Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 76. Deal!


__ADS_3

"Bisakah kita mewujudkan keberuntungan itu dalam hal yang berbeda?" tanya Fahri menatap Arumi dengan wajah yang serius.


Arumi beberapa kali mengerjapkan matanya. Ia seakan tak percaya apa yang baru saja diucapkan oleh Fahri.


"Apakah kamu bersedia?" tanya Arumi.


"Aku bersedia untuk itu," timpal Fahri.


Arumi menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. Ia sangat senang dan bahkan seperti ingin meledak rasanya. Meskipun Fahri tidak berucap bahwa ia akan membalas cintanya, akan tetapi Arumi merasa bahwa ini adalah awal yang baik. Fahri bersedia mengajaknya lebih serius lagi dalam hubungan pernikahan mereka.


Yang berarti keduanya memang tidak hanya terikat dalam hal bisnis atau pun uang, melainkan mencoba untuk saling memberi cinta satu sama lain. Ucapan yang pernah Fahri katakan sebelum mereka menikah, yang berjanji untuk tak terlalu berharap setelah pernikahan ini pun ia tarik kembali.


Arumi telah menemukan celah itu. Celah kecil untuk dirinya masuk ke dalam hati sang suami. Menggantikan wanita yang tak seharusnya berada di dalam sana lagi.


"Baiklah. Kalau begitu deal!" Arumi menyodorkan kelingkingnya.


"Deal," ujar Fahri mengait jari kelingking sang istri. Keduanya pun saling melempar senyum.


Malam itu, malam yang manis untuk kedua pasangan suami istri itu. Di mana mereka sudah mulai melangkah maju, dan meninggalkan semua yang menyakiti di masa lalu.


....


Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, kini sudah berjalan tiga bulan lamanya. Aldo dan Sifa mempersiapkan segala sesuatu untuk melangsungkan pernikahan mereka.


Kartika tampak disibukkan dengan segala persiapan pernikahan putrinya. Kali ini, bahkan ia amat membangga-banggakan menantunya. Selain tampan, Aldo juga pria yang memiliki banyak uang tidak seperti menantunya yang dulu.


Di saat menghadiri arisan, pesta, bahkan sedang berkumpul bersama teman-temannya, pasti Kartika selalu berkata bahwa Sifa mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari pada Fahri.


"Dari pada yang kemarin, mending yang sekarang. Selain tampan ia juga mapan. Dia juga orangnya sangat royal pada Sifa," ujar Kartika yang selalu memuji menantunya di depan banyak orang.


"Tapi aku pernah melihat mantan suaminya si Sifa. Aku sempat melihatnya di berita kalau dia menikahi anak konglomerat pemilik sebuah perusahaan," celetuk salah satu teman Kartika.


"Hahaha ...," Kartika tertawa sembari menutup mulutnya.


"Wajar jika dia menikahi wanita kaya. Toh, pria itu memang malas bekerja. Jadi nantinya ada wanitanya yang selalu menghidupinya nanti," kilah Kartika.


"Ya sudah kalau begitu, Jeng. Aku pamit pulang dulu ya... Soalnya agak sibuk mengurusi berbagai persiapan Sifa yang mau jadi pengantin lagi," ujar Kartika memamerkan putrinya setiap saat.


Orang-orang yang ada di sana hanya mengangguk tanpa menimpali ucapan Kartika. Sepeninggal Kartika, teman-temannya itu menertawai wanita tersebut.


"Dia terlalu ikut campur tangan sama urusan rumah tangga putrinya. Tidak salah si menantu memilih untuk bercerai dari Sifa. Lagi pula anaknya juga tidak terlalu cantik," ujar mereka yang mengatai Kartika dan putrinya di belakangnya.


...


Saat ini, Sifa tengah berada di depan gerbang sebuah bangunan yang mewah. Rumah dua tingkat tersebut tak lain adalah rumah Arumi.


Sifa sengaja hendak memberikan undangan tersebut kepada Arumi secara langsung. Membiarkan Fahri datang ke pesta pernikahannya agar sang suami bisa melihat dengan jelas bahwa ia tak kalah bahagia dibandingkan dengan pria tersebut.

