Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 9. Suara Itu ...


__ADS_3

Sifa dan Aldo baru saja keluar dari resto. Keduanya tampak berbincang dan saling mengulas senyum.


"Mari aku antar," tawar Aldo.


"Tidak usah! Aku naik taksi saja," tolak Sifa.


"Ada apa? Apa kamu takut jika suamimu mendapati istrinya sedang bersama pria lain?" tanya Aldo.


Sifa pun perlahan menganggukkan kepalanya.


Aldo langsung terkekeh mendengar pengakuan dari wanita cantik yang ada di hadapannya. "Sepertinya suamimu tidak tahu jika kita bertemu secara diam-diam seperti ini," ujar Aldo.


Sifa kembali menganggukkan kepalanya dengan tersenyum malu.


"Sifa, asal kamu tahu. Cintaku padamu tak berubah sedikit pun. Jadi, aku akan menunggumu," ucap Aldo seraya memegang kedua bahu Sifa.


Wanita itu terdiam sembari menatap wajah mantan kekasihnya dulu. Aldo adalah pria yang ia cintai sebelum pertemuannya dengan Fahri. Saat itu, Sifa menangis tersedu karena diputuskan oleh Aldo tanpa sebab. Padahal, saat itu dirinya sangat mencintai Aldo. Hingga Fahri datang, mengobati luka yang pernah ditorehkan oleh pria itu. Namun, kenapa Aldo tiba-tiba muncul dan membuatnya semakin bimbang. Sifa tak bisa menampiknya, ia masih memiliki rasa yang sama pada mantan kekasihnya itu.


"Kamu kenapa melamun?" tanya Aldo seraya menyentuh puncak hidung Sifa.


Sifa yang baru saja tersadar dari lamunannya, tiba-tiba langsung bersemu merah saat mendapati sikap manis yang pernah Aldo perlihatkan padanya di waktu dulu.


"Ya sudah, kalau begitu kamu pulanglah! Jangan lupa kirim pesan singkat padaku setelah tiba di rumah, agar aku tak terlalu mengkhawatirkanmu," ucap Aldo seraya mengusap puncak kepala Sifa.


Pria itu menghadang taksi, lalu kemudian membukakan pintu taksi yang telah berhenti di depan mereka. Aldo membukakan pintu untuk Sifa, wanita tersebut memasuki taksi itu, lalu kemudian melambaikan tangannya saat mobil taksi mulai melaju.


....


Arumi baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu berencana untuk pergi ke dapur, mengambil segelas air minum untuk dirinya.


Sesampainya di dapur, Arumi menuangkan air minum ke gelas yang kosong hingga terisi penuh. Saat ia hendak kembali ke kamarnya, samar-samar Arumi mendengarkan suara lenguhan kecil dari ruang tengah.


Pranggg ...

__ADS_1


Terdengar suara benda pecah dari ruangan tersebut. Arumi mengernyitkan keningnya. Lalu kemudian ia memilih berjalan mendekati sumber suara benda jatuh tadi. Ia cukup terkejut saat mendapati ibunya yang tengah berciuman dengan seorang pria. Dan yang lebih memancing emosi Arumi adalah foto ayahnya yang jatuh dan pecah, seakan tak dihiraukan oleh kedua orang yang tengah menikmati cumbuan mereka.


"Mama!!" seru Arumi.


Sontak saja kedua pasangan itu terkejut dan langsung menghentikan aktivitas mereka. Arumi melemparkan gelas berisi air yang ada di tangannya hingga serpihan kaca itu berhamburan.


"Apakah kalian masih menyebut diri kalian itu manusia, hah?! Lihat! Foto papa terjatuh dan pecah, akan tetapi kalian masih melanjutkan cumbuan kalian. Apakah mama punya hati nurani?" tukas Arumi dengan mata yang berkaca-kaca.


Arumi berlalu dari hadapan kedua orang yang sedari tadi hanya menunduk malu. Dengan air mata yang berjatuhan, Arumi memungut foto ayahnya. Gadis itu mengepalkan tangannya tanpa sadar bahwa saat ini ia meremas salah satu serpihan kaca yang ada di tangannya. Setetes demi setetes cairan berwarna merah pekat jatuh ke lantai.


"Arumi, ..." ibunya memanggil nama Arumi saat melihat tangan anak gadisnya terluka.


