Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 173. Makan Siang


__ADS_3

Arumi bersiap-siap untuk pergi ke luar. Wanita itu berencana mengantarkan makan siang untuk suaminya. Sebelumnya Arumi juga memesan banyak makanan pada Sifa, yang akan ia bagikan kepada para pegawai yang ada di kantor.


Arumi meraih kunci mobilnya di atas nakas, lalu kemudian mengambil tas jinjing yang diletakkan di kursi. Wanita itu pun melenggang keluar pergi dari kamarnya.


Setelah tertangkapnya Dewi, Arumi tidak lagi khawatir akan bepergian, begitu pula dengan Fahri. Memang biang kerok yang sesungguhnya adalah Dewi, dan kini wanita itu sudah tertangkap oleh polisi.


Sesampainya di depan rumah, Arumi berjalan menghampiri mobilnya. Pak Rahmat yang sudah siap di depan pun menyambut majikannya itu.


"Selamat siang, Nyonya. Apakah Nyonya ingin saya antarkan untuk bepergian?" Pak Rahmat menawarkan diri.


"Tidak usah, Pak. Saya pergi sendirian saja. Pak Rahmat berjaga di rumah saja ya," ujar Arumi sembari mengulas senyumnya.


"Baik, Nyonya."


Pak Rahmat langsung pamit undur diri dari hadapan majikannya itu. Arumi pun segera masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin kendaraan tersebut, lalu kemudian melajukannya menuju ke jalanan.


Arumi menempuh perjalanan menuju ke kontrakan Sifa. Wanita itu sudah tak lagi menempati apartemennya karena memang tidak mampu lagi untuk membayar sewa hunian tersebut.


Sifa mengirimkan alamatnya saat saling berkirim pesan pada Arumi. Karena memang pesanan Arumi yang lumayan banyak, Arumi menawarkan diri untuk menjemput sendiri pesanan makanannya, Sifa tak perlu repot-repot untuk mengantarnya.


Tak lama kemudian, mobil Arumi pun terhenti tepat di depan lorong, tak jauh dari kontrakan Sifa. Wanita itu turun dari mobilnya, lalu kemudian masuk ke lorong tersebut untuk menemui Sifa.


Tak lama kemudian, ia pun bertemu dengan sebuah rumah berderetan dengan bercat warna putih. Urutan deret pertama merupakan tempat tinggal Sifa.


Arumi mengetuk pintu rumah Sifa. Beberapa kali ia mengetuk, tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar membukakan pintu.


"Sifanya ada, Bu?" tanya Arumi dengan sopan.


"Ada di dalam. Ini Nak Arumi ya?" tanya Kartika.


"Benar Bu." Arumi menyunggingkan senyumnya.


"Ayo silakan masuk," ujar Kartika menyambut kedatangan Arumi dengan begitu ramah.


Arumi pun mengangguk pelan, lalu kemudian melepaskan alas kakinya untuk masuk ke dalam rumah Sifa. Bu Kartika mempersilakan untuk Arumi duduk di kursi yang ada di ruang tengah.


"Maaf, kursi kami hanya plastik. Tidak ada kursi yang empuk di sini," ujar Kartika.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya tetap nyaman duduk di sini," timpal Arumi yang memang dapat memaklumi kondisi keluarga Sifa saat ini.


Mulai dari situ Kartika bisa menangkap, meskipun Arumi adalah orang kaya, wanita itu bisa menyesuaikan dirinya saat berada dimana saja.


"Wajar saja jika Fahri begitu bahagia hidup dengan wanita ini. Istrinya yang sekarang memang baik dan tidak memiliki gengsi yang tinggi. Sikapnya sangat berbeda dengan Sifa dulu yang selalu memiliki selera tinggi," batin Kartika.


Tak lama kemudian, Sifa datang dari dapur. Ia pun tersenyum menyambut kedatangan Arumi. Menengahi secangkir teh serta camilan untuk Arumi.


"Di minum dulu," tawar Sifa pada tamunya itu.


