Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 139. Antara Gula Dan Gila


__ADS_3

Indra menggeram kesal saat mendapati kabar bahwa semua aset berharganya pindah ke tangan Dewi. Wanita itu tampaknya lebih leluasa menguras habis semua yang dimiliki oleh Indra.


Awalnya Indra memang tidak memiliki apa-apa. Namun, saat Dewi mengajaknya untuk bersekongkol, Indra pun mendapatkan cipratan dari kekayaan Fian Aryaduta. Dewi juga yang menjanjikan kedudukan tertinggi untuk Indra, agar keponakannya itu bisa membantu melancarkan aksinya.


Selain Sugeng, Indra memang memegang kunci dari rahasia Dewi. Akan tetapi, karena dirinya berada di dalam tahanan dengan tidak memegang ponsel sama sekali, Indra pun kehilangan semuanya. Tak hanya harta saja, bukti tentang kejahatan Dewi pun langsung lenyap seketika.


"Tunggu saja, Tante. Tunggulah beberapa tahun lagi, dan aku akan membalas semua perbuatan Tante," lirih Indra.


Sejak kejadian Aldo, Indra, dan Roy masuk ke penjara, Dewi seperti manusia setengah hantu. Sulit dilihat namun tetap berkeliaran.


Dewi memilih untuk menyendiri terlebih dahulu. Jika keluar, ia menutupi sebagian wajahnya agar tak dikenali.


Bagaimana pun juga, belum aman bagi Dewi untuk menampakkan diri. Ia masih merasa sedikit takut, karena kasus tentang kebakaran gudang tersebut masih dalam penyelidikan polisi.


....


Samuel baru saja menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sedikit merapikan penampilannya, setelah dirasa cukup, Samuel pun langsung pergi ke luar dan menunggangi sepeda motor kesayangannya yang baru saja keluar dari bengkel kemarin.


Cukup lama berada di perjalanan, memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian, lampu lalu lintas pun berwarna merah. Samuel memberhentikan motornya, lalu kemudian mengarahkan pandangannya ke arah samping.


Ada dua gadis yang melihatnya sedari tadi. Kedua gadis itu tampak berbisik-bisik lalu kemudian tertawa kecil.


Samuel kaca helmnya. Ia pun mengerling nakal pada dua gadis yang sedari tadi menatapnya. Kedua gadis itu pun menundukkan kepalanya sembari mengulas senyum, membalas kerlingan nakal dari dari Samuel tadi.


"Ternyata aku cukup populer dikalangan para wanita," ujar pria itu dalam hati, membanggakan dirinya sendiri.


Lampu lalu lintas pun berganti menjadi hijau, semua kendaraan yang terhenti mulai melaju kembali seperti semula.


Samuel memacu kendaraannya, menaikkan kecepatannya agar lebih cepat sampai di tempat tujuan. Tak lama kemudian, Samuel memberhentikan kendaraannya tepat di sebuah gedung yang bertuliskan polres.


Samuel pun langsung turun dari kendaraannya. Ia melapor kepada salah satu sipir yang ada di sana, mengutarakan maksudnya untuk menjumpai salah satu tahanan.

__ADS_1


Samuel pun menuruti beberapa prosedur serta pemeriksaa. sebelum menjenguk salah satu tahanan tersebut. Setelah selesai, Samuel pun diarahkan menuju ke ruang kunjungan. Pria itu pun menduduki salah satu kursi yang ada di sana. Tak lama kemudian, terdengar yang berasal dari pintu. Samuel pun mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Pria itu melihat Aldo dengan seragam tahanannya, serta kedua tangannya yang diborgol.


Aldo mendecih saat melihat siapa yang datang menemuinya. Pria itu pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Samuel.


"Ada apa kamu menemuiku?" tanya Aldo sedikit ketus.


"Aku hanya merindukanmu," ujar Samuel sembari tersenyum penuh arti.


"Dasar pria tidak waras," cecar Aldo seraya membuang muka.


Samuel bersedekap, menatap Aldo dengan seksama. "Bagaimana rasanya? Bukankah sudah ku peringatkan sebelumnya untuk tidak bermain-main denganku? Ancamanku itu bukanlah hanya bualan saja. Bukankah kamu bisa merasakannya sekarang?"ujar Samuel dengan tersenyum remeh.


"Jadi kamu ...." rahang Aldo mengeras saat mengetahui siapa yang sebenarnya melaporkan dirinya.


