Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 35. Semakin Menyakitkan


__ADS_3

Fahri saat ini tengah berada di dalam lift. Pria itu hanya tertunduk lesu menunggu pintu lift yang menghantarkannya menuju ke lantai 4, tepat di unit 46.


Tinggg ...


Pintu lift terbuka. Saat ia mengangkat kepalanya, Fahri melihat mertuanya yang hendak memasuki lift untuk turun ke bawah.


"Apakah kamu tidak bekerja?" tanya Kartika.


Fahri menggelengkan kepalanya.


"Cih, pantas saja Sifa selalu kesal padamu jika kamu memang bermalas-malasan seperti ini," cecar Kartika.


Awalnya Fahri mengabaikan ucapan mertuanya. Pria itu seakan menulikan telinganya. Namun, tak lama kemudian, Fahri berbalik menatap ke arah mertuanya. Wanita tua itu pun menatap Fahri dengan tatapan yang kurang mengenakkan.


"Bu, apa salahku? Kenapa kalian seakan memandang rendah diriku? Kenapa kalian selalu saja meremehkan aku? Aku juga manusia, aku memiliki perasaan yang sama. Aku juga ingin dihargai!" ujar Fahri dengan nada tinggi. Ia seakan mengeluarkan uneg-uneg yang dipendamnya pada sang mertua.


Kartika, wanita itu tak pernah menyukai menantunya. Selalu saja Fahri mendengar mertuanya itu menjelekkan dirinya di depan sang istri.


"Apakah kamu gila? Kamu sudah tidak waras? Kenapa kamu menanyakannya padaku? Seharusnya kamu introspeksi diri kamu sendiri. Kenapa hidupmu tak pernah ada kemajuan sedikit pun. Wajar jika anakku lebih memilih pria lain dibandingkan dirimu!!" ketus Kartika yang juga tak mau mengalah.


Fahri menatap mertuanya dengan tatapan tak percaya setelah mendengarkan apa yang diucapkan oleh wanita tua itu.


"Jadi Ibu sudah mengetahuinya, bahwa Sifa berselingkuh dariku?" tanya Fahri dengan bibir yang bergetar.


"Iya. Ibu sudah mengetahuinya. Dan ibu juga mendukung Sifa bersama dengan pria itu. Jika ia bersama dengan pria itu, sudah pasti hidupnya akan terjamin, berbanding terbalik saat denganmu!" ketus Kartika.


Wanita tersebut langsung menekan tombol untuk menutup pintu liftnya. Mata keduanya saling beradu seiring lift tersebut yang semakin lama semakin tertutup rapat.


Fahri menyunggingkan senyumnya. Menertawakan kebodohan yang selama ini ia perbuat. Berusaha mati-matian pun rasanya percuma.


"Bahkan ibunya pun mendukung perpisahan kami," gumam Fahri sembari terbahak-bahak.


Pria itu masuk ke dalam rumahnya. Menghempaskan tubuhnya di sofa. Air mata pria itu jatuh begitu saja dari sudut matanya. Fahri tak menghapusnya. Ia membiarkan air matanya menggenang dan tertumpah.


Ia tak mempunyai satu orang pun yang mendukungnya. Harapan satu-satunya, kini juga telah menghancurkan hidupnya.

__ADS_1


Saat hendak mengusap air matanya yang tertumpah, Fahri merasa sangat susah untuk menarik tangannya. Setelah ia periksa, ternyata salah satu kancing yang ada di lengannya tersangkut pada tas kantornya.


"Adakah hal lain yang tidak membuatku kesal hari ini?" gerutunya.


Ia pun menarik paksa tangannya. Hingga akhirnya, salah satu kancing yang ada di sana pun terlepas dari tempatnya.


Fahri mencoba menghilangkan rasa sedihnya dengan mengalihkan perhatiannya pada kancing baju tersebut. Pria itu memungut kancing lengan bajunya yang berada di lantai, lalu kemudian menempelkannya pada baju yang ia kenakan.


"Ternyata tak bisa menempel dengan instan. Harus dijahit terlebih dahulu," gumamnya.


Pria itu pun mengambil benang dan jarum yang ia letakkan di dalam laci nakas kamar. Fahri berjalan menuju ke kamarnya. Ia membuka laci tersebut, mengambil jarum dan benang yang ada di sana.


Namun, setelah mendapatkan jarum dan benang, fokus Fahri kembali teralihkan pada sesuatu yang ada di dalam laci tersebut.


"Bukankah ini ...."


