Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 134. Bayar Hutang


__ADS_3

Dewi baru saja mendapatkan kabar bahwa Roy dan Indra tertangkap saat tengah membeli narkoba. Wanita itu pun terkekeh geli setelah mendapatkan berita tersebut.


"Kalian memang sangatlah bodoh! Main kalian tidak terlalu rapi!" cecar Dewi sembari melihat artikel yang ada di layar ponselnya itu.


Dewi memilih meletakkan ponselnya kembali, menikmati pijatan dari spa langganannya. "Hmmm ... enak sekali," ujar Dewi sembari memejamkan mata menikmati pijatan tersebut.


Setelah selesai melakukan kegiatan yang memanjakan dirinya hari ini, Dewi pun berencana untuk menemui Indra yang saat ini sedang mendekam di penjara.


Wanita tersebut masuk ke dalam mobilnya, lalu kemudian melajukan kendaraannya menuju jalanan yang cukup lenggang.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu, Dewi pun tiba di lokasi. Wanita tersebut langsung melapor pada sipir, untuk mengutarakan maksudnya menjenguk keponakannya yang baru saja tertangkap kemarin.


Dewi pun di arahkan ke sebuah ruangan yang akan menjadi tempat bertemunya mereka. Wanita itu duduk di dalam ruangan tersebut.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang datang dari arah pintu. Dewi pun melemparkan pandangannya ke sumber suara. Ia melihat keponakannya itu datang dengan kedua tangan yang diborgol. Indra berwajah masam. Ia pun duduk tepat di hadapan Dewi.


"Kenapa wajahmu kusut seperti itu, keponakanku? Bagaimana rasanya bermalam di balik jeruji besi?" tanya Dewi dengan nada yang mengejek.


Mendengar ucapan Dewi, Indra pun langsung membuang muka. Pria itu benar-benar kesal harus terjebak di saat Aldo tengah diintai polisi.


"Apakah ini semua bagian dari rencana Tante?" tanya Indra penuh selidik.


Dewi pun langsung terkekeh geli mendengar indra yang tiba-tiba saja menuduhnya yang tidak-tidak.


"Aku?" tanya Dewi menunjuk dirinya sendiri.


"Memangnya rencana apa yang ku buat? Apakah kamu berpikir bahwa aku yang menusukmu dari belakang?" tanya Dewi sembari terkikik geli.


"Kamu lah yang berencana menusukku, Indra. Kamu pikir aku orang yang bodoh, dengan mudahnya kamu tipu."


"Kalau memang bukan Tante, sewa pengacara untukku agar aku lebih cepat keluar dari sini," ujar Indra.


"Pfftt ... yang benar saja! Apakah kamu bercanda?" tanya Dewi yang sedari tadi terus menertawai kemalangan Indra.

__ADS_1


Indra langsung mengernyitkan keningnya. Ia pun menatap Dewi dengan tatapan tajamnya.


"Jika kamu tidak ingin mengotori tanganmu, begitu pula denganku. Andaikan kamu membantuku, setidaknya aku bisa kembali membantumu dengan alasan berhutang budi," beber Dewi.


"Kalau begitu ... aku akan melaporkanmu juga. Bukankah rahasiamu juga ada di tanganku?" ancam Indra.


"Bagaimana seseorang mempercayai ucapan seorang narapidana seperti dirimu. Bukti apa yang kamu miliki?" Dewi terkekeh geli.


Wanita itu pun sedikit mencondongkan tubuhnya, berbicara tepat di depan telinga Indra.


"Aku sudah menghilangkan semuanya, termasuk yang ada di dalam rumahmu," bisik Dewi.


Tak lama kemudian, sipir pun masuk ke dalam ruangan tersebut, tanda waktu bertemu mereka sudah habis.


"Ah iya, seperti kalimat yang keluar dari mulutmu sebelumnya. Lawan orang jahat ialah orang yang lebih jahat dari dirinya. Mungkin kamu memiliki musuh yang lebih kuat, atau mungkin kamu terjebak dalam kebodohanmu sendiri," bisik Dewi.


Indra menggeram kesal. Sipir langsung membawa Indra pergi dari tempat itu dan kembali ke dalam sel. Dewi menyempatkan dirinya menyunggingkan seringaian iblisnya pada keponakannya itu.