Arumi mendelik, menatap kedua orang itu seakan ingin menghabisinya saat itu juga. "Kalian berdua adalah manusia hina," ujar gadis itu sembari memeluk foto ayahnya.


"Jika kamu bukan ibuku, aku sudah lama membunuhmu!" kecam Arumi seraya menatap ibunya dengan tajam.


"Dan kamu, sebaiknya lekaslah pergi, atau aku yang akan menghabisimu!" Arumi menatap pria yang sedang bersama ibunya itu dengan nyalang.


"Bibi ... bibi ...," teriak Arumi.


Keempat asisten rumah tangga tersebut langsung terbirit-birit lari menghampiri Arumi.


"Bersihkan kekacauan ini," tunjuk Arumi pada serpihan kaca yang berserakan.


"Jika kalian menemukan hal yang tidak senonoh di dalam rumah ini, pukul saja dengan sapu. Hanya sepasang binatang lah yang bercinta di tempat umum," ujar Arumi.


"Aku ibumu, kau harus ingat itu!" ucap wanita paruh baya itu.


"Kamu memang ibuku, tapi kamu gagal menjadi ibu yang baik," tukas Arumi yang kemudian berlalu dari tempat tersebut.


Gadis itu kembali ke kamarnya. Ia mengambil salah satu fotonya di atas nakas, lalu kemudian mengganti bingkai foto miliknya dengan foto ayahnya. Arumi meletakkan foto ayahnya dengan sangat hati-hati.


"Maafkan aku, Pa. Aku tidak bisa menyadarkan mama," gumam Arumi.

__ADS_1


....


Jam kerja Fahri sudah habis. Pemilik toko membayar uang Fahri langsung di muka. Pria itu memilih untuk dibayar perhari saat ia datang dan disesuaikan dengan jam kerjanya.


Fahri keluar dari toserba sembari membawa tas kerjanya. Sepulang dari kantor, ia langsung menuju ke toserba tanpa pulang dulu ke rumah.


Pria itu menyusuri jalanan malam. Semakin malam, suasana ibu kota semakin ramai. Lampu warna-warni tampak menghiasi malam itu. Fahri berjalan menuju ke rumahnya dengan sesekali mengembangkan senyumnya.


Di waktu yang bersamaan, Arumi memilih keluar untuk mencari udara segar. Suasana di rumah terlalu menyesakkan baginya. Dengan langkah gontai, Arumi menyusuri jalanan malam itu. Ia membutuhkan sebuah ketenangan yang tak didapatkan di dalam rumah.


Arumi melangkahkan kakinya, berpapasan dengan beberapa orang. Gadis itu bahkan tak menghiraukan mereka yang sempat menabraknya. Pikirannya melayang, sementara hatinya masih merasakan sakit yang teramat dalam.


Bagaimana tidak? Sejak kepergian ayahnya, Arumi seakan tidak dipedulikan lagi oleh ibunya. Wanita itu sibuk mengurus teman ranjangnya saja, menuntaskan hasratnya yang seakan sangat haus akan belaian.


Mengingat itu semua, Arumi benar-benar merasa marah dan sedih secara bersamaan. "Kenapa semuanya seakan tak adil bagiku," batinnya.


Dengan mata yang berkaca-kaca, gadis itu tetap melanjutkan langkahnya. Pandangannya lurus ke depan, hatinya semakin berkecamuk. Tak lama kemudian ...


BRAKKK ...


Seseorang menabrak bahunya hingga membuat Arumi terjatuh. Arumi mengepalkan tangannya sembari tertunduk. Ia mencoba bangkit sendirian, akan tetapi tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depannya, mengulurkan tangan untuk membantunya.


Arumi mengabaikan tangan itu. Ia melihat sepatu berwarna hitam sedikit mengkilap berdiri di depannya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" terdengar suara berat dari sosok yang ada di hadapannya.


Arumi tertegun saat mendengarnya. Seakan membawa gadis itu pada peristiwa beberapa tahun yang lalu.


"Suara itu ...," batin Arumi.


Perlahan Arumi pun mendongakkan kepalanya. Melihat dengan seksama pria yang ada di hadapannya. Mata keduanya bertemu, tatapan pria itu masih sama dengan beberapa tahun lalu, saat membantu Arumi menempuh jalan yang sulit.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2