Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 144. Mempertahankan


__ADS_3

Kartika melirik ke arah anaknya yang tengah berurai air mata. Tanpa di sadari, mata Kartika mulai berkaca-kaca. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu kemudian melemparkan pandangannya ke arah lain.


Dokter Joe merasa tidak enak berada di antara mereka. Bukan tak tahu, tetangganya itu memang sudah mendengar kabar tentang kejadian yang menimpa keluarga Bu Kartika.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu." Dokter Joe pun berpamitan.


Kartika segera menyeka air matanya, lalu kemudian mengantarkan Dokter Joe hingga ke pintu. "Terima kasih, Dok." Kartika berucap sembari mengulas senyumnya.


"Sama-sama, Bu." Dokter Joe pun keluar dari rumah tersebut.


Setelah mengantarkan dokter tadi, Kartika kembali berjalan menuju ke kamar tempat anaknya tengah berbaring. Ia melihat Sifa menangis, membuat hatinya begitu terasa sakit.


"Bu, biarkan aku mempertahankannya, Bu."


Kartika membuang muka, akan tetapi ia tetap menyelimuti tubuh anaknya hingga sebatas dada. Saat wanita itu hendak beranjak pergi, Sifa pun langsung bangkit dari pembaringannya, lalu kemudian memeluk Kartika dari belakang.


"Aku tahu, ibu tidak akan tega melakukan hal itu. Aku tahu, ibu akan menerimanya kelak setelah dia tumbuh menjadi anak yang baik," ujar Sifa sembari sesegukan.


"Anak yang baik? Dia itu berasal dari bibit yang tidak baik. Ayahnya seorang pecandu dan sekarang masih mendekam di penjara. Dua belas tahun kamu akan menunggu Aldo keluar dari tahanan. Belum tentu dia akan menjadi baik setelah keluar dari sana," tukas Kartika seraya mendengkus kesal.


"Aku yakin, Bu. Aku yakin dia akan menjadi pria yang baik setelah ini. Aku sanggup menanggung semuanya, anggap saja ini adalah karma untukku karena pernah durhaka pada suamiku terdahulu. Aldo bersikap kasar juga karena salahku yang membandingkannya dengan Mas Fahri," tutur Sifa panjang lebar.


Kartika memilih untuk melepaskan tangan Sifa yang melingkar di pinggangnya. Namun, semakin Kartika hendak melepaskannya, semakin erat putrinya itu memeluknya.


"Aku tidak akan melepaskan pelukanku sampai ibu berhenti melarangku untuk mempertahankan anak ini," ancam Sifa.


"Terserah kamu saja, lepaskan aku!" ketus Kartika.


Sifa pun tersenyum, lalu wanita itu melepaskan rangkulannya dari sang ibu. Kartika menoleh sejenak, melihat Sifa yang mengulas senyum padanya. Wanita paruh baya itu masih menatap Sifa dengan pandangan tak suka, lalu kemudian segera pergi dari kamar tersebut.


Sifa kembali berbaring ke atas kasur. Dengan matanya yang sayu, ia menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


"Saat aku mengambil langkah untuk tetap bersama atau memilih untuk berpisah. Tuhan meyakinkanku dengan menghadirkan seorang malaikat kecil diantara kami. Mendengar ucapan dari dokter bahwa aku akan segera menjadi ibu, membuatku merasa memiliki sebuah kebanggan tersendiri."


"Selama ini aku terlalu menganggap remeh, mengesampingkan hadirnya sang buah hati hanya karena himpitan ekonomi yang belum memadai. Namun, setelah kabar itu datang menghampiri, tak bisa dipungkiri aku merasa begitu senang. Dan Tuhan meyakinkanku bahwa langkah yang ku ambil adalah mempertahankan keutuhan rumah tanggaku, Tuhan mengujiku agar sabar menunggu suamiku yang saat ini tengah menjalani hukuman atas perbuatannya, dan kesendirianku disini adalah hukuman untukku karena telah durhaka pada suamiku."


Sifa sedari tadi berucap di dalam hati, ia mengelus perutnya yang masih rata. Ada malaikat kecil yang saat ini tengah bersemayam di dalam rahimnya.


"Kita tunggu papa sampai bebas ya, Nak. Kamu dan mama harus sama-sama kuat dan sabar, supaya papa bisa benar-benar berubah sepenuhnya. Kita berikan kesempatan kedua untuk papa," gumam Sifa bermonolog.


Sementara dari kejauhan, Kartika tengah mengintip melalui bibir pintu. Ia berusaha menutup mulutnya agar isak tangisnya tak di dengar oleh putrinya.