__ADS_1


Beberapa kali Sifa menekan bel yang ada di depan gerbang tersebut. Tak lama kemudian, salah satu satpam yang berjaga di sana pun langsung menghampiri.


"Maaf cari siapa?" tanya satpam tersebut.


"Saya mau tanya Pak. Benarkah ini rumahnya Bu Arumi?" tanya Sifa.


"Iya benar." satpam tersebut menimpali.


"Saya ingin bertemu dengan Bu Arumi. Ada pesan yang harus saya sampaikan secara langsung," ujar Sifa.


"Siang nyonya tidak ada di rumah. Begitu pula dengan tuan. Mereka saat ini tengah berada di kantor. Jika tidak berkenan, boleh menitipkannya pada kami," ucap satpam tersebut menawari.


"Tidak usah, Pak. Saya ingin menyampaikan secara langsung pada beliau. Bisakah saya meminta alamat kantornya?" tanya Sifa.


Satpam tersebut langsung memberikan alamat kantor Sifa. Setelah mendapatkan alamat itu, Sifa pun langsung mengucapkan terima kasih pada satpam tersebut. Ia langsung menuju ke kantor sesuai dengan alamat yang diberikan oleh satpam tadi.


Sifa memberhentikan taksinya setelah tiba di depan gedung perusahaan yang dipimpin oleh Arumi. Wanita itu pun melenggang masuk ke dalam kantor tersebut untuk memberikan undangan pernikahannya secara langsung pada Arumi.


Ia bertanya pada salah satu staf di sana. Letak ruangan Arumi. Staf tersebut langsung menunjukkan lokasinya.


Saat berjalan menuju ke ruangan tersebut. Ia melewati meja kerja Samuel terlebih dahulu. Samuel sadar akan kedatangan mantan istri dari atasannya itu.


"Maaf, ada perlu apa?" tanya Samuel yang langsung menghampiri Sifa.


"Ini ... aku ingin bertemu dengan Bu Arumi. Apakah beliau ada di dalam?" tanya Sifa.


"Bu Arumi sedang sibuk saat ini. Jika berkenan, anda bisa menitipkan pesan kepada saya, dan saya akan langsung menyampaikannya pada Bu Arumi," ujar Samuel yang mencoba untuk memberikan pengertian pada wanita yang ada di hadapannya tersebut.


Samuel menghela napasnya. "Pilihan Fahri bercerai darinya memang sangat tepat. Selain keras kepala, wanita ini juga bertindak semaunya saja," batin Samuel.


"Kalau begitu tunggu sebentar," ujar Samuel yang kembali ke meja kerjanya. Ia meraih phone table yang ada di mejanya, mencoba untuk menghubungi Arumi saat itu juga.


Di waktu yang bersamaan, Arumi dan Fahri tengah menikmati makan siang mereka. Sesekali Arumi menyuapi makanan ke dalam mulut Fahri. Dan Fahri pun melakukan hal yang sama.


"Mas, mulutku sudah penuh dengan makanan," ucap Arumi yang tampak kesusahan berbicara karena Fahri memasukkan banyak makanan ke mulutnya.


Panggilan untuk Fahri seketika berubah setelah hari di mana mereka mencoba untuk saling berbagi cinta satu sama lain. Namun, mereka belum sampai di tahap berbagi tempat tidur. Karena Arumi masih takut melakukan hal tersebut, lagi pula Fahri juga tidak menagih apapun padanya.


Arumi kembali memasukkan makanan ke mulut Fahri. Pria tersebut tak menolaknya, justru membiarkan sang istri mengisi mulutnya hingga benar-benar penuh.


Arumi tertawa melihat Fahri dengan pipi yang menggembung terisi penuh oleh makanan. Pria itu tampak kesusahan mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


Tak lama kemudian, phone table yang ada di meja kerja Arumi berbunyi. Gadis itu melangkahkan kakinya, mendekati meja kerjanya itu. Lalu kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Arumi.


