
Cika terseok seok berjalan disamping trotoar jalan besar yang ada di depan gedung apartemen mewah tersebut.
Berkali-kali dia mendongakkan wajahnya menatap gedung mewah yang pernah menjadi tempat tinggalnya itu. Tidak pernah mengira jika dirinya hanya beberapa tahun saja bisa tinggal di tempat itu.
Rasa geram dan benci telah menjadi satu. Sambil memegang koper di tangannya, Cika berkali-kali meremat gagang koper itu dengan kuat.
"Agggrrrr.....! Lihat saja kau David. Aku pasti akan membalas semua kejahatanmu ini. Dan aku akan mendapatkan pria kaya yang lebih hebat untuk membalaskan dendam ku kepadamu. Ingat itu David!" teriak Cika sambil menyentak nyentakkan kakinya kuat.
Dia sudah tidak perduli lagi akan tatapan orang orang yang berlalu lalang di jalan besar tersebut. Karena dirinya hanya memikirkan rasa dendam dan marah kepada David.
Setelah itu, Cika kembali melanjutkan perjalanannya. Entah kemana dia harus melangkah, Sudah sejak bertahun tahun Cika menggantungkan hidup kepada David Becam, bahkan dia tidak memiliki teman dekat karena Cika merasa khawatir jika temannya itu akan merebut David dari dirinya.
"Lebih baik aku beristirahat sejenak di kursi tunggu itu." gumam Cika sambil melangkah mendekati kursi tunggu yang ada di pinggir jalan.
Cika menarik nafas dalam, dia menyeka keringat yang membanjiri keningnya, orang orang yang melihat kedatangan Cika langsung menatap heran.
Wanita itu, sangat cantik dan berpenampilan sexy, dengan menggunakan rok ketat sebatas paha dan baju kemeja ketat yang membalut tubuh semoknya. Menyadari tatapan orang orang, Cika langsung menampilkan wajah garang.
"Apa lihat lihat? Apakah kalian mempunyai urusan kepadaku?" bentak Cika kepada orang orang tersebut yang sedang menunggu kedatangan bus umum.
Orang orang yang terkena bentakan Cika langsung membuang muka. Sedangkan Cika langsung membuka handphonenya yang sedari tadi sudah berdering.
"Hallo ma!" sapa Cika di telfon.
"Hallo Cika. Kamu sedang berada di mana saat ini? Apakah kamu sudah di kantor?" tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah mama Ratih.
Mendapatkan pertanyaan itu membuat Cika mengernyitkan keningnya, dia merasa bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Iya ma, aku sudah berada di kantor." jawab Cika berbohong.
"Bagus lah kalau begitu. Sebenarnya mama hanya ingin memperingatkan kamu, agar kamu tidak dekat dekat dengan Angga. Mama yakin jika saat ini dia sedang mencari keberadaanmu guna menumpang hidup dan juga kesuksesan. Ingat Cika! Kau tidak boleh bertemu dengan pria pembawa sial itu."
"Kenapa mama selalu berkata seperti ini kepada Angga? Apakah mama tahu jika Angga saat ini sudah sukses, bahkan dia lebih sukses dari pada aku ma!"
Cika berteriak kesal kepada mama Ratih. Dan Cika juga langsung mengatakan apa yang terjadi dengan Angga saat ini. Sedangkan mama Winda yang mendengar perkataan Cika langsung membulatkan kedua matanya.
Mana mungkin, pria buta dan bodoh seperti Angga bisa sukses di kota yang besar itu.
"Tidak! Kau pasti bohong kan Cika? Mana mungkin Angga si pria buta dan bodoh itu bisa sukses melebihi dirimu. Mama tidak percaya Cika!"
"Terserah mama mau percaya atau tidak. Yang jelas aku akan kembali mengejar dirinya. Aku tidak rela jika Angga direbut oleh wanita lain."
"Apa katamu! Kau jangan kurang ajar Cika! Jangan membuat malu kami berdua. Mama dan Papa mu selalu memfitnah keluarga pak Burhan agar mereka di usir dari kampung ini, dengan cara memfitnah putra buta mereka yang sedang berada di kota Jakarta.. Lalu sekarang kau mengatakan jika kau ingin kembali mengejar Angga! Apakah kau tidak punya pikiran Cika! Jangan gila kau Cika!"
