Pria Buta Yang Genius

Pria Buta Yang Genius
Satu Bulan Berlalu


__ADS_3

Satu bulan kemudian


******


Di sebuah bangku panjang yang ada di taman rumah sakit. Terlihat pria muda yang sedang duduk di bangku tersebut dengan tatapan kosong dikedua matanya.


Pria itu tak lain adalah Angga, pasien korban kecelakaan tragis yang masih bisa diselamatkan walau dengan keadaan mata yang tidak sempurna.


Tidak terasa sudah satu bulan lebih dirinya dirawat di rumah sakit. Angga yang merasa sakit hati pun semakin hancur kala mengetahui kenyataan pahit yang menimpa dirinya.


"Sampai kapan aku akan seperti ini terus? Apakah benar yang diucapkan oleh Cika. Bahwa aku adalah pria yang tidak mempunyai masa depan!" seru Angga merasa geram oleh dirinya sendiri.


"Sial! Ternyata hanya segini ketulusanmu kepadaku Cika. Sungguh aku tidak pernah menyangka, jika pengorbanan yang telah aku lakukan tidak berharga sedikitpun di matamu. Kau sungguh tega Cika!" umpat Angga yang telah menaruh dendam di dalam hatinya.


Angga benar benar hancur, kala ayahnya menceritakan semua yang dilakukan oleh Cika serta kedua orang tuanya.


Mereka bagaikan tidak mempunyai rasa empati sedikitpun, jangankan menghargai pengorbanan Angga, kata terimakasih pun tidak sekali pun mereka ucapkan untuk dirinya.


Dan Angga yang merasa kesal pun terus memukul bangku panjang yang dia duduki menggunakan kedua tangannya.


Hingga tak lama, terdengar suara tawa seorang pria yang menertawakan dirinya.


"Hahaha.....! Apakah kau bodoh! Kenapa kau meluapkan kekesalanmu kepada bangku yang keras itu?" tanya pria asing yang baru saja tiba mendekati Angga.


Angga mendengar jelas perkataan sindiran yang dilayangkan untuknya, tapi sayangnya dia tidak dapat melihat siapa yang saat ini sedang berbicara kepadanya.


"Jangan ikut campur dengan urusanku." celetuk Angga dengan nada tidak suka


"Cih! Sombong sekali kau ini. Aku tahu jika kau adalah salah satu dari sekian banyaknya pria yang menjadi hancur dan juga menyerah karena dikhianati oleh wanita. Dasar banci."


"Tutup mulutmu! Siapa kau sebenarnya? Pergi kau dari sini, aku tidak butuh hinaan darimu." Angga langsung berdiri dari duduknya sambil meraba kembali tongkat yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Sedangkan pria yang telah mengejek Angga itupun, malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha… ! Aku tahu kalau kau buta dan tidak bisa melihat. Tapi apakah kau kira setelah kau buta maka kehidupanmu akan berakhir sampai di sini saja? Ingat! Kau adalah seorang pria yang mempunyai tanggung Jawab untuk kedua orang tuamu. Bayangkan andai kau terpuruk, apa yang akan kedua orang tuamu rasakan? Apakah kau tidak kasihan melihat kedua orang tuamu yang sudah tua renta itu?" tanya pria asing yang semakin berani mengajukan pertanyaan kepada Angga.


Angga menjadi terpaku mendengar perkataan dari pria asing itu. Apakah pria itu mengenal dirinya? Tapi Angga ingat betul jika dia tidak mempunyai teman di kota Bogor.


"Siapa kau sebenarnya? Apakah kita saling mengenal?" tanya Angga merasa penasaran.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan Angga, tapi dia malah melangkah mendekati Angga dan berdiri disamping Angga.


"Perkenalkan, namaku adalah Jackson. Aku salah satu pasien di rumah sakit ini." jawab pria itu sambil menarik pergelangan tangan Angga.


Angga yang merasa tangannya ditarikpun hanya diam menatap kosong kearah wajah pria tersebut.


"Oh, jadi kau adalah salah satu pasien di rumah sakit ini?"


"Iya, dan aku adalah pasien abadi di rumah sakit ini."


"Apa maksudmu dengan pasien abadi?" tanya Angga tak mengerti.


Tak lama, dia menarik tangan Angga kembali agar duduk di bangku tepat di samping dirinya.


