Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 43. Penyerahan Uang


__ADS_3

Arumi menikmati makanan yang tersaji di atas meja bersama dengan Fahri. Sementara Samuel, pria itu menuruti saran dari Arumi, menyantap makanannya di meja seberang. Tanpa melihat ke arah Arumi. Pandangannya sudah terlalu fokus pada hidangan yang tersaji di depannya.


"Terkadang aku merasa heran dengannya. Makan banyak tetapi bentuk tubuhnya tetap ideal," gumam Arumi sembari menatap ke arah Samuel.


Fahri mengikuti arah pandang Arumi. Lalu sesaat kemudian, ia kembali menikmati makanan yang ada di piringnya. "Mengapa harus aku?" gumam Fahri seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Arumi yang saat itu masih menatap Samuel, tiba-tiba pandangannya teralihkan pada sosok pria yang ada di hadapannya.


"Apa maksudmu?" tanya Arumi.


"Mengapa harus aku yang kamu pilih untuk menjadi suamimu?" Fahri kembali mengulangi pertanyaannya, akan tetapi kali ini lebih diperjelas lagi.


Arumi terdiam sejenak. Lalu kemudian meletakkan alat makan yang ada di genggamannya. Menyeka bibirnya menggunakan tissue.


"Haruskah aku memberitahukannya padamu?" Arumi balik bertanya.


"Setidaknya aku ingin mengetahui alasannya. Kamu bukanlah gadis sembarangan. Banyak pria diluaran sana yang bisa kamu jadikan sebagai suami. Dibandingkan aku, bukankah pria yang ada di seberang meja itu lebih pantas untuk menjadi suamimu," ujar Fahri. Pria yang dimaksudkan olehnya adalah Samuel.


Arumi menanggapi ucapan Fahri dengan tersenyum simpul. "Siapa pun yang aku pilih, itu tak penting. Lebih baik, kamu memikirkan bagaimana nantinya mengelola perusahaan dengan baik," ucap Arumi.


Fahri baru saja meraih gelas air minum, untuk mendorong makanannya tadi. Namun, beberapa saat kemudian ...


Uhukkk ...


Fahri langsung tersedak air saat mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Arumi tadi. "Ba-bagaimana bisa aku memimpin perusahaan? Lagi pula aku tidak bisa melakukannya," ujar Fahri tergagap. Ini sungguh diluar dugaannya. Ia tak tahu jika Arumi akan memberikannya sebuah tanggung jawab yang besar.


"Hewan peliharaan, jika terus dilatih ia akan pandai. Apalagi manusia, yang memiliki akal dan pikiran. Aku yakin kamu akan menguasainya dengan cepat," tutur Arumi.


"Tetap saja aku tidak bisa melakukannya."


Arumi berdecak kesal melihat Fahri yang sangat sulit mengerti maksud dari ucapannya. "Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Mengelola perusahaan masih tanggung jawabku. Namun, tetap saja kamu harus bersiap jika nanti ada yang berniat untuk menjatuhkan ku. Adanya kamu, aku membuat semua orang tidak mudah merebut posisiku," papar Arumi dengan jelas


Fahri pun mengangguk paham. Pria tersebut menyudahi makannya dengan menyeka bibirnya. Sesekali ia menatap ke arah jalanan. Suara bising dari luar mengingatkan dirinya saat ia berangkat bekerja dahulu.

__ADS_1


Fahri terbiasa akan suara bising itu. Dengan sedikit terengah-engah ia menyusuri jalanan hanya untuk menghemat keuangannya. Sementara sang istri memakai uang tersebut hanya untuk berfoya-foya.


"Mbak! Tolong meja yang ini dibersihkan. Sekalian langsung minta billnya, jangan lupa yang di meja itu juga," ujar Arumi sembari menunjuk ke arah Samuel.


Lamunan Fahri langsung buyar seketika saat mendengar suara Arumi. Ia melihat salah satu pelayan resto menghampiri meja mereka. Membersihkan piring-piring yang ada di meja tersebut, lalu kemudian memberikan bill pada Arumi.


Arumi langsung mengeluarkan dompet di dalam tasnya. Wanita tersebut menyerahkan uang tunai kepada pelayan itu.


"Kembaliannya ambil saja," ujar Arumi.


"Terima kasih banyak, Nona."