Fahri mengambil benda itu. Ia menatap tak percaya benda yang saat ini ia pegang. Matanya kembali memerah dan hatinya semakin sakit setelah mengetahui semuanya.


....


Menjemput Sifa bukanlah inisiatifnya. Ia tahu jika Sifa ingin menyembunyikan hubungannya dari suaminya terlebih dahulu. Namun, saat mendengar telepon dari Kartika, Aldo menjadi bersemangat mendapatkan Sifa karena mendapat dukungan dari calon mertuanya itu.


Bahkan, untuk mengantar Sifa hari ini, karena Aldo mendapat usulan dari calon mertuanya itu.


"Sayang, kenapa tidak dimakan?" tegur Aldo yang melihat Sifa sedari tadi mengacak-acak makanannya.


"Aku sedang tidak berselera," timpal wanita tersebut.


Mungkin orang lain berpikir bahwa saat ini Sifa menyesali ucapannya yang telah dilontarkan dengan sang suami tadi. Akan tetapi bukanlah itu yang ia pikirkan, melainkan memikirkan bagaimana jika Fahri menolak membayar hutang pada Elena karena telah dikecewakan oleh dirinya sendiri.


"Bagaimana jika nanti, Mas Fahri menolak untuk melunasi hutangku? Kan aku juga yang akan repot nantinya. Sungguh!! Kenapa aku bersikap ceroboh sekali tanpa memikirkan nantinya," batin Sifa.


"Ada apa? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu," ujar Aldo.


Seketika lamunan Sifa pun menjadi buyar. Wanita tersebut mencoba memaksakan senyumnya meskipun sebenarnya dirinya sangat diresahkan oleh hutang yang jumlahnya sangat besar itu.

__ADS_1


"Masalah tadi, aku hanya sedikit terpikir saja. Maafkan aku," ucap Sifa beralasan.


Aldo mengulas senyumnya, lalu kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti akan masalahmu itu. Tapi ... bisakah kamu tetap makan walaupun hanya satu suapan," ujar Aldo seraya menyodorkan satu sendok makanan miliknya pada Sifa.


Sifa membuka mulutnya dengan lebar. Menerima makanan yang diberikan oleh Aldo dengan senang hati.


"Haruskah aku jujur saja pada Aldo jika aku memiliki hutang yang besar. Tapi ... apakah dia bersedia untuk membantuku?" batin Sifa.


"Ah ... sebaiknya tidak usah! Aku akan semakin malu jika Aldo mengetahui hutang besar yang ku miliki. Aku akan tetap membujuk Mas Fahri untuk melunasi semua hutang-hutang itu. Apapun yang terjadi, Mas Fahri harus tetap membayarnya," ujarnya lagi di dalam hati.


....


Arumi tengah pantulan dirinya di depan cermin. Gadis itu merias wajahnya secantik mungkin, karena hari ini ia ingin datang ke kantor. Tak ada alasan lain, selain bertemu dengan pria dambaannya, Fahri.


Arumi tak peduli meskipun terkena sindiran dari Indra berkali-kali. Hanya luntang-lantung tak jelas demi melihat keberadaan Fahri di kantor.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang diketuk. "Masuk!!" Seru Arumi pada seseorang yang berada di luar kamarnya.


Samuel menampakkan batang hidungnya dari balik pintu. Pria itu berjalan mendekati Arumi yang tengah duduk di depan meja riasnya.


"Apakah kita mempunyai misi baru lagi? Kira-kira misi apa itu sehingga membuatmu bersiap-siap se-rapi ini?" tanya Samuel yang memang tidak tahu-menahu akan tujuan Arumi mengajaknya ke kantor hari ini.


"Tidak ada misi khusus, hanya saja aku ingin kamu menemaniku untuk datang ke kantor," timpal Arumi.


"Untuk?" tanya Samuel lagi penuh selidik.


"Bertemu dengan Fahri," ucap gadis itu dengan enteng.


Samuel menepuk keningnya saat mendengar jawaban Arumi tersebut. "Jadi ... aku akan menjadi obat nyamuk nantinya?"


"Tepati janjimu, Sam! Bukankah kamu sendiri sudah mengatakan bahwa akan mendukung apapun yang aku lakukan," cecar Arumi yang mulai merajuk.


"Siap laksanakan, Princess. Apapun itu aku akan tetap berada di pihakmu," seru Samuel dengan sedikit membusungkan dadanya, berdiri dengan tegap.


"Bagus!!" ujar Arumi mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2