Pria Buta Yang Genius

Pria Buta Yang Genius
Angga Kembali Bisa Melihat


__ADS_3

Hanya membutuhkan waktu dua hari saja, akhirnya perban di kedua mata Angga sudah bisa di buka. Tuan Roberto memang sengaja memilih operasi menggunakan pengobatan yang sangat mahal, agar penyembuhan Angga bisa lebih cepat dari operasi yang biasanya.


Tuan Roberto tidak masalah jika harus melontarkan begitu banyak dana demi kesembuhan putra angkatnya itu. Hingga kini, Angga yang sudah dua hari menginap di klinik Dokter Bagas, merasa berdebar kencang ketika Dokter Bagas dan Dokter Park Shin akan membuka perban yang membalut di kedua matanya itu.


"Apakah tuan Angga sudah siap?" tanya Dokter Bagas tersenyum.


"Sudah Dokter. Semoga saja aku bisa melihat lagi seperti dahulu lagi." jawab Angga panas dingin.


"Pasti tuan. Operasi yang dilakukan oleh Dokter Park tidak pernah gagal sekali pun, makanya dia bisa menjabat sebagai Dokter ahli mata terhebat di negara Korea. Bukankah begitu Dokter!" goda Dokter Bagas tersenyum.


"Kau terlalu memujiku Dokter Bagas. Yang terpenting setelah perban kami lepaskan maka anda harus menjaga makanan dan mengkonsumsi obat dengan teratur. Jangan sampai anda mengalami infeksi ataupun gangguan yang lainnya." jelas Dokter Park yang ternyata sangat mahir dalam berbahasa Indonesia.


Angga mengangguk menurut. Dia berjanji di dalam hatinya, jika dia tidak akan menyia nyiakan lagi kesempatan yang ada. Dan dia juga akan mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga dari orang yang bersedia mendonorkan kedua mata untuk dirinya.


kini ruangan rawat itu menjadi hening senyap, seluruh orang yang berada di dalam ruangan merasa berdebar ketika perban yang melingkar di kepala Angga mulai di putar hingga terlepas dari kepala Angga.


Begitu juga dengan Angga. Dia sampai meremat sprei dengan kuat, guna menetralkan perasaan yang sangat tidak karuan itu.


Hingga detik kemudian. Perban sudah tebuka sempurna, menyisakan dua kapas yang masih menutup kedua mata Angga. Dokter Bagas langsung memberikan perintah kepada Angga agar membuka matanya secara perlahan.


Rebecca dan mama Sinta tampak saling berpegang tangan. Mereka sama sama berdoa agar operasi yang Angga jalani berhasil dengan hasil yang memuaskan.


"Ayo buka mata mu tuan Angga. Jangan terlalu dipaksa, mungkin untuk awal kau akan merasa sedikit aneh, tapi itu tidak akan berlangsung lama." titah Dokter Bagas kepada Angga.


Lalu dengan perlahan Angga mulai membuka kedua matanya, dan hal yang pertama yang dia rasakan adalah, rasa sedikit aneh seperti ada yang mengganjal di kedua bola matanya, namun sedikit demi sedikit, Angga dapat melihat cahaya redup yang masuk kedalam rentina matanya.


Angga berusaha menetralkan penglihatan agar cahaya yang masuk dapat dia lihat dengan sempurna, dan tak lama kemudian... Angga tampak tersenyum sambil berkata bahagia.

__ADS_1


"Dokter...! Saya bisa melihat kembali Dokter. Saya bisa melihat ruangan ini dengan jelas, saya bisa melihat lagi Dokter." Angga berteriak histeris hingga berlinang air mata.


Tuan Roberto dan Mama Sinta yang melihat itu pun langsung berlari memeluk tubuh Angga. Akhirnya usaha yang mereka lakukan tidaklah sia-sia. Operasi yang Angga jalani berhasil dengan sangat cepat.


"Terimakasih Dokter. Terimakasih karena kalian sudah menyembuhkan putra ku Angga." ucap pak Tagor berkata lirih.


"Benar yang dikatakan oleh suamiku Dokter. Kalian akan mendapatkan bonus dari usaha kalian yang sungguh luar biasa ini. Terimakasih sekali lagi Dokter." timpal mama Sinta menatap kedua Dokter itu.


"Sudah menjadi tugas kami nyonya. Dan sekarang Tuan Angga telah sembuh serta bisa melihat kembali. Kami juga sangat senang karena dapat menyelesaikan tugas kami dengan baik." jawab kedua Dokter itu dan langsung keluar setelah memberikan obat serta pesan kepada Angga.


