
Malam ini, Indra bersiap-siap untuk pergi ke supermarket. Pria itu hendak berbelanja bulanan karena isi kulkasnya yang sudah mulai kosong. Indra terpaksa melakukan tugas ini sendirian, karena memang dirinya adalah pria lajang yang belum beristri, jadi melakukan apapun terpaksa harus sendirian.
Mobil yang dikendarai Indra pun sudah tiba di depan supermarket. Pria tersebut mencari area parkiran yang kosong untuk memarkirkan mobilnya. Dan setelah itu langsung berjalan menuju pintu masuk.
Indra mengambil salah satu troli yang ada di sana. Pria itu pun mendorong benda itu, berjalan untuk melihat-lihat sesuatu yang akan dibelinya pada saat itu juga.
Indra mendorong trolinya menuju ke tempat kumpulan buah-buahan. Saat Indra hendak mengambil sekantong anggur, tiba-tiba ada tangan lain yang juga hendak mengambil buah yang sama.
Indra melihat ke sebelahnya, seorang pria yang seumuran dengannya tengah menggendong seorang anak yang usianya berkisar dua tahun.
"Silakan," ujar Indra mempersilahkan kepada pria tersebut. Dan pria itu juga mempersilahkan pada Indra untuk mengambilnya terlebih dahulu.
Terdengar suara tawa anak kecil tersebut seolah tengah menertawakan kedua pria dewasa yang tengah bertingkah konyol itu.
Indra pun mengarahkan pandangannya pada anak kecil tersebut. Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh saat melihat anak kecil yang ada di gendongan pria tersebut.
"Dia sangat tampan dan menggemaskan," ujar Indra dengan mata yang tak lepas dari anak kecil tersebut.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. "Sudah mengambil anggurnya?" tanya seorang wanita yang tepatnya berada diantara Indra dan pria yang ada di sebelahnya.
Deggg ...
Indra membeku, suara itu seakan tak asing terdengar di telinganya. Pria itu pun perlahan membalikkan badannya, melihat ke arah wanita yang saat ini tengah berdiri di belakangnya.
Wanita itu juga ikut tertegun saat Indra membalikkan badannya saat itu juga.
"Jessy, ...."
"Pak Indra, ..."
Keduanya cukup lama saling menatap satu sama lain. Tak lama kemudian, anak kecil yang ada digendongan pria tadi menangis sembari memanggil mama menatap ke arah Jessy.
Jessy langsung mengambil alih anak kecil tersebut. Wanita itu menggendongnya, lalu kemudian menarik pria tadi, mengajaknya untuk pergi dari tempat itu.
"Apakah dia anakmu?" tanya Indra.
__ADS_1
Langkah Jessy sempat terhenti. Beberapa detik kemudian Jessy membeku. Lalu kemudian ia pun melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan dari Indra.
Indra merasa diacuhkan. Pria itu pun kembali mengulang pertanyaannya dengan intonasi yang tinggi.
"Apakah dia anak kita?"
Jessy sontak terkejut dengan pertanyaan kedua dari Indra. Wanita itu pun berbalik menatap pria yang ada di belakangnya.
"Apa pedulimu? Ya, dia memang anakku, tapi bukan anakmu, karena dulu kamu tidak mengakuinya dan memaksaku untuk menggugurkannya!" seru Jessy. Ia tak peduli jika ada banyak mata yang melihat ke arahnya, karena memang seperti itulah kenyataannya dahulu. Indra memang memaksa agar mantan sekretarisnya itu mengugurkan kandunganya.
Pandangan Indra seketika menyendu. Ia sadar jika ia salah dan Indra ingin memperbaiki semuanya.
"Maafkan aku," ucap Indra.
"Izinkan aku untuk memperbaiki semuanya. Aku akan menebus semua kesalahanku," lanjut Indra.
Pria yang ada di samping Jessy pun berjalan menghampiri Indra, lalu kemudian ...
Bughhh ....
"Kamu telah menghancurkan hidup adikku saat itu, dan sekarang kamu datang dengan mudahnya untuk meminta maaf? Dasar pecundang!" cecar pria tersebut.
