap saja pria itu dinilai baik di mata semua orang yang bekerja di rumah tersebut.


.....


Setelah melalui tahap interogasi kemarin, serta pengecekan urine yang hasilnya negatif. Sifa pun memilih tinggal kembali bersama dengan ibunya.


Kartika yang mendengar kabar bahwa anak semata wayangnya itu disiksa oleh Aldo, merasa sakit hati. Ia merutuki kebodohannya karena selama ini terlalu mempercayai orang lain dari pada ucapan putrinya sendiri.


Sifa saat itu tengah tertidur pulas. Kartika melihat sudut bibir anaknya yang terluka, membuat wanita paruh baya itu merasa teriris.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu terlalu buta sampai tak mempercayai ucapanmu kemarin," gumam Kartika sembari mengusap surai panjang milik anaknya dengan begitu lembut.


Tak lama kemudian, Sifa pun terbangun karena usapan lembut dari ibunya. Wanita itu mengerjapkan matanya, menatap sang ibu yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya sedikit saja.


"Ada apa, Bu? Kenapa ibu menangis?" tanya Sifa.


Kartika tak bisa membendung air matanya. Wanita itu pun langsung menangis sembari mengusap wajah putrinya.


"Ibu bukanlah ibu yang baik, Nak. Ibu bahkan tak mempercayai ucapanmu sebelumnya. Andaikan saja, kemarin ibu lebih mempercayaimu, mungkin sampai sekarang, kamu tidak akan terluka sampai separah ini," tutur Kartika.


Tangan Sifa terulur mengusap air mata membasahi wajah ibunya. "Bu, Sifa yang mau menikah dengan Aldo. Sifa juga yang harus menanggung konsekuensinya. Ini semua bukan salah ibu, melainkan salah Sifa karena terlalu buta dalam menilai sosok Aldo," beber Sifa.


"Apakah lukanya masih perih, Nak?" tanya Kartika.


Pandangan Kartika beralih pada pergelangan tangan Sifa. Bekas borgol itu, kemerah-merahan dan sedikit memar membuat Kartika tak bisa berkata-kata lagi. Sifa sudah dibuat layaknya seorang hewan oleh Aldo.


"Apakah Aldo berbuat seperti ini karena dasar kecemburuannya?" tanya Kartika.


Sifa pun menganggukkan kepalanya. "Aldo posesif, tapi keposesifannya sudah diluar batas kewajaran. Dia melarangku keluar rumah tanpa ditemani bibi yang bekerja di rumah itu. Dia juga melarangku bekerja dan bergaul dengan teman-teman lamaku," beber Sifa.


Kartika langsung memeluk putrinya. Ia tak sanggup membayangkan betapa tersiksanya Sifa karena ulah Aldo.


"Sudah, Nak. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini bersama ibu. Ibu pastikan kamu akan selalu aman bersama ibu," ujar Kartika dengan lembut.


Sifa pun menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan.


"Ya sudah, kalau begitu lanjutkan tidurmu. Ibu akan memasak terlebih dahulu, supaya nanti saat kamu bangun, kamu bisa langsung makan," ujar Kartika yang mulai beranjak dari tempat tidurnya.


Sifa pun kembali memejamkan matanya. Wanita itu melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.


Kartika mulai melakukan kegiatan memasaknya. Dari memotong sayuran, hingga menggoreng daging. Ia melakukan semua itu dengan sepenuh hati, demi menjaga nutrisi di dalam tubuh putrinya yang malang itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, masakan pun telah terhidang di atas meja. Kartika menata rapi semua makanan di atas meja.


Di waktu yang bersamaan, Sifa baru saja bangun dari tidurnya. Aroma wangi masakan yang tercium, membuat perut Sifa meronta-meronta meminta untuk segera diisi.


Wanita itu pun turun dari kasurnya, lalu kemudian menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, Sifa keluar dari kamarnya lalu menarik salah satu kursi yang ada di hadapannya.


"Kamu sudah bangun? Cepat sekali, Nak."


"Masakan ibu membuatku terbangun. Perutku langsung lapor, makanya aku memilih untuk datang kemari," ujar Sifa memuji ibunya.


"Kamu pandai sekali memuji ibu. Sudah! Ayo segera habiskan makannya," ucap Kartika.


Keduanya pun menikmati hidangan ala-ala rumahan itu. Dengan tenang tanpa ada adu mulut seperti biasanya.


....


Elena menghela napasnya, melihat Samuel yang selalu berada di cafenya. Beberapa kali Elena hendak menghapus semua ingatannya tentang Samuel.


"Terkadang, ia terlihat ikut membalas perasaanku. Namun, setelahnya ia pasti akan kembali pada wanita masa lalunya itu," gerutu Elena.


Elena mencoba untuk tidak menghiraukan Samuel. Namun, Samuel tahu jika saat ini Elena tengah menatap ke arahnya.


"Hei!!" panggil Samuel sembari melambaikan pergelangan tangannya.


Elena sadar akan ucapannya, tampaknya isi kepalanya tidak sinkron dengan tindakan yang dilakukan oleh gadis tersebut.


Bahkan, derap langkah Elena pun semakin cepat untuk menghampiri pria yang selalu ia harapkan agar dapat membalas cintanya kelak.


"Kenapa kamu sedikit acuh kepadaku?" tanya Samuel menatap Elena yang baru saja menjatuhkan bokongnya di tempat ini.


"Aku tidak acuh sama sekali. Hanya perasaanmu saja?" timpal Elena sembari melipat kedua tangannya di depan.


"Ah iya. Kapan kamu berencana mengembalikan uangku?" tanya Elena.


"Mampus! Belum juga satu Minggu, sudah ditagih berkali-kali," gerutu Samuel sembari mengusap tengkuknya yang tak gatal.


"Mana?" tanya Elena menadahkan tangan di depannya.


"Jangan sekarang lah, El. Lagi pula aku seorang pria yang pengangguran," ujar Samuel yang sedang menatap lekat Arumi.


"Huh?! Terlalu banyak alasan!" tukas Elena mendelik kesal.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2