
Samuel berhenti tepat di depan kantor polisi. Pria itu pun langsung turun dari kendaraannya, lalu kemudian masuk ke dalam bangunan tersebut.
Samuel berencana membuat laporan resmi untuk menjebloskan Aldo ke penjara. Selama ini, ia menyimpan rahasia Aldo dengan begitu rapat. Samuel sengaja tidak melaporkan Aldo langsung waktu itu, karena mengingat bahwa dirinya dan Aldo pernah dekat.
Namun, setelah melihat Aldo yang membuka rahasia atas kesepakatan yang pernah ia buat dengan Arumi, Samuel pun memilih untuk tidak menganggap Aldo sebagai teman atau apapun itu.
"Saya kemari untuk membuat laproan, Pak. Terkait barang penyelundupan serta pengedar narkoba," tutur Samuel.
Samuel pun diminta untuk menjelaskan semuanya, dan pria itu pun mulai mengatakan semuanya dengan jelas. Samuel juga memberikan sejumlah bukti video beserta foto yang ia peroleh.
"Baiklah, kalau begitu kami akan segera bergerak ke sana dan membawa surat penangkapan untuknya," ucap polisi tersebut.
"Terima kasih, Pak. Saya harap, anda segera menahan beliau. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Samuel yang kemudian memilih pergi dari tempat tersebut.
"Sebentar lagi kamu akan menikmati mengenakan seragam kuning dan mendengkam di balik jeruji besi," gumam Samuel sembari tersenyum.
Pria tersebut langsung menunggangi kendaraannya, lalu kemudian memacu si hitam kesayangannya untuk pergi dari tempat tersebut.
....
Sifa merasa benar-benar muak sudah beberapa hari ini, gadis itu dikurung di kamar tersebut. Saat malam harinya, Aldo melepaskan Sifa. Namun, pria itu tak melepaskan borgol Sifa. Aldo memilih untuk memasangkan juga borgol di tangannya, agar ia tahu pergerakan dari sang istri, yang tentu saja membuat Sifa merasa benar-benar muak dengan sikap suaminya itu.
Aldo saat itu tengah mengecek barang-barang tersebut di tata sedemikian rupa. Setelah selesai memasukkan barang terlarang itu,
Tak lama kemudian, mobil Fortuner berwarna hitam pun tiba. Aldo mengulas senyumnya, memberikan kode pada anak buahnya yang berjaga di gerbang, untuk memperbolehkan mobil tersebut masuk.
Mobil tersebut terparkir sejajar dengan mobil box pengangkut barang yang dijadikan bisnis oleh Aldo. Tak lama kemudian, dua orang pria pun keluar dari dalam mobil tersebut yang tak lain adalah Indra dan Roy.
"Wah ... wah ... usahamu sepertinya semakin berkembang. Lihatlah! barang-barang yang ada di gudang itu memiliki nilai milyaran rupiah," ujar Indra.
"Haha ... bapak bisa saja," ucap Aldo.
Indra melangkah lebih dekat dengan gudang tersebut. Ia melihat ada banyak barang terlarang itu dibungkus menggunakan kardus berukuran sedang.
"Apakah kamu sudah menyiapkan punyaku?" tanya Indra sembari menaikkan alisnya sebelah.
__ADS_1
"Tentu saja, Pak Indra."
Aldo berjalan menghampiri mobilnya, lalu kemudian masuk ke dalam mobil tersebut. Pria itu kembali keluar dengan membawa kardus yang berukuran sedang yang ia sisihkan terlebih dahulu.
"Ini punya bapak," ujar Aldo dengan begitu bersemangat.
Indra melirik Roy, memberikan kode pada pria tersebut untuk mengambil sesuatu yang diberikan oleh Aldo. Roy pun menerima barang itu.
"Uangnya sudah saya transfer. Lain kali saya akan memesannya lagi padamu," ujar Indra.
Di waktu yang bersamaan, sebuah mobil buser beserta anggota polisi lainnya tengah dalam perjalanan menuju ke rumah Aldo.
Mobil itu pun berhenti tak jauh dari rumah Aldo. Beberapa anggota polisi lainnya berjaga di sekeliling rumah tersebut, untuk mengantisipasi jika ada dari mereka yang hendak melarikan diri.
Lima orang Buser pun langsung berjalan menuju ke gerbang. Ia melihat ada beberapa orang yang tengah berjaga di pintu gerbang tersebut.