Indra kesal, akan tetapi ia berusaha menahannya agar tidak menimbulkan masalah yang lainnya.


....


"El ... yang benar saja. Kamu membuatku mengenakan seragam pelayan cafe hanya untuk membayar sisa dari hutangku?" tanya Samuel.


"Bingo!" timpal Elena membenarkan ucapan pria tampan tersebut.


"El ... apakah tidak ada cara yang lain saja. Aku tidak suka mencuci piring, aku benci melakukan hal itu. Di rumah, aku hanya makan nasi bungkus saja dan sampahnya aku buang tanpa harus mengotori stok piring yang ada," ujar Samuel yang mencoba untuk membujuk Elena.


Elena menggelengkan kepalanya. Ia memilih lebih menulikan telinganya tanpa harus menghiraukan rengekan-rengekan Samuel.


"Setidaknya, aku mengurangi pengeluaran ku untuk menggaji karyawanku. Uang yang kamu pakai adalah uang cafe, jadi ... kembalikan uang tersebut dengan bekerja di tempat ini," tukas Elena.


"Jaga kasir saja ya?" bujuk Samuel.

__ADS_1


"Tukang cuci piring!" tegas Elena.


"Kalau begitu, aku melayani semua orang di meja pelanggan saja." Samuel kembali membujuk Elena sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Tidak boleh tawar-menawar. Kamu tetap akan jadi tukang cuci piring, titik!" tegas Elena yang langsung berlalu dari hadapan Samuel.


Samuel menggaruk kepalanya yang tak gatal. Wajahnya berkerut saat melihat tumpukan piring kotor yang sangat banyak.


"Kenapa nasibku tidak seperti Fahri saja. Membayar hutang dengan mudah hanya dengan menikahi seorang gadis cantik saja," gerutu Samuel.


Samuel langsung menuju wastafel. Pria itu menghidupkan keran tanpa menyingkirkan piring kotor yang ada di dalam wastafel itu terlebih dahulu. Hingga, air keran bekas cipratan piring kotor itu pun mengenai apron yang dikenakan oleh Samuel.


Pria itu pun berdesis saat air kotor itu mengenai dirinya.


"Ishh ... sungguh aku tidak memiliki prestasi dalam bidang mencuci piring," gerutu Samuel yang langsung mengambil tisu untuk membersihkan apronnya yang terciprat air kotor.


"Sepertinya aku harus minta tutorial dari Fahri. Supaya aku membayar hutang dengan mudah dan Elena tidak menyiksaku seperti ini," gumam Samuel.


Pria itu pun kembali menghidupkan keran air tersebut. Samuel begitu sangat menjaga jaraknya dari wastafel agar cipratan air bekas cuci piring itu tak mengenai dirinya lagi.


Samuel membuat suasana dapur di cafe itu pun sedikit kacau dan heboh. Pasalnya, ia akan berteriak jika air keran tersebut membasahi bajunya walaupun hanya sekedar percikannya saja.


Beberapa pegawai yang bekerja di cafe tersebut melihat tingkah Samuel. Ada yang terkekeh karena merasa Samuel terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Ada juga yang merasa jengkel, akibat Samuel terlalu lama mencuci piring hingga beberapa hidangan pun terpaksa di pending terlebih dahulu menunggu cucian piring dari Samuel.


Dari kejauhan, Elena memperhatikan Samuel dengan seksama. Gadis itu pun sesekali mengulas senyumnya saat melihat tingkah Samuel.


Elena sengaja, membuat Samuel bekerja di cafenya dengan alasan membayar hutang. Supaya gadis tersebut bisa melihat pria yang didambakannya itu setiap saat.


Ia ingin, Samuel tak menghilang dari pandangannya meskipun suatu saat nanti, Samuel akan bertemu dengan gadis yang dicintainya dan langsung menikah.


Elena mengambil kesempatan yang ada. Karena mustahil pria itu akan membalas cintanya. Ia juga tak bisa seperti Arumi, yang menawari Fahri sejumlah uang dan harus di bayar dengan sebuah pernikahan. Elena tak sepercaya diri itu.


Bersambung ....

__ADS_1


Hari ini cukup ya gengs, besok kita sambung lagi. Jari-jari udah kebas dari kemarin ngetiknya gila-gilaan 😂


__ADS_2