Pria Buta Yang Genius

Pria Buta Yang Genius
Kecelakaan Tragis


__ADS_3

Brakkkk… …


"Akkkhhhhhhrrgggg..... "


Teriakan seorang wanita menggema di jalanan ramai itu, diikuti oleh orang orang yang ikut riuh menjerit histeris.


Kecelakaan tragis tidak dapat terhindarkan lagi. Cika yang dicampakkan kepinggir jalan oleh Angga langsung meneteskan air mata, kala melihat pria yang bersamanya telah terhempas dan jatuh bersimbah darah.


Cika bahkan tidak mampu untuk berkata kata, kembali maupun mengeluarkan suaranya setelah melihat kejadian yang sangat mengerikan itu. Rasanya seperti tercekik dan juga sesak di bagian dada, membuat Cika terdiam membisu persis seperti orang bodoh.


Air matanya terus jatuh berlinang deras. Beriringan dengan lemasnya tubuh lemah wanita itu.


"Cepat kita selamatkan pria itu. Dia tertabrak sebuah mobil truck besar. Darahnya sudah mengucur sangat deras!" seru orang orang yang berlari menyelamatkan Angga.


Angga sudah bersimbah darah tak sadarkan diri. Kepalanya adalah hal paling fatal yang terkena benturan cap mobil truck yang menyentuh tubuhnya.


Cika yang menyaksikan hal itupun hanya bisa menangis pilu. Sungguh dia tidak menyangka jika pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu rela berkorban hanya untuk menyelamatkan dirinya.


"Hiks… . Hiks… Apa yang sebenarnya aku lakukan! Kenapa aku tidak melihat kanan kiri terlebih dahulu. Sekarang bagaimana dengan keadaan Angga? Bagaimana kalau dia mati karena menyelamatkanku! Sungguh aku sangat takut saat ini." gumam Cika tampak sangat frustasi.


Sedangkan tepat di hadapannya saat ini, sudah ramai berkerumun orang orang yang ingin menolong Angga. Dan mereka langsung membawa Angga masuk kedalam mobil ambulan, setelah petugas kepolisian dan petugas rumah sakit datang untuk melihat situasi kecelakaan.


Cika yang masih merasa sangat syok pun hanya diam membisu, hingga tak lama dia dikejutkan oleh suara seorang wanita yang tak lain adalah petugas kepolisian.


"Nona! Apakah kau adalah rekan dari korban kecelakaan?" tanya polwan itu menatap lekat ke wajah Cika.


Cika masih terngungu diam. Dia bingung harus menjawab apa sungguh dia merasa sangat takut. Takut jika menjadi tersangka akibat kecelakaan yang menimpa Angga.


"Maaf Bu! Tapi sungguh saya tidak bersalah. Saya juga tidak tahu mengapa Angga menyelamatkan saya Buk polisi."


"Iya, kami sudah mengetahuinya Nona. Karena ada CCTV yang terekam di sudut atas sana. Sekarang sebaiknya Nona segera masuk ke dalam mobil ambulance, karena korban harus segera dibawa kerumah sakit"


"Baik. Baik ibu Polisi. Jika begitu saya akan segera masuk kedalam mobil ambulance."


"Oya, jangan lupa untuk segera menghubungi para keluarga korban ya Nona. Sedangkan untuk masalah penabrak, biar kami yang mengurusnya."


"Iya, terimakasih Bu Polisi." jawab Cika menghapus air matanya.


Setelah itu, Cika pun berlari kencang masuk ke dalam mobil ambulance yang sudah siap meluncur menuju kerumah sakit.

__ADS_1


****


Rumah sakit Kota Bogor.


Setelah hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil ambulance yang membawa Angga dan juga Cika sudah tiba dirumah sakit yang ada di kota Bogor.


Cika benar-benar merasa takut akan keselamatan Angga yang terus menerus mengeluarkan banyak darah. Rasanya dia sangat bersalah dan menyesal karena sudah menyebrang tanpa melihat kiri kanan terlebih dahulu.


Andai Angga tidak menyelamatkannya, sudah pasti, saat ini yang terbaring di atas brangkar rumah sakit itu pasti adalah dirinya.


Hingga tak lama berselang, Angga sudah masuk kedalam ruangan UGD. Para Dokter dan suster langsung memberikan pertolongan pertama kepada Angga.


Cika yang diperintahkan menunggu diluar pun bergegas menghubungi kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Angga.


Kebetulan Cika mempunyai nomor handphone milik bapaknya Angga.


"Hallo!" terdengar suara seorang pria yang mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Om. Ini aku Cika Om." jawab Cika sambil menangis terisak.


Disebrang sana, ayah Angga yang bernama Ayah Burhan pun merasa heran, ketika mendengar isakan tangis dari wanita yang tak lain adalah kekasih putranya Angga.


"Nak Cika ada apa? Kenapa terdengar menangis?" tanya pak Burhan khawatir.


