
Tut… tut….. Tut…
Suara alat jantung yang normal terdengar mengalun di telinga ibu Fatma. Namun sayang karena putra kesayangannya sudah dua hari ini belum juga sadarkan diri.
Dokter berkata, bahwa kecelakaan yang menimpa Angga adalah kecelakaan yang sangat mengerikan. Tapi nasib baik masih memihak kepadanya, karena menurut hasil ronsen, seluruh tubuh Angga tidak ada yang mengalami patah tulang maupun luka serius.
Namun tidak dengan bagian kepala Angga. Kepala Angga mengalami benturan yang sangat hebat, bahkan Dokter berkata bahwa otak Angga bisa menjadi idiot dan juga mengalami hal serius yang lainnya.
Ibu Fatma menghela nafas kasar. Air mata terus jatuh membasahi pipinya yang tampak mengeriput.
"Hiks.. Hiks.. Kenapa kamu belum sadar juga nak? Apakah kau tidak mau lagi menatap wajah ibumu ini?" tanya Ibu Fatma sambil mencium tangan Angga.
"Andai, ibu tidak mengizinkanmu untuk pergi saat itu. Pasti kau tidak akan mengalami nasib seperti ini." ucapnya lagi merasa menyesal.
Sungguh, hati ibu Fatma merasa sangat sakit. Apalagi setelah mengetahui bahwa pengorbanan yang Putranya lakukan tidak di anggap sama sekali oleh orang yang seharusnya mengalami kecelakaan tragis itu.
Bahkan sudah dua hari ini, Cika maupun kedua orang tuanya tidak menampakkan batang hidungnya untuk menjenguk Angga. Bertambah sedih lah perasaan ibu Fatma dan pak Burhan, yang melihat pengorbanan putra mereka benar-benar rendah di mata wanita yang Angga cintai.
"Angga! Kau harus kuat Nak. Dan kau harus selamat. Agar kau tahu, bahwa wanita yang kau cintai itu tidak baik untukmu. Dia bahkan tidak menghargai pengorbananmu sedikitpun sayang. Sungguh malang nasibmu Nak." bisik ibu Fatma kembali meneteskan air mata.
Hingga tak lama kemudian, tampak seorang suster yang datang memanggil ibu Fatma. Dia mengatakan jika waktu besuk pasien sudah habis.
Dengan langkah lunglai ibu Fatma pun terpaksa pergi meninggalkan ruangan ICU tersebut. Dan setibanya di luar, Ibu Fatma langsung disambut dengan tatapan sayup dari suaminya pak Burhan.
"Pak! Putra kita belum sadar juga. Apakah dia akan kembali siuaman pak. Ibu sangat takut pak, jika sampai terjadi sesuatu kepada putra kita pak!" seru ibu Fatma yang tampak lemah.
Melihat hal itu, dengan cepat pak Burhan bergegas menangkap tubuh ibu Fatma yang terlihat lunglai tak berdaya. Sejujurnya saat ini Pak Burhan juga sama halnya dengan istrinya, tapi sekuat mungkin dia berusaha tegar di mata istrinya dan terus menyemangati ibu Fatma.
"Buk! Kita serahkan semuanya kepada yang di atas, bapak yakin, jika setiap cobaan yang dilimpahkan kepada umatNya, pasti memiliki hikmah tersendiri, sekarang kita hanya perlu berdoa Buk. Biarkan Dokter yang berusaha untuk menyelamatkan putra kita." ujar Pak Burhan sambil memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Kau benar pak. Seharusnya ibu gak boleh sedih seperti ini. Ibu yakin kalau putra kita adalah pria yang kuat."
Mereka tampak saling menguatkan antara satu sama lain. Dengan satu keyakinan bahwa Angga Perwira akan segera sadar dari komanya.
****
Sedangkan di tempat lain, di sebuah rumah yang paling besar yang ada di kampung tempat tinggal Angga.
Terdengar perdebatan alot yang terjadi di antara ibu dan anak. Cika yang sudah dua hari dikurung di dalam kamar, kini berusaha kabur dari rumah agar dapat menjenguk Angga di rumah sakit.
Namun, belum juga dia berhasil keluar, ternyata ibu Ratih sudah memperegoki aksi putrinya yang hendak membuka pintu ruang tamu menggunakan kunci cadangan.
"Masuk Cika! Mama tidak akan mengizinkanmu keluar untuk menjenguk pria miskin itu." ibu Ratih langsung menarik pergelangan tangan Cika agar kembali menutup pintu.
