
"Ada apa paman memanggilku?" tanya David yang baru saja tiba dan langsung menghempaskan bokongnya di atas kursi.
"Kenapa kau telat David! Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?" tanya paman William menatap curiga.
Melihat tatapan itu, David tersenyum kaku, jangan sampai apa yang dia lakukan bersama sekretarisnya Cika, diketahui oleh pria licik itu.
"Paman! Sebenarnya tadi aku sedang menyelesaikan masalahku,"
"Masalah! Masalah apa maksudmu David?" tanya paman William semakin menatap tajam.
"Bukan masalah yang penting paman, hanya masalah sepele saja, jadi paman tidak perlu mengetahuinya." jawab David tersenyum kecut.
Dia sudah bisa menebak, jika saja paman William mengetahui akan permasalahan yang sedang menimpanya saat ini, sudah pasti paman William akan mengamuk marah. Karena lagi lagi dirinya telah bertindak ceroboh tanpa berpikir dahulu.
"Ingat David. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani bermain main dibelakangku. Kau adalah kaki tanganku, jadi kau harus melakukan apapun yang aku perintahkan, selain itu maka jangan pernah kau bergerak sendiri tanpa persetujuan dariku. Atau jika tidak maka perusahaanmu akan aku rebut kembali." ancam paman William kepada David.
"Baiklah paman. Aku sangat ingat dengan apa yang telah kita janjikan, tanpa paman aku tidak mungkin bisa menjadi seperti saat ini."
"Ya, bagus jika kau sadar akan hal itu. Sekarang aku ingin memberikanmu tugas. Secepatnya kau harus bisa meluluhkan hati Rebecca, agar dia bisa mencintaimu dan menikah denganmu." titah paman William kepada David.
Mendengar perintah itu, David langsung tersenyum menyeringai, jujur saja dia sangat senang menerima tugas untuk mendekati Rebecca, tapi yang membuatnya merasa gemas terhadap wanita itu, karena Rebecca tidak mempan sedikitpun dengan rayuan maut yang dia keluarkan.
Bahkan sudah berkali kali dirinya ditolak mentah-mentah oleh wanita cantik itu, dan David belum menyerah jika semua menyangkut dengan harta kekayaan.
"Baiklah paman. Aku akan melakukan apa yang kau perintahkan ini, tapi… sama seperti sebelumnya, aku merasa jika Rebecca tidak menyukaiku paman. Dia bahkan selalu saja menolak setiap ajakanku untuk mendekatinya."
"Itulah yang menjadi tugasmu David! Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kau harus bisa mendapatkan dia dan menikah dengannya, agar seluruh harta mendiang kakaku bisa jatuh ketanganku. Jangan sampai dia membawa pria buta itu dan memperkenalkannya kepadaku." jelas paman William membuat David tersentak kaget.
__ADS_1
"Pria buta! Siapa yang paman maksud pria buta?" tanya David menatap penasaran.
"Iya, Rebecca mengatakan kepadaku jika dia menolak menikah denganmu karena dia sudah memiliki pria pilihannya sendiri, dan pria itu hanyalah seorang pria buta, yang pastinya miskin dan bodoh."
"Apa! Jadi Rebecca lebih memilih pria buta dibandingkan aku yang tampan dan kaya seperti ini! Tidak, ini tidak bisa dibiarkan paman. Dia benar benar sudah menghina harga diriku." bangkit David dari duduknya karena merasa sangat kesal.
Lalu dia mondar mandir kesana kemari sambil memukul dinding yang ada dihadapannya, saat ini mereka sedang berada di ruangan tertutup yang ada di perusahaan milik keluarga Harley.
Dan paman William sengaja mengajak David ketempat itu, agar tidak ada kuping ataupun mata mata yang bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Akhhgrrr… .. ! Aku sungguh emosi rasanya paman. Dia berkali-kali menolakku, tapi dia lebih memilih pria buta dibandingkan aku, sebenarnya apa mau dari wanita itu paman?"