"Mantan istrinya Fahri datang kemari," ujar Samuel dari seberang telepon.

__ADS_1


"Apa tujuannya?" tanya Arumi lagi.


"Aku kurang tahu. Tapi dia bilang ada sesuatu yang harus ia sampaikan secara langsung padamu," jelas Samuel.


"Suruh dia masuk!" titah Arumi.


Arumi meletakkan kembali telepon tersebut. Ia melangkah menghampiri Fahri yang masih menyantap makan siangnya saat itu juga.


"Ada apa?" tanya Fahri menatap sang istri.


Arumi menjatuhkan bokongnya kembali di sofa. "Kita kedatangan tamu," ucap Arumi.


"Siapa?" tanya Fahri.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Samuel muncul dari balik pintu bersama dengan mantan istrinya, Sifa.


Fahri sedikit terkejut akan kedatangan Sifa kemari. Namun, ia mencoba untuk bersikap seperti biasa saja. Seolah tak mengenal wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu.


"Silahkan!" ujar Samuel mempersilahkan Sifa. Pria itu pun keluar dari ruangan tersebut, membiarkan ketiga orang itu menyelesaikan masalah mereka.


"Sepertinya aku mengganggu waktu makan siang kalian berdua," ucap Sifa melihat semua makanan yang ada di atas meja.


"Santai saja. Lagi pula kami tidak merasa terganggu sedikit pun akan kedatangan mu di tempat ini," timpal Arumi dengan menambahkan sedikit kata sindiran.


"Silakan duduk!" ujar Arumi mempersilahkan Sifa.


Sifa pun duduk di salah satu kursi yang ada di tempat tersebut. Ia melirik ke arah Fahri. Sifa hampir pangling dengan penampilan Fahri yang sekarang. Pria itu semakin terlihat tampan dibandingkan sebelumnya.


"Kedatanganmu kemari apakah hanya untuk melirik suamiku saja?" tanya Arumi dengan sindirian kerasnya.


"Ah tidak. Aku datang ke sini untuk menemui kalian berdua," ujar Sifa. Wanita tersebut mengeluarkan surat undangan yang ia simpan di dalam tas jinjingnya, lalu kemudian memberikan surat undangan tersebut kepada Arumi.


"Aku akan menikah. Ku harap kalian datang ke pernikahanku nanti," lanjut Sifa.


Arumi mengambil surat undangan yang diberikan oleh Sifa. Gadis itu tersenyum simpul menatap surat undangan tersebut. Seketika Arumi teringat akan kejadian ini. Di mana kala itu, ia juga mengantarkan surat undangannya dengan Fahri secara langsung dan menjebak Sifa untuk datang ke acaranya.


"Tampaknya kamu sedang membalas dendam padaku," ujar Arumi dalam hati.


"Akhirnya kamu menikah juga. Selamat ya ... lebih cepat dari pada dugaanku," ucap Arumi secara langsung.


Kening Sifa langsung berkerut saat mendengar ucapan dari Arumi. "Apakah dia baru saja mengatai bahwa aku tidak laku?" batin wanita tersebut.


"Iya. Aku memutuskan untuk menikah setelah habis masa Iddah ku. Oh iya, Mas Fahri ... bagaimana kabarnya?" tanya Sifa, mencoba untuk memancing emosi Arumi.


Fahri tak menimpali ucapan mantan istrinya itu. Ia sibuk menyantap makanan yang ada di atas meja.


"Harap maklum. Ia sedang menikmati makanannya, wajar saja jika tidak menimpali pertanyaan yang kamu lontarkan. Lihatlah! Bukankah dia terlihat sangat sehat? Nafsu makannya benar-benar kuat setelah menikah denganku. Aku serasa sangat senang dan berhasil menjadi istri yang baik untuknya," sindir Arumi lagi.

__ADS_1


Fahri menatap kedua wanita yang ada di ruangan itu secara bergantian. "Apa ini? Mengapa menjadi seperti ini?" ujar Fahri dalam hati.


"Aku baik." Fahri masih menimpali ucapan mantan istrinya itu.


__ADS_2