Angga tersenyum bahagia dengan keadaannya saat ini. Dan setelah kedua orang tua angkatnya melerai pelukannya, tatapan mata Angga pun terarah menuju kepada seorang wanita cantik yang sedari tadi berdiri diam sambil mengeluarkan air mata.


Dan wanita itu adalah Rebecca. Angga tersentak kaget kala melihat wajah wanita yang begitu cantik itu. Bagaimana mungkin wanita secantik Rebecca bisa memilihnya sebagai calon suami untuk dirinya.


"Rebecca...!" sapa Angga tersenyum.


Kedua orang tua itu tertawa lucu melihat tingkah Rebecca, begitu juga dengan pak Tagor, yang ikut bahagia melihat Rebecca bersama tuanya Angga.


"Kemarilah, peluk aku." kata Angga sambil membuka kedua tangannya kearah Rebecca.


Rebecca seperti film india yang langsung berlari menubruk tubuh Angga yang kekar itu. Sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika pria buta yang dia pilih menjadi calon suaminya kini bisa melihat kembali dan menjadi seorang pria yang begitu sempurna.


"Kenapa kau menangis Rebecca! Apakah kau tidak senang melihat keadaanku saat ini?" tanya Angga menggoda Rebecca.


Mendengar pertanyaan Angga, Rebecca langsung memukul dada bidang pria itu sambil terisak manja.


"Siapa bilang aku tidak senang hah! Aku bahkan seperti mimpi rasanya, karena setelah kau bisa melihat, entah mengapa ketampananmu menjadi bertambah berkali-kali lipat."

__ADS_1


"Hahaha.....! Benarkah begitu? Aku rasa sejak dulu aku juga sudah tampan berkali-kali lipat Rebecca."


"Angga...! Kenapa kau sangat menyebalkan sekali." Rebecca terus memeluk tubuh Angga hingga berkali-kali. Rasanya dia semakin menyukai pria tampan itu.


Melihat Angga dan Rebecca yang masih saling berbincang bahagia. Tuan Roberto langsung memberikan isyarat kepada pria di belakangnya. Pak Tagor yang melihat gerakan tangan tuan Roberto, langsung mengangguk mengerti dan keluar dari dalam ruangan perawatan.


Tujuannya saat ini, akan menjemput dua orang wanita dan pria paruh baya yang baru saja tiba di depan pelataran klinik Dokter Bagas.


"Hati hati Pak Tagor. Ingat, jangan sampai kedatangan mereka terlihat oleh orang lain." ucap Tuan Roberto yang di ingat jelas di benak pak Tagor.


Sesampainya di depan teras, Pak Tagor langsung melangkah mendekati kedua orang yang memakai penutup wajah dan baru turun dari dalam mobil.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya. Ayo silahkan masuk ke dalam, kalian akan diantarkan oleh pria yang ada di samping tuan." sapa pak Tagor memberitahu kedua orang itu.


"Baik, terimakasih kembali pak Tagor. Tanpa bantuan bapak, mungkin kami tidak akan bisa sampai di sini dengan selamat."


"Sama sama tuan. Sudah menjadi tugas saya untuk menjemput Tuan dengan selamat."


Setelah itu, kedua orang tersebut langsung masuk ke dalam klinik di antarkan oleh beberapa pria berbaju hitam yang mengawal mereka.


Melihat mereka yang telah menghilang dari pandangannya, pak Tagor langsung masuk ke dalam mobil, guna mendekati dua orang pria berbaju hitam yang masih berada di dalam mobil itu.


"Bagaimana? Apakah ada yang mencurigakan?" tanya pak Tagor duduk di kursi belakang.


"Iya, seperti dugaan Bos. Jika musuh yang sebenarnya memang masih mencari keberadaan Pak Burhan dan juga sahabatnya almarhum tuan Boby. Lalu selanjutnya apa yang harus kami lakukan pak Tagor?"


"Tetap kawal kedua orang tua tuan Angga dari kejauhan. Jangan terlalu mencolok. Setelah ini mereka akan aku bawa ke tempat yang aman. Oya, beberapa hari lagi aku akan terbang keluar negeri, menuju ke rumah sakit pribadi milik Bos. Guna mempertemukan tuan Angga bersama Bos kita. Mungkin ini akan menjadi momen yang sangat penting. Karena setelah itu, kita tidak tahu, apakah bos kita masih bisa bertahan atau tidak. Andai Bos di panggil oleh yang maha kuasa, maka kita akan menyiapkan Tuan Angga menjadi ketua kita selanjutnya." jelas Pak Tagor dengan nada tegas.

__ADS_1


__ADS_2