"Tenang Kawan, aku hanya ingin kamu menjadi lebih baik lagi. Dengan begini bukankah akan segera sadar, bahwa bisnis kotor yang kamu kerjakan itu akan bernilai sia-sia," ujar Samuel mencoba menasihati Aldo.


Aldo tak membalas ucapan Samuel. Pria itu hanya menunduk lesu. Apa yang dikatakan oleh Samuel memang benar adanya. Bisnis yang selama ini ia geluti hanya membawa nikmat sesaat saja.


"Maaf karena telah membeberkan rahasia kalian," ujar Aldo yang tiba-tiba berkata demikian.


"Tidak apa-apa. Lagi pula ucapanmu itu tidak akan membuat rumah tangga Fahri dan Arumi langsung runtuh. Mereka sudah saling mencintai. Dan mulai sekarang, kamu harus berbahagia dengan istrimu. Buatlah ia bangga dan tak ingin lepas dari dirimu, dan perlakukan istrimu itu dengan baik," tutur Samuel.


"Mungkin kami tidak akan bisa bersama lagi, karena Sifa mungkin sudah mulai mengajukan gugatan cerainya karena malu memiliki pria yang tak waras seperti diriku," batin Aldo.


Setelah menemui Aldo, Samuel pun kembali menuju ke parkiran. Pria tersebut kembali mengenakan helmnya. Baru saja ia hendak menunggangi motor kesayangannya, tiba-tiba pergerakannya terhenti. Matanya menatap kertas yang ditempel tepat di plat nomor kendaraannya.


SAYA ORANG GILA


"Sejak kapan tulisan ini ada di motorku?" gumam Samuel.


Tak lama kemudian, ia pun tampak mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Dimana saat Samuel berada di lampu merah, dua gadis yang memperhatikannya dengan begitu jelas. Samuel pun menepuk keningnya, merutuki kebodohannya tadi.

__ADS_1


"Kurasa gadis itu benar-benar menganggapku gula, tak tahunya gila," rutuk Samuel.


Pria itu pun menghela napasnya, lalu kemudian melepaskan kertas yang menempel pada nomor plat kendaraannya.


"Kelemahanku memang terletak pada anak tetangga," ujar Samuel sembari membuang kertas tersebut ke dalam kotak sampah.


Pria itu pun kembali menunggangi kendaraan roda duanya. Ia pun langsung memacu kuda besinya itu menuju ke tempat yang lainnya.


Berselang tiga puluh menit kemudian, Samuel tiba di depan Cafe. Meskipun ia tak lagi menjadi karyawan di tempat tersebut, Samuel tetap mengunjungi tempat itu, mendapatkan kopi gratisan dari Elena pun sudah cukup berarti baginya.


Samuel membuka pintu masuk, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling Cafe, melihat Elena yang tak berada di cafe tersebut.


"Mila, ..." panggil Samuel setengah berbisik.


Salah satu pelayan tersebut pun langsung menyahut. Ia berjalan menghampiri Samuel.


"Elena mana?" tanya Samuel.


"Ah itu ... Bu Elena tadi sedang ada pertemuan keluarga di room private. Mungkin sebentar lagi akan keluar," timpal Mila.


Samuel mengangguk paham. Tak lama kemudian, Mila pun pergi dari hadapan Samuel, kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena pria itu.


Cukup lama Samuel menunggu Elena menampakkan dirinya. Pria tersebut mengisi waktu kosongnya itu dengan mengotak-atik ponselnya. Saat Samuel membaca sebuah artikel yang mengatakan tentang korban jiwa kebakaran itu sudah teridentifikasi.


Samuel menegang seketika, saat melihat foto Sugeng yang terpampang nyata di layar ponselnya.


"Dia ...." Samuel menatap benda pipih itu dengan rasa tidak percaya. Pria tersebut tidak menyangka jika Sugeng adalah korban dari kebakaran gudang itu.


Aku bisa saja mati di tangan Dewi, karena memiliki bukti ini. Maka dari itu, aku menyerahkannya padamu. Jika suatu saat nanti, aku telah tiada, kamu bisa menjebloskan wanita itu dengan bukti yang ada di tanganmu


Ucapan Sugeng waktu itu kembali terngiang-ngiang di telinganya. Samuel tidak menyangka jika Dewi akan bertindak sekeji itu.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Sugeng. Aku akan menjebloskan Bu Dewi ke penjara," batin Samuel dengan tekad yang sudah bulat.


Bersambung ....


__ADS_2