Pelayan itu pun menundukkan kepalanya, lalu kemudian pergi dari hadapan Arumi. Setelah meja di bersihkan, Arumi langsung meletakkan tas yang berisi uang tunai tersebut di atas meja.


"Ini adalah uang sebesar lima ratus juta dan ku bayar dalam bentuk tunai. Dan setelah kita serah terima, aku harap kedepannya kamu dapat memenuhi panggilanku saat aku membutuhkanmu," ujar Arumi.


Fahri mengangguk paham. Matanya terpaku pada tas yang berisi uang tersebut. Dengan menerima uang ini, pria itu sudah harus mempersiapkan diri untuk menikah dengan Arumi setelah perceraiannya.


"Aku berencana mengurusnya hari ini," timpal Fahri.


"Biar pengacaraku saja yang mengurusnya. Kamu tinggal memenuhi panggilan saat sidang nanti," ujar Arumi.


"Untuk masalah pernikahan, aku yang akan mengurusnya. Kamu hanya perlu mempersiapkan dirimu saja," lanjut Arumi.


Fahri terdiam sejenak, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Sementara Arumi, gadis itu kembali mengarahkan pandangannya pada Samuel.


"Apakah sudah selesai?" tanya Arumi.


"Sudah, Princess." Samuel tersenyum, lalu kemudian beralih ke kursi yang ada di samping Arumi.


"Kalau begitu, ayo kita pulang!" ucap Arumi yang mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu, ... ikutlah dengan kami. Setidaknya kamu harus melindungi tas itu," lanjut gadis tersebut. Ia pun melangkah lebih dulu keluar dari resto.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Samuel pada Fahri.


Fahri pun ikut beranjak dari tempat duduknya. Memutuskan untuk pulang menaiki mobil Arumi.


Di dalam mobil, Arumi menduduki kursi penumpang yang ada di belakang. Sementara Fahri, pria itu duduk di kursi depan, tepatnya di sebelah supir. Dan yang mengendarai kendaraan tersebut tentunya si asisten Arumi, yang tak lain adalah Samuel.


Pria tersebut melajukan kendaraannya, lalu kemudian menghidupkan tape mobil untuk menghilangkan rasa jenuh karena Fahri yang memang pendiam dan tidak banyak bicara.


Arumi menutup telinganya saat mendengar Samuel yang ikut bernyanyi. "Gendang telingaku serasa ingin pecah mendengarnya berteriak terus menerus," gerutu Arumi.


Ocehan Arumi sampai ke telinga Samuel. Bukannya ia berhenti, justru pria itu semakin menguatkan suaranya. Membuat Arumi yang tak lama kemudian berteriak kencang untuk mendiamkan nyanyian Samuel tersebut.


"Berhenti atau aku akan menurunkanmu di sini!!" seru Arumi.


Samuel pun memilih untuk menghentikan nyanyiannya. Pria tersebut melirik ke arah Fahri sejenak. "Dimana rumahmu?" tanya Samuel.


Fahri pun langsung menunjukkan alamat rumahnya lada Samuel. Pria itu menginjak pedal gas mobilnya untuk menambah kecepatan laju kendaraan tersebut.


Setelah cukup lama berada di perjalanan, mereka pun tiba di depan gedung apartemen yang ditinggali oleh Fahri.


"Terima kasih atas tumpangannya," ujar Fahri.


"Sama-sama," timpal Samuel.


Sementara Arumi, gadis itu hanya diam sembari memperhatikan gerak-gerik Fahri yang baru saja hendak turun dari mobilnya.


Setelah memastikan Fahri turun, Samuel pun kembali melajukan kendaraannya dengan menekan klakson beberapa kali pada Fahri.


Samuel pun langsung melajukan kendaraannya. Ia melihat Arumi dari kaca spion. "Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Samuel pada Arumi. Meskipun hatinya sedikit perih saat mengetahui bahwa gadis yang ia cintai akan menikah dengan pria lain. Namun, Samuel bisa menyembunyikan rasa sakitnya itu, dengan memberikan perhatian sebanyak mungkin pada Arumi.


"Belum dapat di pastikan kapan waktunya. Dia harus mengurus surat cerainya terlebih dahulu. Setelah itu, ada beberapa prosedur setelah bercerai jika kita hendak menikah lagi. Intinya pernikahan itu sudah pasti akan dilangsungkan karena dia sudah menerima uangnya," gumam Arumi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2