"Sebenarnya aku sudah lama memperhatikanmu. Bahkan bisa di bilang aku sering kali menjengukmu di dalam ruangan perawatan."


"Benarkah! Tapi kenapa aku tidak dapat mengetahuinya?" tanya Angga kembali.


"Ya, karena aku tidak mau jika kau sampai mengetahuinya. Kecelakaan yang menimpa dirimu benar benar membuat satu rumah sakit menjadi heboh, bahkan semua pasien selalu memantau keadaanmu yang nyatanya masih bisa diselamatkan. Tapi sayangnya kau mengalami buta. Dari kejauhan aku sering sekali memperhatikanmu kawan. Tapi aku belum mempunyai waktu untuk menemui dirimu."


"Memangnya apa yang sedang kau kerjakan sehingga kau tidak mempunyai waktu?" tanya Angga


"Tentu saja berobat. Aku sedang melakukan pengobatan serius untuk menyembuhkan penyakit yang aku derita. Dan kau tidak perlu tahu apa yang sedang aku derita saat ini." sindir Jackson membuat Angga tersenyum.

__ADS_1


"Cih! Aku juga tidak berniat ingin mengetahuinya."


"Hahaa… !! Oya aku juga sudah tahu jika kau telah dikhianati oleh wanita yang sangat kau cintai. Saranku lebih baik kau lupakan dia, dan fokuslah untuk menyembuhkan kedua matamu lagi."


"Dasar penguntit. Bagaimana mungkin kau mengetahui semua yang aku alami. Apakah selama ini kau mempunyai rasa kepadaku?" canda Angga kepada Jackson.


"Haha..! Ya mungkin bisa di bilang seperti itu. Lagian kau saja yang bodoh. Mau maunya berkorban demi wanita tidak tahu diri seperti mantan pacarmu itu, andai Tuhan tidak baik kepadamu, mungkin saja saat ini jasadmu sudah dikuburkan di dalam tanah."


"Sial! Tutup mulutmu Jackson. Kau benar benar sangat menyebalkan."


"Iya, beginilah aku Angga." ucap Jackson tersenyum lucu.


"Lagian, mataku ini sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Jadi tidak perlu berkhayal Jackson. Aku sudah pasrah, asal tidak menyusahkan kedua orang tuaku." jelas Angga dengan nanar.


Jackson dapat mengerti apa yang sedang dirasakan oleh temannya saat ini. Tapi dia juga sama hal nya dengan Angga, yang harus sama sama berjuang agar bisa selalu sehat.


Setelah berbincang bincang sejenak, Jackson pun memutuskan untuk kembali keruangan miliknya. melihat hal itu Angga pun tersenyum senang karena dirinya memiliki telah memiliki seorang teman yang sangat baik seperti Angga.


Dan ketika punggung Jackson telah hilang dari hadapan Angga. Angga langsung mengingat kembali perkataan Jackson yang terngiang ngiang di dalam pikirannya


"Ingat Angga. Kau harus siap menjalani berbagai kenyataan hidup. Menjadi buta bukanlah hal yang hina,, yang terpenting semua keluargamu menyayangi dirimu dan kau harus membuktikan kepada dunia terutama para pengkhianat yang sudah mengkhianatimu jika kau bisa berhasil dan menjadi orang yang sukses."


Angga teringat akan perkataan pria tersebut , bahkan sampai kapanpun perkataan Jackson akan menjadi semangat untuk dirinya.


Setelah itu Angga pun berjalan masuk kedalam ruangan miliknya, bersama ibu Fatma yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Besok Angga sudah diperbolehkan untuk pulang, dan sebelum kembali pulang, Angga ingin sekali menjenguk pria bernama Jackson itu terlebih dahulu.


"Ibu. Apakah ibu mengenal pasien bernama Jackson? Katanya dia sering menjengukku Bu?" Tanya Angga setelah sampai di dalam ruangan.


Ibu Fatma mengernyitkan keningnya, seingatnya tidak ada pasien bernama Jackson yang pernah menjenguk dirinya.

__ADS_1


"Siapa Jackson itu Angga? Ibu rasa kau telah berkhayal." ujar ibu Fatma.


"Bu. Tidak mungkin aku berkhayal, karena aku baru saja bertemu dengan pria itu tadi di taman. Dia mengatakan jika dia sering menjengukku diam diam ketika keadaanku masih kritis!" seru Angga membuat Ibu Fatma menjadi heran.


__ADS_2