
Di sebuah rumah yang baru saja selesai di renovasi, tampak seorang pria tampan sedang tersenyum bangga akan keberhasilan yang telah dia capai.
Empat tahun menjalani takdir menjadi pria buta, akhirnya Angga benar-benar berhasil membuktikan kepada semua orang yang ada di kampungnya, bahwa dia bisa bangkit menjadi pria yang sukses dan dapat membahagiakan kedua orang tuanya.
Walaupun sebenarnya mereka masih tidak tahu akan pekerjaan yang Angga lakukan, namun Angga tidak ingin ambil pusing tentang persepsi dari orang orang di kampungnya itu.
Dan tepatnya hari ini, Angga sudah bersiap untuk pergi meninggalkan kampung halamannya tersebut. Dengan tekad yang sangat kuat, Angga meyakinkan dirinya agar dapat semakin melebarkan sayapnya di ibu kota yang terkenal sebagai kota metropolitan.
"Nak! Apakah kau sudah siap?" tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Fatma.
Angga langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke asal suara tersebut, dia harus bisa meninggalkan kedua orang tuanya demi masa depan yang sudah berada di depan mata.
"Aku sudah siap buk! Dan sebentar lagi jemputan Tuan Roberto akan segera tiba." jawab Angga tersenyum kearah ibunya.
Melihat kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah Angga, membuat ibu Fatma juga ikut tersenyum senang, walaupun di dalam lubuk hatinya ada rasa berat, namun ibu Fatma mencoba untuk menepis perasaan tersebut, karena ibu Fatma sadar jika sudah saatnya untuk Angga mencari pengalaman yang lebih baik lagi yaitu di dunia luar.
"Ibu harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik nak. Jangan sampai mereka tahu akan kelebihan yang kau miliki ini."
"Pasti buk. Aku akan menutupi jati diriku sebenarnya, dan aku jamin tidak akan ada yang mencurigaiku karena aku hanyalah seorang pria buta." jelas Angga sambil memegang erat tangan ibu Fatma.
Setelah itu ibu Fatma pun menghamburkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Angga erat, sambil terus berdoa di dalam hati, agar putranya Angga selalu sehat dan juga selamat ketika berada di ibukota Jakarta.
Pak Burhan yang baru saja keluar dari kamar miliknya langsung melangkahkan kakinya mendekati Angga, dia memegang tangan Angga dan memberikan sebuah flashdisk rahasia yang sudah lama dia simpan sejak bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
"Angga! Ini adalah ilmu terakhir yang belum sempat bapak berikan kepadamu. Nanti jika kau menemukan masalah dengan pekerjaan rahasiamu itu, maka kau bisa membuka flashdisk ini. Di dalamnya terdapat banyak program untuk membaca setiap ancaman yang akan kau hadapi, contohnya seperti Phishing Attack, dan juga Ransomware, kau sudah menjadi seorang Cyber Security dan itu artinya kau akan mendapatkan lawan seperti Cyber Crime. Ingat pesan bapak Angga, kau harus siap menerima resiko apapun itu." ucap pak Burhan memperingatkan Angga.
Angga tersenyum mengangguk, setelah itu dia langsung memeluk tubuh kedua orang tuanya, hingga tak lama mereka bertiga melihat mobil yang menjemput Angga sudah tiba.
Tak lupa Angga menutupi wajahnya menggunakan masker hitam penutup wajah, agar orang orang tidak dapat mengenali wajah Angga.
"Buk, pak, aku pamit sekarang juga. Ingat jaga diri kalian baik baik, aku akan sering sering menghubungi kalian berdua."
"Pasti nak, kami akan menjaga kesehatan kami agar kami bisa melihatmu sukses di kota Jakarta. Dan kau juga harus menjaga kesehatanmu Angga, jika terjadi masalah langsung cerita sama ibu dan bapak."
"Iya buk, kalau begitu Angga pamit pergi." ucap Angga melangkah masuk kedalam sebuah mobil yang telah berada tak jauh dari dirinya berdiri.
Hingga tak lama kemudian, mobil yang Angga tumpangi sudah melaju pergi meninggalkan daerah tersebut.
Ibu Fatma langsung meneteskan air matanya, dia terlihat menangis pilu, hingga beberapa detik selanjutnya kedua orang itu langsung di kejutkan oleh suara para warga yang ternyata sudah berkumpul dan mengintip tak jauh dari mereka berdiri.