Sedangkan Cika, yang mendapatkan larangan dari Mamanya pun merasa sangat geram.
"Enggak Ma! Aku harus jenguk Angga. Karena dia yang sudah menyelamatkan nyawaku Ma. Aku mau lihat keadaan dia saat ini."
"Apa maksud Mama. Memangnya kenapa mereka harus menyuruhku bertanggungjawab? Ini semua bukan kesalahanku ma!"
"Iya, ini memang bukan kesalahanmu. Tapi karena menyelamatkan nyawamu, sehingga Angga mengalami kecelakaan. Bisa kau bayangkan jika Angga menjadi cacat dan tidak bisa berjalan lagi, lalu kedua orang tuanya meminta kau agar menjadi kaki untuk putra mereka, dengan kata lain menjadikanmu sebagai istrinya, apakah kau bersedia melakukan itu Cika!"
"Apa! Istri. Tidak ma. Aku tidak mau, aku tidak mau mempunyai suami cacat seperti Angga. Aku tidak mau Ma!" jawab Cika berteriak histeris.
Sungguh dia tidak dapat membayangkan betapa hancur masa depannya, jika memang hal itu harus dia alami.
Saat ini Cika benar-benar merasa takut, takut kalau dia harus bertanggungjawab atas kecelakaan yang menimpa Angga.
"Ya sudah, kalau begitu, kau turuti perkataan mama Cika. Besok kau harus sudah pergi dari kampung ini. Sebelum Angga pulang dari rumah sakit dan mengejar ngejar dirimu untuk meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah menimpa dirinya." titah ibu Ratih menatap lekat kedua mata putrinya.
__ADS_1
"Baik ma. Sekarang juga aku akan mengemasi barang barangku." Cika tampak ketakutan, apalagi setelah mendengar perkataan sang mama, tentu saja Cika menjadi syok.
Dia juga tidak sudi jika harus membayar pengorbanan yang dilakukan oleh Angga. Maka dari itu, Cika setuju dengan keputusan mamanya yang akan membawa dirinya pindah menuju kota Jakarta.
Hingga keesokan harinya, mereka satu keluarga sudah bersiap siap untuk segera pergi menuju ke kota Jakarta
Namun ketika Cika sedang berdiri di depan pintu pagar, dia langsung terkejut kala melihat kedatangan dari pria paruh baya yang tak lain adalah bapaknya Angga.
"Om Burhan!" pekik Cika merasa panik.
Pak Burhan menatap nyalang kearah gadis itu. Sungguh keluarga mereka benar-benar tidak mempunyai hati sedikitpun. Bisa bisanya setelah memutuskan hubungan secara sepihak, ketika putranya belum sadarkan diri.
Kini mereka semua malah bersiap siap akan segera pergi meninggalkan kampung tempat mereka tinggal.
"Apakah begini caramu membalas pengorbanan putraku Angga!" teriak pak Burhan dengan nada emosi.
Cika tersentak kaget kala mendapatkan teriakan tersebut, dengan terbata bata dia pun menjawab pertanyaan dari pria paruh baya itu.
"Om. Maaf, tapi aku sungguh harus pergi. Karena jadwal kuliahku akan segera dilangsungkan."
"Bohong. Kau sama saja liciknya dengan kedua orang tuamu itu Cika. Setelah kau membuat putraku kecelakaan, kini kau pergi begitu saja. Apakah kau tahu apa yang terjadi kepada putraku saat ini! Apakah kau tahu?"
"Tidak. Aku tidak tahu om. Tapi aku yakin Angga akan baik baik saja. Karena dia adalah pria yang kuat.
"Cih! Baik bagaimana yang kau maksud itu hah! Saat ini putraku menjadi buta. Dia sudah tidak bisa melihat lagi Cika. Dokter baru saja memberitahu kepada kami pagi ini. Dan Angga di vonis tidak dapat melihat untuk selamanya. Kau tahu betapa hancurnya hatiku ini Cika."
Jeduarrr… .. .
Jantung Cika seakan mencolos dari tempatnya. Setelah mengetahui berita yang diucapkan oleh pak Burhan.Dan keyakinannya sudah semakin bulat, jika dia harus secepatnya menjauhi Angga agar kedua orang tua Angga tidak menuntut dirinya agar menjadi mata pengganti untuk Angga.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau. Secepatnya aku harus pergi dari kampung ini." gumam Cika di dalam hati merasa sangat ketakutan.