
"Angga! Kau mau pergi ke mana pagi-pagi begini nak? Bukankah Ibu sudah mengatakan kalau kau harus membantu Bapakmu bekerja di toko serivice elektronik miliknya!" seru wanita paruh baya yang mengenakan daster lusuh membalut tubuhnya.
"Ibu! Aku mohon. Untuk hari ini saja izinkan aku libur bu, karena aku ingin bertemu kekasihku Cika. Aku benar-benar merindukannya Bu. Lagian setiap hari Angga selalu membantu Bapak di toko. Jadi untuk hari ini saja, aku ingin menghabiskan waktu bersama Cika ibu." pinta Angga kepada ibunya.
Mendengar nama Cika disebut, ibunya pun menjadi terkejut.
"Apa Cika! Bukankah dia sedang mengurus daftar kuliahnya di kota jakarta?"
"Iya, itu memang benar bu. Tapi tadi malam dia sengaja pulang kerumah, karena dia ingin bertemu denganku, dia juga ingin mengatakan hal yang penting kepadaku bu." jawab Angga tersenyum bahagia.
Melihat hal itu, ibu Angga yang bernama ibu fatma menjadi tidak tega, namun dia juga merasa kasihan melihat suaminya yang bekerja seorang diri di toko.
"Lalu bagaimana dengan bapakmu Angga. Kasihan Bapakmu hari ini, Karena dia harus membenarkan banyak komputer dan juga laptop milik para mahasiswa yang pulang kekampung ini, mereka mengatakan akan segera kembali lagi ke kota besok pagi, sedangkan masih banyak laptop dan komputer yang belum diselesaikan, makanya ibu berharap agar kau membantu pekerjaan bapakmu Angga!" seru ibu kembali menjelaskan kepada Angga.
"Baiklah. Jika begitu, aku janji setelah selesai mengajak Cika berjalan jalan. Maka aku akan langsung menuju ke toko Bapak. "
"Ya sudah. Kau hati hatilah saat membawa anak gadis orang Angga. Kau harus menjaga Cika. Ibu tidak mau kalau sampai kau disalahkan oleh keluarganya."
"Pasti Bu. Kalau begitu Angga pamit pergi dulu." izin Angga mencium lengan tangan ibunya.
Melihat kepergian sang putra, ibu yang bernama ibu Fatma itupun berdoa di dalam hatinya.
"Ya Tuhan! Lindungilah putraku. Dia adalah anak yang sangat baik. Maaf karena Ibu dan Bapak tidak mampu menguliahkan kamu ke kota Nak." lirih ibu Fatma merasa sedih.
Sedangkan Angga, kini dia telah keluar dari rumah dan langsung naik ke atas motor matic jaman miliknya.
Senyum ceria tampak menghiasi bibir tebal Angga, rasanya dia sudah tidak sabar, segera menjemput kekasih pujaannya yang bernama Cika.
Suara motor matic keluaran tahun 2010 itu pun melaju kencang, meninggalkan pekarangan rumah sederhana milik kedua orang tuanya.
Angga bersiul sambil mengendarai motornya, hingga setibanya di depan sebuah rumah yang paling besar di kampung itu, Angga pun menghentikan motornya.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu. Dua minggu tidak bertemu, nyatanya membuatku merasa sangat merindukanmu sayang." Angga tersenyum sambil menatap pagar rumah besar itu.
Angga dan Chika sudah berpacaran hingga 2 tahun lamanya, tepatnya ketika mereka berdua sama sama duduk di bangku kelas 11 Sekolah Menengah Kejuruan.
Saat itu, Angga mengambil jurusan teknologi komputer. Sedangkan Cika mengambil jurusan sekretaris.
__ADS_1
Sebenarnya hubungan mereka berdua tidak disetujui oleh kedua orang tua Cika. Karena Angga hanya berasal dari keluarga misikin, yang Bapaknya hanya memiliki usaha kecil dibagian serivis menservis barang teknologi, seperti Laptop, Komputer, Handphon dan juga televisi.
Bahkan kedua orang tua Cika juga telah mendengar desas desus yang beredar di kampung mereka tinggal. Kalau Angga tidak akan melanjutkan kuliahnya dan akan segera terjun fokus di toko milik Bapaknya.
Mengetahui berita itu, tentu saja membuat kedua orang tua Cika merasa marah. Mereka tidak rela jika putri kesyangan mereka yang cantik jelita harus menjalin hubungan dengan pria miskin yang tidak mempunyai masa depan.
Cika yang sedang berjalan mendekati pagar rumahnya pun tersenyum kecut, kala melihat kekasihnya yang sedang duduk di atas motor butut miliknya dengan penampilan yang sangat sederhana.
Entah mengapa dia bisa mencintai pria miskin seperti Angga. Sungguh dia pun merasa heran.
"Kenapa aku baru sadar sekarang? Apakah iya kalau Angga telah mejampi jampi diriku, agar aku bisa menyukainya?" gumam Cika di dalam hati.
Hingga tak lama kemudian, dia pun sudah berdiri di samping motor Angga dan mengejutkan pria tampan itu.
"Sudah lama?" tanya Cika dengan nada dingin.
"Sayang. Kau mengejutkanku lo." sarkas Angga tersenyum bahagia sambil menatap wajah Cika.
