Pria Buta Yang Genius

Pria Buta Yang Genius
Mengunjungi Teman Baru


__ADS_3

Sebelum keluar dari rumah sakit. Angga benar benar membuktikan perkataannya yang ingin berkunjung terlebih dahulu keruangan pasien bernama Jackson.


Angga di antarkan oleh pak Burhan yang tampak sabar menuntun putranya itu untuk berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


"Pak! Apakah masih jauh?" tanya Angga kepada bapaknya.


"Masih nak. Ternyata temanmu bernama Jackson adalah pasien yang berada di kelas nomor satu. Sepertinya dia bukan orang dari keluarga sembarangan." jelas pak Burhan kepada Angga yang telah bertanya kepada petugas resepsionis.


Mendengar perkataan bapaknya, Angga pun langsung mengeryitkan keningnya. Benarkah jika Jackson itu adalah anak orang kaya. Tapi kenapa juga pria itu malah suka memperhatikan dirinya yang saat itu dalam keadaan merenggang nyawa.


"Sebenarnya kau mengenal anak itu di mana? Bagaimana mungkin kau bisa memiliki seorang teman dari kalangan kelas atas seperti dia?" tanya Pak Burhan kembali.


"Pak. Jackson itu bukan temanku. Kami baru bertemu tadi pagi di taman, tapi dia mengatakan kepadaku jika dia selama ini selalu memantau keadaanku. Aku juga tidak tahu apa maksudnya pak." jelas Angga menatap kosong.


"Benarkah! Tapi sepertinya bapak belum pernah menemukan satu orang pun yang masuk kedalam ruanganmu. Apa jangan jangan dia hanya bergurau saja?"


"Aku juga tidak tahu pak. Lagian aku tidak bisa melihat wajahnya, jadi aku tidak tahu apakah dia serius atau tidak."


Sambil berbincang bincang tidak terasa kini mereka berdua sudah tiba di depan sebuah lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai paling atas.


Pak Burhan langsung memencet sebuah tombol yang ada di dinding hingga tak lama pintu lift pun terbuka.


Pak Burhan langsung membantu Angga agar masuk ke dalam lift tersebut, setelah itu mereka pun menuju ke lantai paling atas yaitu kelas satu ruang rawat VIP yang ada di rumah sakit tersebut.


Tak butuh waktu lama, hanya dalam waktu satu menit kini mereka sudah tiba di sebuah lorong ruangan yang terlihat sangat indah dan sejuk, hingga setibanya di depan para orang orang berbaju hitam yang berjaga di depan pintu ruangan rawat, pak Burhan menyempatkan diri untuk bertanya kepada orang orang tersebut.


"Permisi! Apakah kami berdua boleh bertanya?" tanya pak Burhan menunduk sopan.


Orang orang berpakaian serba hitam yang memiliki wajah menyeramkan itupun menatap nyalang kearah pak Burhan dan Angga.


Mereka memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung rambut seakan-akan sedang waspada terhadap orang asing tersebut.

__ADS_1


"Kalian siapa? Bagaimana mungkin kalian bisa masuk kedalam lantai satu ini?" tanya pria itu menatap tajam.


Angga yang tidak bisa melihat namun dapat menebak jika pria yang baru saja berbicara kepada mereka pasti adalah seorang pria yang sangat menyeramkan, karena dari suaranya terdengar jelas jika suara itu bagaikan petir yang menggelegar di lorong rumah sakit tersebut.


"Pak! Kenapa pria ini terdengar sangat menyeramkan pak?" tanya Angga sedikit berbisik.


"Tenanglah Angga. Bapak akan mengatasinya." jawab pak Burhan tanpa takut sedikitpun.


Setelah itu pak Burhan langsung membenarkan berdirinya dan menatap ketiga pria berbadan besar itu dengan tatapan tak kalah tajam.


"Aku ingin bertemu dengan pemuda bernama Jackson. Apakah kalian tahu di mana ruangan rawat inap Jackson?"


"Apa! Apakah yang kau maksud adalah Tuan Jackson?"


"Ya, itu yang ku maksud, Jackson seorang pemuda yang juga di rawat di rumah sakit ini."


Mendengar perkataan pak Burhan, ketiga pria itu langsung merubah ekspresi wajah mereka menjadi tersenyum ramah.


Angga tersenyum tipis, ternyata kehebatan Bapaknya sejak dulu sampai saat ini belum menghilang juga.