"Hei Burhan! Mau kemana itu si Angga? Kami curiga, kalau Angga ternyata adalah salah seorang dari kelompok teror!s, kalau tidak mana mungkin Angga bisa membangun rumah seperti ini." tuduh salah seorang pria yang tak lain adalah pak Dimas papanya cika.
Mendengar perkataan pria itu, para warga yang lain langsung mengangguk setuju, mereka pun memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Benar yang dikatakan oleh pak Dimas, Angga itu hanyalah seorang pria buta, bahkan untuk menjaga dirinya sendiri saja dia tidak becus, jadi mana mungkin kalau anak itu bisa mempunyai uang banyak untuk merenovasi rumah gubuk ini. Sekarang ayo katakan yang sejujurnya, sebenarnya apa pekerjaan putra kalian berdua? Kenapa Angga bisa mempunyai uang yang banyak?" tanya para warga dengan nada memaksa.
Pak Burhan yang merasa panas akan tuduhan dari warga kampung pun langsung membuka suaranya, dia tidak ingin jika nama baik putranya tercoreng dengan sebuah fitnah yang tidak pernah di patahkan.
__ADS_1
"Tutup mulut kalian semua! Dan terutama kau pria bangsat! kau sungguh manusia berhati iblis." maki pak Burhan kepada papanya Cika.
"Hei pak Burhan! Kau tidak usah membela putra bodohmu itu, kami semua bahkan tidak percaya jika Angga adalah pria baik baik, dia itu tidak bisa melihat, alias buta! Lalu bagaimana mungkin dia bisa merenovasi rumah kalian yang buruk ini? Jika bukan dari uang haram. Dan sekarang dia pergi ke kota memangnya siapa yang mau mempekerjakan pria buta seperti dia? Kalau bukan menjadi ter*ris."
"Tutup mulutmu itu sialan!"
Bukkk......
Sangking geramnyaaa, pak Burhan sampai meninju pipi pak Dimas hingga mengeluarkan sedikit darah di sudut bibirnya, dia sudah tidak bisa menerima setiap hinaan dan cacian yang selalu diberikan oleh pria itu.
Para warga yang melihat pertengkaran tersebut pun langsung berusaha memisahkan mereka berdua, sedangkan ibu Fatma menangis histeris.
"Pak, sudah pak! Ayo kita masuk kedalam, jangan dengarkan perkataan mereka semua pak." ucap ibu Fatma memohon kepada suaminya.
Tak lama kemudian, Pak Burhan pun tersadar akan apa yang telah dia lakukan, tidak sepantasnya dirinya tersulut emosi, setelah itu pak Burhan berbalik dan melangkah mendekati istrinya.
"Maaf buk, maaf jika sudah membuat ibu menjadi takut, sekarang ayo kita masuk. Dan untuk kalian semua, bubarlah! Tidak ada yang perlu di curigai." titah pak Burhan kepada para warga yang masih berada di depan rumahnya.
Setelah itu Pak Burhan dan ibu Fatma masuk kedalam rumah, mereka menutup pintu rumah dengan rapat, sedangkan para warga yang melihat hal itu hanya terdiam dan merasa bersalah.
"Aku percaya kepada pak Burhan. Dia adalah orang baik, begitu juga dengan Angga, seharusnya kita tidak boleh terhasut dengan berita hoaks yang beredar." ujar salah satu warga yang merasa tak enak.
"Kau benar. Lagian Angga itukan Buta, jadi mustahil jika dia menjadi anggota teror!s, sekarang juga ayo kita bubar." ajak mereka kepada teman temannya yang lain.
__ADS_1
Melihat kepergian para warga pak Dimas menjadi geram. Ternyata isu yang dia ciptakan untuk mengusir keluarga Pak Burhan dari kampung itu tidak berjalan sempurna. Entah mengapa pria tersebut tidak suka melihat keluarga pak Burhan merasakan kebahagiaan.
"Sial! Rencanaku gagal lagi, tapi tak apa yang terpenting si Angga itu sudah pergi dari kampung ini, dan aku tidak akan pernah melihat batang hidungnya lagi, terutama Cika. Dia tidak boleh bertemu kembali dengan pria buta itu." gumam pak Dimas di dalam hati.