"Kenapa gak langsung masuk?"
"Gak usahlah, aku tahu kalau kamu pasti sudah siap, makanya aku tunggu di depan gerbang aja. Oya apakah kedua orang tuamu sudah pulang?"
"Siap bidadariku, sini aku pakaikan helmnya."
Angga langsung membantu Cika untuk mengenakan helm bermotif hello kitty kesukaan Cika.
Jujur saja Cika merasa risih mendapatkan perhatian dari Angga, entah mengapa setelah dirinya pergi ke kota Jakarta untuk mendaftarkan kuliah di sana, Cika seakan sadar kalau dirinya memang benar benar sudah salah mencintai pria.
Benar apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya, jika dia tidak pantas berhubungan dengan Angga yang tidak mempunyai masa depan cerah dan juga miskin.
Sebenarnya Cika juga telah membohongi Angga saat ini, karena faktanya kedua orang tua Cika sedang berada di rumah. Tapi Cika tidak mau memberitahu, karena Cika takut jika Angga akan memaksa masuk kerumahnya guna meminta izin kepada kedua orang tuanya.
Sambil berkendara, Cika terus bergumam di dalam hatinya.
"Bener kata mama dan papa. Kalau Angga hanyalah pria yang tidak mempunyai masa depan. Jujur saja, kalau aku sangat menyukaimu Angga. Karena walaupun kau miskin, tapi kau mempunyai paras yang tampan. Tapi sayangnya itu semua tidak cukup Angga. Apalagi untuk dijadikan suami, kau sungguh tidak layak Angga." gumam Cika di dalam hatinya sambil terus mencaci maki Angga.
Sedangkan Angga, dia hanya fokus mengendarai motornya, saat ini dia berencana akan mengajak Cika menuju ke pasar yang sangat ramai dan tak jauh dari tempat mereka tinggal.
__ADS_1
Dan hanya memakan waktu setengah jam saja, kini mereka pun sudah tiba di tempat tujuan Angga.
"Ayo turun sayang." ajak Angga tersenyum manis.
Cika menuruti perintah Angga, sambil melihat kekanan dan kekiri.
"Kau mau membawaku kemana Angga?" tanya Cika merasa heran.
"Tentu saja ke pameran itu, kebetulan sekali aku mempunyai uang lebih, jadi aku ingin mentraktirmu makan hari ini dan juga membelanjakanmu beberapa potong baju." jawab Angga sambil membantu Cika melepaskan helm yang dia kenakan.
"Mentraktir makan dan belanja? Memangnya kau punya uang berapa?"
"Aku ada uang 400 ribu, hasil kerjaku selama dua minggu di toko bapak. Apakah kamu tahu, sejak kau pergi ke Jakarta, aku terus giat bekerja membantu bapak. Bahkan aku juga banyak belajar ilmu teknologi informasi yang di ajarkan oleh bapakku sendiri. Sungguh aku tidak menyangka jika bapak adalah orang yang sangat pintar." puji Angga dengan bangga.
Mendengar cerita dari kekasihnya, entah mengapa malah membuat Cika merasa jengah.
Jika dulu dia merasa senang, tapi beda dengan saat ini, Cika benar-benar ilfil dan juga muak ketika mendengar cerita Angga yang tidak penting baginya.
"Iya aku sudah tahu Angga. Kau selalu mengulang cerita yang sama, sekarang ayo kita menyebrang, jangan membuang buang waktuku Angga! " sarkas Cika dengan nada marah.
Mendengar perkataan Cika, Angga pun menjadi terkejut. Dia bisa merasakan perbedaan dari kekasihnya yang semakin dingin kepada dirinya.
Namun Angga tidak mau menerka ataupun berpikir jelek untuk wanita yang sangat dia cintai. Setelah itu Angga pun melangkah kearah Cika, yang hendak menyebrangi jalan besar yang terlihat ramai.
Kebetulan, pasar itu terletak di sebrang jalan lintas, sedangkan parkiran di depan pasar sudah penuh, jadi Angga memutuskan untuk memarkirkan motornya di sebrang jalan.
Dan ketika Angga ingin memegang tangan Cika. Tiba-tiba saja wanita itu menghempaskan tangannya agar tidak dapat disentuh oleh Angga, lalu dia pun pergi meninggalkan Angga begitu saja.
Bahkan sangking kesalnya, Cika tidak memperhatikan jalan lintas yang terlihat ramai dengan mobil truk yang berlalu lalang. Angga merasa sangat terkejut kala melihat sebuah mobil truck dari sisi kanan melaju dengan kecepatan kencang.
Sungguh Angga langsung panik dan juga down, jantungnya seakan mau copot dari tempatnya. Otaknya juga langsung bleng.
Hingga tak lama kemudian, perkataan sang ibu pun terngiang ditelinga Angga. Jika dia harus menjaga Cika agar kedua orang tuanya tidak marah kepada dirinya.
Dan ketika mobil truk itu hampir mendekati tubuh Cika, dengan cepat Angga langsung berlari mengejar Cika. Dia berusaha keras agar dapat menyelamatkan Cika.
Hingga tak lama berselang....
__ADS_1
"Cika awas… … !!!!!!!! ""
Brrrakkkkkkkkk… .. . . . . . . …