
"Memangnya punya modal berapa kau sehingga berani melamar keponakanku? Apakah kau mampu membuat pesta yang mewah untuk keponakanku ini?" tanya paman William tersenyum menghina.
Mendengar pertanyaan dari pamannya, Rebecca langsung bangkit dari duduknya. Sungguh dia merasa jengah mendengar pamannya yang selalu menghina Angga.
"Cukup paman! Ini adalah pernikahanku, jadi biarkan aku yang memutuskan semuanya." bentak Rebecca membuat ketiga orang itu menatap tajam.
"Jangan sombong kau Rebecca! Ingatlah, kau itu masih menjadi tanggung jawab kami berdua. Jadi kau jangan menbuat malu nama keluarga."
"Apa! Buat malu nama keluarga? Apakah tante tidak salah bicara? Sekarang juga hentikan hinaan kalian kepada calon suamiku. Karena aku tidak membutuhkan persta mewah atau apapun itu, aku hanya ingin menikah dengan Wira." jawab Rebecca tegas dan langsung memegang tangan Angga agar bangkit dari duduknya.
Setelah itu mereka berdua berlalu pergi meninggalkan ruang tamu tersebut, Rebecca ingin mengajak Angga duduk di bangku panjang yang ada di taman.
Rasanya benar benar pengap berada satu ruangan dengan orang orang jahat seperti paman dan tantenya itu.
"Kenapa kau membawaku keluar Rebecca? Bukankah aku belum melamarmu secara resmi kepada pamanmu itu?" tanya Angga yang sudah duduk di samping Rebecca.
"Apa yang ingin kau katakan lagi kepada mereka Angga. Apakah kau mau jika mereka terus menerus menghina dirimu!" seru Rebecca menatap wajah Angga lekat.
Angga sangat mengerti maksud dari perkataan Rebecca. Mungkin dia merasa marah mendengar hinaan yang dilontarkan untuk dirinya, tapi bukankah memang sudah sewajarnya hal seperti itu terjadi? Mana mungkin keluarga kaya raya dan terpandang seperti mereka mau menerima dirinya begitu saja.
Rebecca yang melihat senyuman tipis dari bibir Angga pun langsung memukul dada bidang pria itu.
Buukkk... bukkkk..
__ADS_1
"Jangan tersenyum Angga. Aku sedang serius saat ini!" seru Rebecca merasa kesal.
"Rebecca! Kau tidak boleh marah kepada mereka, lagian sudah selayaknya pria sepertiku ini selalu di hina. Karena selain buta, aku juga miskin serta bodoh. Sedangkan kau adalah keturunan dari keluarga kaya raya, jangankan pamanmu! Bahkan aku sendiri pun merasa heran dengan apa yang kau pikirkan ini. Bagaimana bisa kau memilihku untuk menjadi suamimu. Sedangkan kau masih bisa mencari pria yang sama derajatnya dengan dirimu serta keluargamu. Aku yakin, mereka lebih mempunyai kekuasaan besar dari pada aku." ucap Angga meluapkan rasa penasarannya.
Rebecca semakin mengerucutkan bibirnya, entah mengapa dia tidak menyukai ketika Angga berkata seperti itu kepadanya.
Angga yang tidak mengetahui ekspresi wajah Rebecca, tapi dia bisa merasakan, jika wanita yang ada di sampingnya saat ini sedang terdiam memberengut kesal.
"Maaf Rebecca! Jika aku sudah menyakiti perasaanmu." ucap Angga sambil menyentuh tangan Rebecca.
"Tidak, kau tidak salah Angga! Sangat pantas jika kau bertanya tanya tentang hal itu, tapi jujur Angga! Aku juga bingung mau menjelaskannya, seperti yang aku katakan sejak awal, jika setelah pertemuan kita pertama kali, di saat kau menolongku dari para penjahat itu. Hatiku langsung yakin kalau kau mampu membantuku keluar dari permasalahan rumit ini Angga. Dan aku mohon, jadilah suamiku. Walaupun mungkin kau tidak bisa menyukaiku." jawab Rebecca menunduk lirih.
