Pria Buta Yang Genius

Pria Buta Yang Genius
Berkunjung Ke rumah Orang Tua Angkat


__ADS_3

Tidak terasa malam telah datang menyapa, dan Angga yang sudah berjanji akan datang ke rumah Tuan Roberto, langsung menjemput Rebecca di depan komplek perumahan tempat tinggalnya.


Rebecca memutuskan untuk berjalan kaki, agar pamannya tidak mencurigai dirinya. Jangan sampai paman Wiliam mengetahui kalau Angga selama ini hanya sedang menyamar guna mengelabui mereka semua.


Sesampainya di dalam mobil, Angga dan Rebecca saling berbincang membahas pertemuan bersama Tuan Roberto dan juga istrinya.


Sedangkan pak Tagor. Hanya diam sambil fokus menyetir.


"Angga..! Aku rasa Tuan Roberto dan istrinya begitu baik kepadamu. Dia bahkan mau menganggapmu sebagai putra angkat mereka." ucap Rebecca kepada Angga.


"Kau benar Rebecca. Aku juga merasakan hal sama. Sebenarnya aku sedikit heran, bagaimana mungkin Tuan Roberto begitu mempercayai diriku? Seakan akan Tuan Roberto sudah mengenal jati diriku sejak lama." jawab Angga membuat pak Tagor tersenyum tipis.


Angga tidak tahu saja, jika kehadiran Tuan Roberto sudah direncakan sedemikian rupa oleh bosnya Jackson.


Jackson sengaja memperkenalkan Angga kepada Tuan Roberto. Karena Tuan Roberto adalah orang yang baik dan dapat di percaya.


Hampir satu jam kemudian, akhirnya mereka sudah tiba di depan rumah mewah milik Tuan Roberto. Angga dan Rebecca keluar bersamaan dari dalam mobil. Diikuti oleh pak Tagor yang menyusul mereka dari arah belakang.


"Pak...! Apakah kau sudah memberitahu Tuan Roberto jika akan segera tiba di rumahnya?" tanya Angga kepada pak Tagor.


"Tentu Tuan. Sekarang ayo masuklah, Tuan Roberto bersama istrinya sudah menunggu kedatangan Tuan dan nona Rebecca." jawab pak Tagor mempersilahkan mereka berdua untuk naik ke atas teras.


Dan baru saja langkah kaki mereka memijak teras di rumah mewah itu, tak lama pintu rumah pun di buka dari dalam, dan muncullah sepasang suami istri yang menyambut kedatangan Angga dan Rebecca tersenyum bahagia.


"Wah.... akhirnya tamu yang kita tunggu tunggu sudah tiba pa." ucap istri Tuan Roberto yang bernama Sinta.


"Kau benar ma. Coba kau lihat baik baik putra kita. Bukankah dia sangat tampan dan gagah!"

__ADS_1


"Kau benar pa. Angga sangat mirip denganmu saat masih muda dulu." goda nyonya Sinta sambil melangkah mendekati mereka berdua.


Rebecca tersenyum ramah, begitu juga dengan Angga. Dan setibanya nyonya Sinta di hadapan mereka, Rebecca pun langsung menarik tangan tante Sinta dan menciumnya sopan.


"Selamat malam tante. Senang bisa bertemu dengan tante." ucap Rebecca ramah.


"Sayang! Tolong jangan panggil tante. Panggil saja mama, karena aku adalah mama angkatannya Angga." pinta mama Sinta kepada Rebecca.


"Baiklah mama. Terimakasih karena mama sudah menganggap Angga sebagai putra mama. Aku sangat senang mendengar berita ini ma."


"Sama sama sayang. Mama juga bahagia mempunyai anak angkat seperti Angga dan calon menantu secantik kamu." puji mama Sinta menyentuh pipi Rebecca.


Lalu Angga juga ikut menyalami tangan Mama Sinta dan papa Roberto.


"Nak, papa senang karena kau telah menepati janjimu untuk datang ke rumah papa. Kau benar-benar pria yang dapat dipegang omongannya." puji papa Roberto mengelus pundak Angga.


"Tentu aku akan datang ke rumah mu pa. Karena aku ingin berkumpul dengan kedua orang tua angkatku."