Mama Ratih langsung emosi kala mendengar perkataan Cika. Dia tidak akan membiarkan putrinya kembali berhubungan dengan pria buta dan miskin itu.
"Terserah mama mau berkata apa. Yang jelas aku akan tetap berusaha mendapatkan Angga kembali. Dan perlu mama tahu. Saat ini Angga sudah tidak buta, dia juga sudah sukses dan kaya raya. Bahkan dia telah mempunyai anak buah yang memanggil dirinya dengan sebutan Tuan. Dan dia juga menjadi orang kepercayaan dari perusahaan Tuan Roberto. Bagiku itu sudah cukup ma. Aku juga masih sangat mencintainya. Jadi sudah pantas jika aku mengejar dirinya kembali."
Tutt.... tutt.....
Cika langsung mematikan panggilannya, membuat mama Ratih yang berada di kejauhan sana semakin meradang.
Dia benar-benar tidak sudi menjadi besan dari dua orang yang sudah lama tidak dia sukai.
"Dasar anak kurang ajar! Sampai kapanpun aku tidak akan merestui niatmu ini Cika!" teriak mama Ratih dengan nada emosi.
__ADS_1
Sedangkan Cika, dia langsung tersenyum senang. Sepertinya saat ini dia sudah memiliki tujuan. Yaitu mengejar Angga kembali agar kembali ke dalam pelukannya.
"Angga! Aku yakin kau masih sangat mencintai diriku. Karena aku tahu, jika cintamu kepadaku begitu besar. Sekarang aku akan menyusulmu ke perusahaan Tuan Roberto." gumam Cika langsung menyetop taksi yang lewat di depannya.
Setelah itu Cika pun pergi menuju ke perusahaan milik Tuan Roberto. Sambil terus tersenyum membayangkan masa lalu mereka berdua yang begitu indah.
****
Di perusahaan Tuan Roberto, sedang di adakan acara yang begitu megah di aula yang ada di samping perusahaan tersebut.
Pagi ini, Tuan Roberto ingin mengumumkan jika dirinya akan mengangkat Angga sebagai direktur perusahaan di perusahaan miliknya itu.
Sedangkan Tuan Roberto sendiri, akan pindah memimpin perusahaan yang baru, milik David Becam yang sudah menjadi miliknya.
Angga yang mendapatkan berita itupun merasa sangat terkejut. Sungguh keputusan Tuan Roberto tidak pernah dia ketahui sebelumya.
"Pak Tagor! Apa ini? Mengapa Tuan Roberto mengangkatku sebagai Direktur dari perusahaan miliknya? Apakah ini bukan keputusan yang salah!" bisik Angga kepada pak Tagor.
"Tuan. Anda memang pantas menjadi seorang direktur perusahaan. Karena anda memiliki kemampuan yang sangat genius."
"Genius bagaimana maksudmu pak Tagor? Apakah kau lupa jika aku hanyalah pria buta? Aku bahkan tidak bisa melihat pak Tagor!" ucap Angga menekankan.
Pak Tagor langsung tersenyum miring, dan selanjutnya dia menuntun tangan Angga untuk segera naik ke atas podium, di mana Tuan Roberto sudah berdiri sambil menunggu kedatangannya.
Mau tidak mau, Angga mengikuti ajakan pak Tagor. Rasanya benar-benar seperti mimpi, dia yang hanya pria buta miskin, kini bisa dipercaya untuk memimpin sebuah perusahaan milik Tuan Roberto.
"Apakah ini mimpi? Bagaimana mungkin aku memimpin perusahaan dengan kekuranganku saat ini." gumam Angga di dalam hati.
__ADS_1
Dan setibanya di atas podium, tuan Roberto langsung memeluk tubuh Angga dengan bangga.
"Selamat Angga. Aku percayakan perusahaanku ini kepada mu, dan aku juga ingin mengatakan kepadamu, jika aku sudah mendatangkan dokter terbaik dari Korea untuk mengoprasi mata mu kembali. Aku yakin kau pasti bisa melihat lagi nantinya." ucap Tuan Roberto membuat Angga sontak merasa kaget.