"Ya ampun, tidak usah repot-repot," ucap Arumi.


"Kami tidak merasa direpotkan sama sekali. Justru kami senang karena kamu mau datang berkunjung ke sini," ujar Sifa.

__ADS_1


Arumi pun menyambut teh hangat tersebut, laku menyesapnya. Ia juga memakan camilan yang dibawakan oleh Sifa. Karena memang adab bertamu seperti itu. Meskipun dalam kondisi merasa kenyang sekalipun, setidaknya kita menikmati apa yang telah disuguhkan oleh tuan rumah.


Mereka berbincang-bincang sejenak. Sifa sempat heran dan menanyakan kondisi anak Arumi karena melihat perut wanita itu tak lagi buncit. Saat Arumi memberitahukannya pada Sifa, wanita itu langsung terkejut. Lalu pandangannya pun menyendu.


"Aku minta maaf karena telah membuatmu kembali bersedih. Sungguh, aku tidak tahu jika kamu mengalami keguguran," ujar Sifa merasa bersalah.


"Tidak apa-apa," ucap Arumi sembari menyeka air matanya yang sempat terjatuh.


Arumi melihat arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya. Ia pun membelalakkan mata karena telah lupa waktu berbincang dengan Sifa.


"Astaga, aku sampai lupa waktu. Aku harus membawa makanan-makanan itu ke kantor untuk dibagi-bagikan kepada pegawai yang ada di kantor," ujar Arumi.


"Berapa totalnya?" tanya Arumi yang langsung mengeluarkan dompet di dalam tasnya.


Sifa pun menyebutkan total uang yang harus dibayar oleh Arumi. Arumi langsung menyerahkan uang cash pada Sifa.


"Ini terlalu banyak," protes Sifa saat Arumi memberikan uang lebih padanya.


"Tidak apa-apa, simpan saja. Besok aku akan pesan lagi ya, sama seperti pesanan hari ini," ujar Arumi.


Sifa mengangguk, matanya berkaca-kaca karena Arumi memesan dalam jumlah yang banyak, itu berarti keesokan harinya jualannya akan kembali laris manis.


Arumi membawa pesanannya menyusuri lorong, dibantu dengan Kartika dan Sifa. Setelah selesai, Arumi pun langsung berpamitan pulang. Sifa dan Kartika mengantarkan kepergian Arumi, hingga mobil yang dikendarai oleh wanita itu tak terlihat lagi.


"Aku kira dia akan memusuhimu, rupanya wanita itu benar-benar baik," ujar Kartika.


"Iya, Bu. Dia sangat baik, tidak salah jika Arumi dan Mas Fahri berjodoh, karena mereka sama-sama orang yang baik," ucap Sifa.


Kartika tersenyum, lalu kemudian mengajak putrinya untuk kembali ke rumahnya. Kedua wanita berbeda generasi itu pun berjalan bersama menuju ke rumah.


Arumi tengah mengendarai mobilnya. Ia pun menyematkan salah satu earphone di telinganya. Lalu kemudian menelepon sang suami yang saat ini tengah sibuk di kantor. Tak lama kemudian, panggilannya pun terhubung. Terdengar suara bariton suaminya dari seberang telepon tersebut.


"Mas, Aku sedang dalam perjalanan menuju ke kantor," ujar Arumi memberitahukan hal tersebut pada suaminya.


"Mas Fahri jangan pesan makan siang dulu, aku sudah membawakan makan siang untuk Mas Fahri serta staf yang lainnya," lanjut Arumi.


"Baiklah, Mas akan menunggu kedatanganmu," timpal Fahri.


"Sekarang Mas sedang apa?" tanya Arumi.


"Mas masih mengecek laporan keuangan bulan ini," timpal Fahri.


"Ya sudah, kalau begitu bekerjalah. Tak akan lama lagi aku tiba di kantor."


Arumi pun menutup panggilan telepon tersebut. Ia melepaskan earphone yang terpasang di telinganya. Lalu kemudian kembali memfokuskan pandangannya menuju ke jalanan.