"Hahahha.....! Kau bisa saja Angga. Kalau begitu ayo masuklah, kita akan melakukan makan malam terlebih dahulu. Setelah itu barulah aku akan menghubungi kedua orang tuamu." ajak ayah Roberto kepada mereka semua.


Setelah itu mereka semua masuk ke dalam rumah mewah milik Tuan Roberto.


Sesampainya di ruangan makan, mama Sinta langsung menyajikan makan malam di atas piring mereka berdua. Entah mengapa wanita paruh baya itu sangat menyukai dan menyayangi mereka. Tuan Roberto yang melihat senyum merekah terpancar dari bibir istrinya pun merasa bahagia.


Akhirnya istrinya bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai anak dan calon menantu.


"Makan yang banyak Angga. Agar selalu sehat dan bertambah kuat."

__ADS_1


"Terimakasih ma. Mama sangat perhatian kepadaku." jawab Angga tersenyum.


"Iya, aku adalah mama mu, jadi harus perhatian kepada putranya. Dan begitu juga dengan mu Rebecca. Jangan sungkan kepada mama. Karena mama ingin jika kalian tidak sungkan kepada mama. Anggap saja mama ini sebagai sahabat kalian berdua."


"Pasti ma. Terimakasih ma. Aku seperti menemukan sosok seorang ibu ketika melihat mama." jawab Rebecca bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh mama Sinta.


Melihat pemandangan yang menghangatkan itu, Pak Tagor dan tuan Roberto, saling tersenyum senang. Tidak sia sia dirinya mendekati Angga. Karena selain genius Angga juga sangat pantas menjadi seorang putra untuk mereka berdua.


"Terimakasih pak Tagor. Kau telah mengirimkan orang yang tepat untukku. Oya, besok kau dan Angga harus pergi ke klinik milik Dokter Bagas. Karena Dokter dari Korea sudah tiba dan akan langsung memeriksa kedua mata Angga. Aku ingin sebelum Angga menikah, maka dia sudah bisa melihat." titah tuan Roberto kepada pak Tagor.


"Siap tuan. Aku akan melakukan perintah dari tuan. Tapi kalaupun tuan Angga sudah bisa melihat, dia tetap tidak bisa menampilkan jati dirinya yang sebenarnya tuan. Karena Tuan Angga mempunyai misi sendiri untuk mengelabui paman Nona Rebecca." jelas pak Tagor berkata pelan sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Mendengar hal itu, Tuan Roberto langsung terdiam. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi oleh Rebecca. Namun Angga menolak jika dirinya ikut campur dalam masalah ini.


"Baiklah, tidak masalah pak Tagor. Yang terpenting Angga bisa kembali melihat. Aku ingin menjadikan Angga pria tersukses di negara ini. Oya bagaimana dengan kedua orang tua Angga? Apakah mereka akan datang ketika acara pernikahan Angga dilaksanakan?"


"Maaf tuan. Sepertinya kedua orang tua Angga tidak akan hadir. Karena mereka masih bersembunyi sampai saat ini. Sangat beresiko jika Pak Burhan menampakkan dirinya di publik. Karena para musuhnya masih berkeliaran mencari dirinya."


"Oh, jadi begitu. Kasihan sekali pak Burhan itu ya, harus menanggung sesuatu hal yang begitu mengerikan. Pantaslah jika dia bersembunyi demi keselamatan nyawanya dan juga keluarganya. Lain waktu aku ingin sekali mengobrol dengannya secara langsung. Apakah kau bersedia mengantarkan aku menuju ke tempat tinggalnya pak Tagor?"


"Tentu tuan. Saya siap mengantarkan anda tuan." jawab pak Tagor tegas.


Angga yang mendengar bisikan dari mereka berdua hanya bergumam di dalam hatinya.


"Sebenarnya apa yang sedang Papa Roberto dan pak Tagor bicarakan? Sepertinya sangat serius sekali. Tapi mengapa mereka harus berbicara pelan seperti itu? Apakah aku tidak boleh mendengar pembicaraan mereka?"


Angga bertanya tanya, namun dia tidak mau berpikira yang bukan bukan. Lalu Angga kembali melanjutkan makan malamnya sambil mendengar Rebecca dan mama Sinta bercengkrama bahagia.

__ADS_1


__ADS_2