"Itulah yang sedang aku cari tahu David. Apakah mungkin Rebecca sudah mencurigai bahwa kau adalah suruhan dariku? Makanya dia selalu menolakmu?" tebak paman William dengan sejuta pemikirannya.
"Aku tidak tahu paman. Tapi yang aku inginkan saat ini, bagaimana pun caranya aku tidak mau kalah dari pria buta itu. Rebecca harus jatuh ke tanganku paman."
Melihat tatapan itu, David langsung mengerti dan ikut tersenyum menyeringai, benar yang dikatakan oleh paman William, jika dengan cara halus tidak bisa, maka dia akan menggunakan cara yang kasar.
"Aku mengerti paman. Baiklah. Malam ini juga aku akan bergerak." David membenarkan jasnya sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan rahasia itu.
Sedangkan paman William, ikut tersenyum karena David sangat mengerti dengan apa yang dia inginkan.
"Bagus David. Kau benar-benar bisa ku andalkan, jika kau berhasil menghancurkan kehormatannya, aku yakin wanita licik itu tidak akan bisa menolakmu lagi." ucap paman William sambil tertawa terbahak bahak.
Sebenarnya paman William sangat menyayangi Rebecca, namun karena Rebecca terlihat suka memberontak dan melawan dirinya, maka paman William tidak mau mengambil resiko jika harus kehilangan apa yang telah dia nikmati selama ini.
****
__ADS_1
Di dalam mobil berwarna merah, terlihat seorang pria buta yang baru saja keluar dari dalam mobil tersebut. Diikuti oleh seorang wanita cantik yang bergerak tampak mengejar dirinya.
"Apa yang kau lakukan? Sudah kembalilah, aku ingin beristirahat!" seru Angga yang merasa risih karena diikuti terus menerus oleh wanita bernama Rebecca.
Rebecca tersenyum simpul melihat wajah Angga yang tampak dingin, sebenarnya Angga tidak ingin diantarkan pulang oleh dirinya, namun bukan Rebecca namanya jika dia tidak bisa mengabulkan apa yang dia inginkan.
"Tidak, aku akan mengantarkanmu sampai di depan pintu hotel, aku janji setelah itu aku akan langsung pulang." jawab Rebecca membuat Angga mendengus kesal.
"Kau benar-benar menjengkelkan. Kalau tidak karena permintaan pak Tagor. Mana mungkin aku mau menerima tawaranmu ini." sarkas Angga membuat Rebecca tertawa lucu.
"Sudah, jangan banyak membantah. Sekarang ayo kita masuk."
Rebecca langsung merangkul tangan Angga dan mengajaknya masuk kedalam loby hotel mewah tersebut.
Ketika mereka berjalan beriringan, banyak sepasang mata yang melihat kearah mereka berdua. Begitu juga dengan pekerja resepsionis yang sempat membicarakan Angga tadi pagi.
"Eh, lihatlah wanita itu, ternyata dia sudah menemukan keberadaan pria buta itu. Apakah mereka memiliki hubungan spesial?" tanya rekannya mulai bergosip.
"Entahlah, tapi mereka sangat terlihat cocok bukan, tapi sayang pria tampan itu ternyata buta." bisik satunya lagi ketika melihat Rebecca dan Angga sudah berjalan menuju ke dalam lift.
Sesampainya di dalam lift, Rebecca tertawa sampai terbahak bahak, dia dapat mendengar apa saja yang orang orang perbincangkan untuk dirinya.
"Apakah kau sudah gila? Bisa bisanya kau tertawa ketika mendengar orang lain menggosipimu?" tanya Angga sambil bersandar di dinding lift.
"Hahahah... hahah...! Ini benar-benar seru Angga. Aku merasa senang diperhatikan oleh orang orang seperti tadi. Sepertinya mereka benar jika kita adalah pasangan yang sangat serasi." jawab Rebecca membuat Angga membulatkan kedua bola matanya.
"Apa kau bilang? Aku rasa wanita ini memang tidak waras." gumam Angga pelan.
__ADS_1