"Maafkan ibu, Nak. Semua ini karena ibu yang menyuruhmu lebih memilih Aldo dari pada Fahri. Jika saja, dulu kamu tetap dengan Fahri, mungkin kamu tidak akan menderita seperti ini," lirih Kartika.


......


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Pak Rahmat pun tiba di hotel. Fahri dan Arumi langsung turun, diikuti pula dengan Pak Rahmat dari belakang, yang membantu Fahri membawa satu koper yang ada di tangannya, serta tas ransel yang berisikan baju-baju miliknya .


Fahri menghampiri resepsionis yang berjaga, meminta dua kunci kamar yang sudah dibooking sebelum ia berangkat kesini.


Setelah mendapatkan kunci tersebut, Fahri beserta yang lainnya langsung menuju ke kamar. Pria itu menyerahkan satu kunci kamar untuk Pak Rahmat yang akan ditempati oleh pria itu nanti.


"Baik, Tuan."


Pak Rahmat mengambil kunci yang diberikan oleh Fahri, lalu ia pun berpisah dari kedua majikannya itu.


"Sayang, bukalah pintunya. Aku sangat mengantuk," gerutu Arumi yang sedari tadi mengerutkan keningnya karena dibangunkan saat sedang terlelap tidur.


"Baik, Sayang." Fahri mencubit sebentar pipi gembul Arumi, ia pun langsung membuka kunci kamar tersebut.


Ibu hamil itu melenggang lebih dulu, menuju ke tempat tidur dan langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur tersebut.


Sementara Fahri, ia menarik kedua koper bawaannya tadi, lalu kemudian meletakkan koper itu di sudut. Saat ia berbalik menatap sang istri, ia melihat Arumi sudah kembali tertidur pulas di atas kasur.

__ADS_1


Fahri tersenyum sembari melangkahkan kaki untuk menghampiri istri tercintanya. Ia melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki Arumi. Pria itu pun sedikit membenahi posisi tidur istrinya, lalu kemudian memberikan bantal sebagai alas kepala Arumi agar lehernya tidak sakit.


"Maaf ya istriku, kamu harus kelelahan seperti ini demi ikut bersamaku," gumam Fahri sembari mengusap puncak kepala istrinya.


"Aku takut, jika kamu jauh dariku. Aku takut ibu tirimu akan muncul saat aku tak ada di sampingmu dan langsung mencelakaimu seperti halnya ia mencelakai ayahmu dulu," batin Fahri.


Fahri beranjak dari tempat duduknya. Ia pun memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum ikut bergabung bersama istrinya yang sedang terlelap.


Selang sepuluh menit kemudian, Fahri sudah terlihat segar dengan wajah yang lebih fresh dari sebelumnya. Pria itu mengenakan bathrobe, sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Fahri menatap ke luar jendela kaca. Tempat itu terlihat sangat indah saat menjelang malam hari. Lamunan Fahri pun buyar seketika saat mendengar ponselnya berdering. Ia langsung meraih benda pipih itu di atas nakas, melihat sejenak siapa yang meneleponnya, lalu kemudian mengusap layar tersebut untuk mengangkat panggilan itu.


"Ada apa, Sam?" tanya Fahri pada Samuel dari seberang telepon.


"Kalian sudah sampai?" tanya Samuel.


"Sudah. Bagaimana kondisi lukamu, apakah sudah agak mendingan?" tanya Fahri yang sedikit berbisik sembari melemparkan pandangannya pada sang istri sejenak.


"Sudah agak mendingan. Lagi pula, ini tidak terlalu serius. Jadi mungkin tidak akan memakan waktu yang lama untuk sembuh," timpal Samuel.


"Dimana istrimu?" lanjut pria itu.


"Dia sedang tertidur, sebenarnya aku tidak tega membawanya kemari untuk ikut bersamaku, karena itu akan menyita waktu istirahatnya. Akan tetapi aku ragu meninggalkannya sendirian di rumah," papar Fahri.


"Ya ... lebih baik seperti itu. Aku hanya memastikan saja bahwa kalian sampai dengan selamat. Kalau begitu, aku tutup teleponnya," ucap Samuel.


"Iya. Jangan lupa untuk selalu mengobati lukamu," ujar Fahri.


"Siap."


Tak lama kemudian, panggilan pun terputus. Fahri berbalik, seketika ia terkejut melihat Arumi yang tengah berdiri menatapnya penuh curiga.

__ADS_1


"Siapa yang kamu telepon, Mas?" tanya wanita itu.


Bersambung ....


__ADS_2