Pria itu langsung membawa Jessy pergi dari tempat itu. Ia tak ingin jika adiknya kembali terlibat dengan pria seperti Indra.
Jessy menoleh ke arah Indra sejenak sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu. Indra yang memang tak ingin kehilangan lagi jejak Jessy dan anaknya, langsung mengejar Jessy. Pria itu bahkan berlutut di depan kedua orang itu.
"Bang, tolong izinkan saya untuk menebus kesalahan saya. Berikan saya kesempatan sekali lagi, Bang."
"Menyingkir dariku! Tidak usah memanggilku dengan sebutan itu, karena aku bukanlah abangmu!" cecarnya.
"Ayo Jessy! Kita pergi dari sini!"
Pria tersebut melepaskan troli yang ia bawa. Memilih untuk mengurungkan niatnya berbelanja. Indra juga melakukan hal yang sama, pria tersebut tetap mengejar Jessy meskipun mendapatkan penolakan berkali-kali dari abangnya itu.
Anak yang ada di gendongan Jessy menangis, mungkin karena merasakan ikatan batin bahwa Indra adalah ayahnya.
__ADS_1
Kakak dari Jessy tersebut menyuruh untuk adiknya masuk ke dalam mobil. Lalu melajukan mobil tersebut menuju ke jalanan.
Indra tak ingin kalah, ia juga langsung masuk ke dalam mobilnya untuk mengejar mobil yang dinaiki oleh Jessy dan anaknya.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi malam itu. Saat mobil tersebut semakin menjauh, Indra kembali menginjak pedal gasnya untuk menambah laju kendaraannya.
Hingga akhirnya, mobil itu pun berbelok dan mulai masuk ke dalam gerbang dengan rumah dua tingkat tersebut.
Indra menghentikan laju mobilnya dengan mendadak saat gerbang di rumah itu telah tertutup. Pria itu memutuskan untuk turun dari mobil, menunggu di depan gerbang.
Hari sudah cukup larut malam, hujan pun turun dengan begitu deras.Dari jendela kamarnya, Jessy melihat Indra yang masih menunggu di depan gerbang. Ada rasa tak tega melihat pria itu hujan-hujanan menunggu di depan rumah.
Tak lama kemudian, anaknya pun kembali menangis. Entah mungkin ikut merasakan kegundahan dari orang tuanya, seakan begitu peka dengan apa yang dirasakan oleh kedua orang tuanya saat itu.
Tak lama kemudian, pintu pun terdengar di ketuk. Jessy dengan posisi yang sedang menggendong anaknya, langsung membuka pintu tersebut.
Seorang wanita berparas cantik yang merupakan kakak iparnya muncul dari balik pintu.
"Si Tegar kenapa Jess?" tanya kakak ipar Jessy.
"Entahlah, Kak. Dia sedari tadi menangis terus," ujar Jessy.
Kakak ipar Jessy berjalan menuju ke jendela, ia menyingkap hordeng, mengintip Indra yang masih berdiri di depan gerbang tersebut.
"Kakak sudah memberikan masukan pada abangmu, tapi abangmu tetap saja tak menerima pria itu. Dia masih kesal karena kejadian yang lalu, dimana kamu mendapatkan cibiran dari tetangga pada saat itu," tutur wanita tersebut.
"Biarkan saja, Kak. Dia hanya bertahan sebentar. Mungkin tidak akan lama lagi dia pergi. Pak Indra tidak akan segigih itu, apalagi aku hanyalah pelampiasan napsunya sewaktu dulu. Hanya saja, aku yang terlalu bodoh menganggap bahwa dia benar-benar mencintaiku," ujar Jessy.
"Tapi ... kakak ingin bertanya satu hal padamu," ujar kakak ipar Jessy.
"Apa itu kak?"
"Apakah kamu masih mencintai pria itu? Tolong jawab pertanyaan kakak dengan jujur. Urusan abangmu, nanti biar kakak yang menasihatinya. Sekarang, kakak ingin mendengarkan jawabannya langsung dari mulutmu."
Jessy terdiam, lalu kemudian menatap pria yang berada di bawah dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
__ADS_1
Bersambung ....