Pak Burhan memang orang yang miskin, tapi dia memiliki bentuk tubuh yang tak kalah gagah persis seperti seorang perwira.


Andai bapaknya memakai pakaian yang bagus dan lebih mahal, sudah pasti orang orang akan mengira jika dirinya adalah seorang perwira tinggi.


Setelah itu mereka berdua masuk kedalam sebuah ruangan yang sangat mewah. Ruangan itu tidak terlihat seperti sebuah kamar pasien, tapi lebih persis seperti kamar hotel berbintang lima.


Di dalam hatinya pak Burhan bertanya tanya, sebenarnya siapa pemuda bernama Jackson ini? Dan kenapa juga dia sudi memperhatikan putranya yang buta dan juga miskin. Bahkan pria bernama Jackson itu sangat terlihat jelas jika dia bukanlah pria dari keluarga sembarangan.


Tubuhnya yang tinggi, berkulit putih bersih, dan juga tampan sudah menampilkan bahwa dia adalah seorang pemuda dari keturunan ningrat.


"Angga! Sejak kapan kau tiba di sini?" tanya Jackson tersenyum senang sambil berjalan tertatih tatih.

__ADS_1


Pak Burhan membalas senyuman dari pria tampan tersebut, sepertinya Jackson baru saja selesai dari kamar mandi. Sedangkan Angga yang tidak dapat melihat hanya tersenyum tipis menyambut ramah perkataan Jackson.


"Hay Jackson. Maaf jika aku telah mengganggu istirahatmu." ucap Angga sambil memegang tongkat di kedua tangannya.


Tak lama kemudian Jackson tampak berjalan mendekati Angga, lalu dia pun memelu tubuh Angga persis seperti seorang sahabat yang sudah lama saling mengenal.


Melihat hal itu, Pak Burhan kembali merasa terkejut, namun tak lama dia merasakan sebuah sentuhan tangan yang dilakukan oleh Jackson lalu menciumnya sopan.


Sungguh pak Burhan tidak pernah menyangka jika pemuda di hadapannya ternyata sangatlah memiliki tata krama terhadap pria miskin seperti dirinya.


"Apa yang kau lakukan nak?" tanya pak Burhan kepada Jackson.


"Tentu saja aku sedang menyalami tangan paman. Sebagai tanda hormat ku kepada paman." jawab pria itu tersenyum ramah.


Melihat wajah Jackson dengan jarak yang begitu dekat. Entah mengapa tiba-tiba saja pak Burhan teringat akan wajah seseorang yang sangat dia kenali. Namun pak Burhan enggan untuk bertanya.


"Kau sungguh pemuda yang sangat sopan. Pasti kedua orang tuamu merasa bangga memiliki putra sepertimu." puji paj Burhan.


"Iya paman benar. Kedua orang tuaku pasti sangat bangga kepadku, apalagi jika aku berhasil mengerjakan amanah darinya, sudah pasti papaku akan lebih bangga kepadaku." jawab Jackson membuat Angga dan pak Burhan merasa bingung.


Melihat raut wajah mereka yang seperti itu, dengan cepat Jackson pun mengalihkan pembicaraan dan mengajak mereka berdua agar duduk di kursi tamu yang sudah tersedia.


Salah satu pria berpakaian hitam itu langsung menuangkan minuman untuk Angga dan juga pak Burhan, membuat mereka berdua kembali bingung.


"Om Burhan dan Angga. Sekarang minumlah, aku tahu kalian pasti sangat haus bukan." ucap Jackson tersenyum.


"Terimakasih Jackson, tapi sepertinya aku tidak bisa lama, karena aku harus segera keluar dari rumah sakit. Lagian ibuku sudah menunggu kami di bawah." jelas Angga merasa tak enak.


"Iya, tidak masalah Angga, yang penting saat ini aku sudah bertemu denganmu dan juga orang tuamu. Oya apakah kalian akan kembali pulang ke kampung tempat kalian tinggal?" tanya Jackson keceplosan.


Mendengar pertanyaan tersebut, pak Burhan menjadi curiga. Sepertinya Jackson ini sangat mengetahui tentang kehidupan mereka.

__ADS_1


"Jackson jika boleh tahu, siapa kau sebenarnya? Om merasa jika kau banyak mengetahui tentang jati diri kami? Bahkan tanpa bertanya terlebih dahulu kau juga sudah mengetahui siapa nama Om? Apakah kau sudah mengenal kami sebelumnya?" tanya pak Burhan membuat membuat Jackson terdiam membisu.


__ADS_2