"Benarkah ini rumah Saudara Aldo?" tanya salah satu dari mereka.
Penjaga tersebut saling melirik satu sama lain. Dan diantara mereka pun langsung menjawab pertanyaan tadi.
"Benarkah?" tanya pria berambut ikal di kuncir yang diketahui adalah salah satu dari anggota Buser. Pria itu menatap keduanya dengan penuh curiga.
Tak lama kemudian, dua penjaga gerbang tersebut langsung mengunci pintu gerbang itu. Mereka pun lari terbirit-birit untuk menghampiri Aldo.
"Bos ... bos ...," seru salah satu dari penjaga gerbang tersebut.
Aldo yang tengah berbincang dengan Indra pun pandangannya langsung teralihkan pada dua penjaga gerbang yang tengah berlari.
"Bodoh! Kenapa kalian tidak menjaga pintu gerbang!!" cecar Aldo memarahi anak buahnya.
"Di depan ... di depan a-ada polisi, Bos." salah satu mereka memberitahukan pada Aldo dengan terbata-bata.
"Sial!!" ucap Aldo yang langsung berlari.
Begitu pula dengan yang lainnya, termasuk Indra dan Roy yang memilih untuk mencari tempat kabur, karena mustahil jika mereka harus kabur melalui pintu depan.
__ADS_1
Terlihat beberapa anggota yang berhasil menerobos masuk, rela memanjat gerbang tinggi itu. Suasana di rumah Aldo pun menjadi ricuh. Aksi kejar-kejaran, serta tembakan peringatan pun terdengar beberapa kali.
Sifa yang saat itu berada di dalam kamar, mendengar tembakan tersebut. Ia hendak melihat ke luar, akan tetapi tangannya diborgol yang langsung dikaitkan dengan besi ranjangnya. Hingga wanita tersebut hanya bisa berteriak tanpa bisa melakukan apapun.
Beberapa orang yang ada di sana berhasil diringkus oleh polisi termasuk Roy, karena pria tersebut tak bisa berlari cepat seperti Aldo dan Indra.
Aldo memanjat tembok, ia melihat ada banyak polisi yang telah mengepung rumahnya. Hingga kedua pria tersebut tak bisa berlari kemana-mana lagi.
Indra dan Aldo hanya pasrah sembari mengangkat tangan mereka pertanda menyerah. Beberapa anggota pun langsung memborgol keduanya, lalu kemudian membawa Aldo dan Indra ke kantor untuk dilakukan interogasi.
Beberapa polisi yang tersisa menggeledah rumah tersebut. Mereka menemukan ada banyak narkoba yang di simpan di dalam gudang. Semua barang itu pun langsung dikeluarkan hingga tak tersisa, di bawa langsung ke kantor polisi.
"Geledah juga rumahnya!" ujar salah satu buser meneriaki anggotanya.
"Siap, Laksanakan!"
Mereka pun langsung segera memasuki rumah. Sesampainya disana, polisi langsung memeriksa isi dalam rumah tersebut. Ia mendapati seorang wanita yang tengah bersembunyi di bawah kolong meja.
Pelayan rumah Aldo pun langsung terkejut saat polisi berhasil menemukannya. "Maafkan saya, Pak polisi. Saya tidak bersalah. Saya hanya bekerja saja di tempat ini," ujar pelayan tersebut dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
"Jelaskan nanti saja saat berada di kantor," ucap anggota polisi tersebut.
Beberapa polisi lainnya naik ke lantai atas. Saat hendak menggeledah ke kamar, polisi tersebut menemukan keberadaan seorang wanita yang tengah di borgol yang ada di kamar tersebut.
"Tolong saya," cicit Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.
Beberapa anggota polisi pun membantu Sifa. Mereka sedikit kesusahan karena borgol tersebut tidak diketahui letak dimana tempat kunci yang disembunyikan oleh Aldo.
Sifa merasa senang. Karena akhir-akhir ini wanita itu selalu dikurung di dalam kamar oleh suaminya . Dan kini, Sifa dapat kembali menghirup udara segarr tanpa takut lagi karena Aldo sudah berada di balik jeruji besi tersebut.
"Ibu akan saya bawa ke kantor polisi untuk dimintai sejumlah keterangan," tutur salah satu polisi yang membantu Sifa berjalan.
"Tidak masalah, Pak. Saya akan memberikan keterangan tanpa merekayasanya," ujar Sifa.
Bersambung ....
__ADS_1