"Ayo Jawab nak Cika! Apakah Angga telah melakukan sesuatu hal kepadamu? Om tahu kalau saat ini kau sedang bersama Angga. Ayo katakan sekarang juga? Apa yang sudah dilakukan oleh Angga?" tanya pak Burhan sekali lagi.


"Om.. Maaf, tapi Cika tidak sanggup untuk mengatakannya ditelpon. Sekarang juga cepatlah datang ke rumah sakit yang ada di kota Bogor. Aku mohon Om."


"Apa rumah sakit!" teriak Ayah Burhan tersentak kaget.


Jantungnya bagaikan mencolos dari tempatnya, dan dengan cepat dia meninggalkan pekerjaannya dan menutup toko servis miliknya.


Setelahnya pak Burhan memacu motor butut miliknya dengan kecepatan kencang, agar segera sampai dirumah.


*****


Tepat hampir dua jam, kedua orang tua Cika dan kedua orang tua Angga sudah tiba di depan ruangan ICU.


Keadaan Angga benar-benar kritis, sehingga Dokter langsung memasukkan pria itu kedalam ruangan gawat tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Cika yang tidak diperbolehkan masuk, tampak terduduk lemas di atas lantai dengan keadaan yang tampak sangat kacau.


Rambutnya yang awalnya tertata rapi kini sudah berserak tidak karuan, begitu juga dengan penampilannya. Banyak darah yang mengotori baju dan juga celana jeans yang Cika kenakan.


Melihat penampilan Cika seperti itu, membuat ibu Fatma merasa curiga, dengan cepat dia berjongkok memegang bahu Cika.


"Apa yang terjadi sebenarnya Cika? Bukankah kau dan Angga pergi berjalan jalan keluar?" tanya ibu Fatma ikut terduduk di atas lantai, tepat di hadapan Cika.


"Maaf bik. Aku sungguh tidak tahu, Angga menyelamatkan nyawaku saat aku hendak menyebrang, dia menggantikan aku yang hampir saja tertabrak oleh mobil truck besar. Dia mendorongku bik dan langsung tertabrak oleh mobil itu."


"Apa..!! Ya Tuhan Angga!" teriak ibu Fatma dan pak Burhan secara bersamaan.


Sedangkan kedua orang tua Cika juga ikut terkejut mengetahui kecelakaan tragis yang diceritakan oleh putri mereka.


Dengan cepat Mamanya Cika yang bernama Ratih, langsung berjongkok menenangkan putrinya itu.


"Sudah Cika. Kau tidak bersalah akan kejadian ini. Memang menjadi takdir Angga, makanya dia yang mengalami kecelakaan, sekarang kau jangan takut. Lebih baik kita pulang sekarang juga." ajak wanita itu membuat ibu Fatma merasa kecewa.


"Apa maksud perkataanmu itu Ratih. Seharusnya kau bersyukur karena putraku sudah rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan putrimu. Tapi bisa bisanya kau berkata seperti itu di hadapan kami!"


"Memangnya apa yang salah dengan perkataanku. Kau lihat sendiri bukan! Cika saat ini terlihat sangat syok. Dan dia harus segera aku ajak pulang kerumah. Lagian Angga sudah mendapatkan pertolongan, berdoa saja agar putramu itu tidak kehilangan nyawanya."


"Tutup mulutmu Ratih!" teriak pak Burhan tidak terima dan hendak melayangkan tangannya kearah Ibu Ratih yang sudah berdiri sambil memeluk tubuh Cika.


Papa Cika yang bernama papa Dimas pun langsung mencekal tangan pak Burhan dan menghempaskan tangan pria itu dengan kasar.


"Lancang sekali kau Burhan! Dasar keluarga miskin yang tidak mempunyai tata krama. Sekarang juga ayo kita pulang, tidak usah dipikirkan pria miskin itu. Karena saat ini juga kau sudah putus dengan Angga."


Mendengar perkataan Papanya, Cika langsung mendongak sambil menggelengkan kepala. Dia sungguh tidak setuju dengan keputusan sepihak yang dibuat oleh papanya itu.


"Tidak Pa! Aku gak mau putus sama Angga!" teriak Cika histeris.


"Diam kau Cika. Ayo kita paksa Cika pulang Ma." ajak Dimas kepada istrinya.


Setelah itu mereka berdua pun menarik tubuh Cika secara paksa agar mau ikut pulang bersama mereka.


Sedangkan pak Burhan dan ibu Fatma benar-benar hancur melihat sikap keluarga kekasih putra mereka. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak mempunyai hati dan rasa Terimakasih seperti mereka semua.


"Sungguh malang nasib putra kita pak. Pengorbanannya yang begitu besar pun tidak tampak dimata mereka semua."

__ADS_1


"Biarkan saja buk. Sekarang lebih baik kita fokus untuk menyembuhkan Angga." jawab pak Burhan sambil memeluk tubuh istrinya.


Mereka berdua meluapkan kesedihan dengan meneteskan air mata. Semoga saja Angga dapat diselamatkan dan kembali sehat seperti semula.


__ADS_2