Mendengar suara Rebecca yang terasa berat, Angga langsung menarik bahu wanita itu dan memeluk tubuhnya erat. Di dalam hatinya, Angga bersumpah jika dia akan membantu Rebecca untuk keluar dari permasalahan yang begitu pelik menimpa dirinya.
"Baiklah, aku janji mulai dari sekarang aku tidak akan pernah bertanya tentang alasan itu lagi kepadamu. Aku akan membantumu untuk mengalahkan mereka semua."
"Rasanya begitu nyaman. Entah mengapa aku merasa tenang ketika dekat dengan dirinya. Apakah mungkin aku benar-benar sudah jatuh hati kepada Angga?" gumam Rebecca bertanya tanya.
Sedangkan di dalam ruang tamu, saat ini paman William sedang menatap tajam kearah pak Tagor.
Dia yang merasa curiga pun langsung mengeluarkan senjata api miliknya yang tersimpan di balik pinggang dan menodongkannya kearah Pak Tagor.
Pak Tagor tersentak kaget, namun detik kemudian dia berusaha menetralkan rasa terkejutnya itu.
__ADS_1
"Katakan yang sebenarnya? Di bayar berapa kau dan putramu itu?" tanya paman William memancarkan tatapan yang begitu tajam.
Laura dan tante Amor langsung berdiri dari duduk mereka, sambil melipat kedua tangan mereka di dada.
"Cih! Dasar orang miskin. Apakah kau kira kami tidak tahu jika kau dan putra butamu itu hanya orang yang di bayar untuk menikah dengan Rebecca? Ayo jawab dengan jujur! Benar bukan apa yang aku katakan ini!" bentak tante Amor emosi.
Pak Tagor berusaha meredam amarahnya, jangan sampai dia terpancing oleh perkataan mereka semua.
"Maaf tuan William. Saya sungguh tidak mengerti akan apa maksud dari perkataan kalian berdua." sangkal pak Tagor berbicara lembut.
"Dasar orang miskin. Sekarang aku akan memberikan penawaran kepadamu, batalkan pernikahan Rebecca bersama putramu, dan aku akan memberikanmu bayaran yang besar." tawar paman William kepada pak Tagor.
Pak Tagor berpura-pura diam, sepertinya orang yang ada di hadapannya ini sangatlah licik.
"Sebenarnya kemana nona Rebecca membawa tuan Angga pergi? Kenapa mereka meninggalkanku sendirian di sini," rutuk Pak Tagor merasa kesal.
Detik kemudian, pak Tagor pun kembali bersikap lugu, dia harus berusaha meyakinkan paman William jika putranya Angga benar-benar tulus mencintai keponakan mereka.
"Tuan. Saya mohon, izinkanlah putra saya menikahi keponakan tuan. Mereka benar benar saling mencintai, jangan pisahkan mereka berdua Tuan." mohon pak Tagor menatap sedih.
Pak Tagor sampai mengatupkan kedua tangannya di hadapan paman William. Dia bahkan tidak merasa takut sedikitpun dengan senjata api yang terarah tepat ke kepala miliknya.
"Sial! Kenapa pak tua ini tidak merasa takut sedikitpun. Apakah benar jika Rebecca bersama pria buta itu memang saling mencintai? Tapi bagaimana jika nyatanya Rebecca menipuku? Aku sungguh kesal rasanya. Apalagi setelah mengetahui jika David mengalami kebangkrutan. Aku jadi tidak bisa berharap kepada dirinya lagi." rutuk paman William di dalam hatinya.
__ADS_1
Hingga tak berselang lama, terdengar sepasang langkah kaki yang berjalan menuju kearah mereka.
Membuat mereka semua langsung melihat keasal suara.