Setelah cukup lama.menenpuh perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Arumi pun tiba di kantor. Satpam yang melihat kedatangan Arumi pun langsung antusias membukakan pintu untuk atasannya yang sudah lama tak terlihat itu.


"Selamat siang, Bu Arumi. Saya sangat senang kembali melihat Bu Arumi datang ke kantor," ujar Satpam tersebut sembari menyunggingkan senyum ramahnya.


"Sepertinya Pak ...." Arumi membaca name tag yang ada di baju satpam tersebut.

__ADS_1


"Ah iya, Pak Andi. Sepertinya Pak Andi sangat merindukan saya," ujar Arumi.


"Tentu saja, Bu."


Arumi turun dari mobilnya, lalu kemudian membuka pintu bagian belakang, sembari mengeluarkan banyak makanan dari dalam mobilnya itu.


"Pak Andi, saya boleh minta bantuan?" tanya Arumi.


"Sangat boleh, Bu Arumi. Saya akan selalu bersedia untuk membantu ibu," ucap satpam tersebut.


"Bisakah Pak Andi membantu saya membagi-bagikan makanan ini kepada para pegawai?" tanya Arumi lagi.


"Baik, Bu. Siap laksanakan!" tegas satpam tersebut.


Ia pun memanggil temannya yang juga berjaga untuk membantunya membawakan makanan tersebut. Arumi tersenyum melihat satpam-satpam itu membawa makanan tersebut sembari bergurau.


"Bagikanlah ya, Pak. Jangan lupa sisihkan juga punya kalian," ucap Arumi.


"Siap, Bu Arumi!" mereka serentak menjawab.


Arumi pun melangkah pergi dari tempat itu, membawa satu kotak untuk makan siang suaminya di ruangan nanti.


Arumi memasuki lift, beberapa karyawan kantor menyapanya sembari mengucapkan terima kasih karena telah dibelikan makan siang oleh atasannya itu.


Arumi hanya tersenyum sembari mengangguk, tak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Arumi.langsumh keluar dari ruangan sempit itu menuju ke ruangan suaminya.


Setibanya di depan pintu, Arumi mengetuk pintunya sejenak lalu kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia melihat suaminya bersama dengan Doni sang sekretaris tengah berada di sana.


Setelah mendapatkan tanda tangan dari Fahri, Doni pun pamit undur diri. Pria itu menyapa Arumi sebelum keluar dan Arumi pun tersenyum membalas sapaan dari Doni.


Fahri melihat istrinya yang baru saja tiba, pria itu langsung beranjak dari tempat duduk, lalu kemudian menghampiri Arumi dan memeluknya.


"Perutku terasa perih sedari tadi menunggu istriku tiba. Ku kira aku lapar, akan tetapi aku lapar karena melihat wajah cantik dari istriku. Setelah memelukmu seperti ini, aku tiba-tiba merasa kenyang," tutur Fahri.


Arumi terkekeh, lalu kemudian mencubit lengan suaminya dengan pelan. "Ini ... aku bawakan makan siang untukmu. Makanlah!" ujar Arumi seraya membawa suaminya itu menuju ke kursi.


Arumi pun membuka kotak makanan tersebut, lalu kemudian mengambil alat makan yang tersedia di kotak tersebut, menyuapkannya pada sang suami.


"Enak?" tanya Arumi.


"Enak sekali. Besok bawakan lagi makanan yang seperti ini," ujar Fahri yang kembali membuka mulutnya merasa ketagihan akan makanan tersebut.


"Di mana kamu membelinya?" tanya Fahri.


"Aku membelinya dengan Sifa, mantan istrimu."


Uhukkk ...


Mata Fahri membelalak, dan pria itu pun terbatuk-batuk.


Bersambung ....

__ADS_1


Dicekokin masakan sang mantan, rasanya masih sedap bang?🤣


Hari Senin nih, vote dunggg🤭


__ADS_2