Pria Buta Yang Genius

Pria Buta Yang Genius
Pertemuan Cika Dan Angga


__ADS_3

"Lepaskan tanganmu dari tubuhku pengkhianat!" bentak Angga menggema di dalam ruangan rapat.


Semua orang yang masih tersisa di dalam ruang rapat menjadi terkejut mendengar bentakan yang dilakukan oleh Angga. Termasuk wanita yang saat ini sedang memeluk pinggang Angga.


Cika tersentak kaget dan langsung melepaskan lingkaran tangannya, dan terus melangkah mundur karena merasa takut ketika melihat wajah Angga yang tampak menyeramkan.


"Angga!" lirih Cika memanggil nama pria di hadapannya.


Angga yang merasa geram dan juga dendam langsung mencengkram rahang pipi Cika menggunakan sebelah tangannya.


"Aaakhhhggrr....! Lepaskan Angga! Kau menyakitiku." teriak Cika terbata bata.


"Lepaskan! Bukankah kau sangat ingin jika aku menyentuhmu Cika!" bentak Angga kembali.


"Angga! Kenapa kau jadi berubah menyeramkan seperti ini, kau sangat tega kepadaku Angga!"


"Apa! Tega kau bilang? Ya, aku memang tega Cika. Dan ini semua karena kau yang telah mengajarkanku bagaimana caranya berlaku tega kepada orang yang tidak punya otak seperti kau. Ingat Cika. Selama kau pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun, selama itu pula aku menganggap kau sebagai musuh bebuyutanku. Dan suatu saat nanti aku akan membalas apa yang telah kau lakukan kepadaku Cika."


Degghhh..


Kedua mata Cika langsung berubah merah berkaca kaca, dia sungguh tidak menyangka, jika pria yang lugu dan sangat mencintai dirinya, bisa berubah menjadi kejam dan sangat membenci dirinya.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya tempo hari, jika Angga sudah pergi ke kota Jakarta guna mencari keberadaan dirinya.


Mungkinkah Angga ingin membalas dendam kepadanya?


"Angga! Kau salah paham kepadaku Angga. Sebenarnya aku tidak berniat meninggalkanmu, tolong lepaskan cengkraman tanganmu ini Angga. Kau telah menyakitiku." pinta Cika dengan lirih.


Melihat sikap Tuannya yang sudah berlebihan, dengan cepat Pak Tagor langsung melangkah menepuk punggung tuannya itu.

__ADS_1


"Tuan! Lepaskan wanita itu. Kau tidak boleh bertindak gegabah seperti ini tuan. Ingatlah, ini negara hukum, jika tuan sampai menyakiti wanita itu, maka tuan bisa berurusan dengan hukum." bisik pak Tagor membuat Angga langsung melepaskan cengkraman tangannya di rahang Cika.


Cika mundur kebelakang dan hampir saja terjengkang, untung saja dia bersender tepat di meja yang menahan tubuhnya itu.


"Sekretaris Cika! Apakah kau tidak apa apa?" tanya salah seorang dari karyawan yang ada di ruangan itu.


"Tidak, aku tidak apa pak Sam. Sekarang juga keluarlah kalian semua. Aku mohon!" perintah Cika kepada rekan kerjanya yang lain.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi."


Setelah melihat para karyawan itu pergi, Cika kembali menatap kearah Angga. Namun sayang, baru saja dia hendak mengeluarkan suaranya kembali, Angga sudah pergi keluar dari ruangan rapat tersebut.


"Angga! Kau mau pergi kemana? Aku belum selesai bicara kepadamu Angga!" panggil Cika berusaha mengejar kedua orang itu.


Sedangkan Angga yang mendengar panggilan dari Cika tidak menghiraukannya sedikitpun, dia terus berlalu pergi bersama pak Tagor yang ada di sampingnya.


"Kau halangi dia pak. Aku akan langsung menuju ke mobil." perintah Angga memasang wajah dingin.


"Baik tuan."


Setelah itu, pak Tagor mulai memelankan langkah kakinya, sedangkan Angga sudah keluar menuju ke teras perusahaan.Melihat hal itu, Cika mempercepat langkah kakinya, dia terus berlari membuat semua karyawan yang ada di loby melihat kearah dirinya.


Cika tidak memperdulikan tatapan serta gunjingan dari para karyawan itu, karena dirinya sudah kebal terhadap gunjingan karena sering di gosip kan menjadi wanita penggoda untuk CEO mereka.


"Lihat itu, apa yang dilakukan oleh sekretaris Cika! Aku rasa dia benar-benar wanita murahan." ejek para karyawan wanita yang melihat kearah Cika.


"Kau benar, setelah dia tahu jika CEO David terjerat kasus kejahatan, kini dia langsung berpaling untuk mencari mangsa baru, dia tahu saja pria tampan dan kaya yang bisa menjadi incarannya."


"Iya, dasar wanita penggoda." maki mereka tidak suka.

__ADS_1


Sedangkan Cika, kini wanita itu telah menghentikan langkahnya, karena di hadang oleh pak Tagor tepat di depan pintu kaca perusahaan.


"Minggir pak tua! Apa mau mu sebenarnya hah? Kenapa kau menghalangi jalanku!" bentak Cika sambil mendorong tubuh pak Tagor.


"Hentikan nona. Kau tidak usah repot repot mengejar tuanku. Karena dia tidak sudi bertatap muka denganmu lagi." jelas pak Tagor membuat Cika merasa bertambah geram.


"Apa kau bilang! Memangnya siapa kau hah! Kau bahkan tidak mengenal seperti apa Angga. Aku adalah kekasih Angga di masa lalu, dan dia sangat mencintaiku sejak dulu, bahkan dia tidak bisa hidup tanpa diriku. Sekarang juga minggir kau pak tua. Atau jika tidak....!"


"Jika tidak apa nona? Apakah kau sendang mengancamku saat ini? Ingat nona. Kau masih terlibat dengan kejahatan yang dilakukan oleh Bos mu, jadi bisa saja aku menuntutmu saat ini juga dan menjebloskanmu kedalam penjara."


Deggghhhhh....


Jantung Cika serasa mencolos keluar, mendengar ancaman yang diucapkan oleh pak Tagor. Dia yang awalnya bersikeras melawan, langsung terdiam membisu seperti patung.


Melihat perubahan sikap yang ditampilkan oleh Cika, pak Tagor langsung tersenyum miring. Akhirnya dia mendapatkan senjata ampuh yang dapat membuat wanita keras kepala itu menjadi terdiam tidak bisa berkutik lagi


"Bagus! Sekarang kembalilah bekerja, kau tidak perlu repot repot memikirkan tuanku. Kau pikirkan saja nasib dari dirimu sendiri, yang sebentar lagi harus hengkang dari perusahaan ini." sindir pak Tagor dan langsung melangkah keluar dari perusahaan tersebut.


Mendengar sindiran itu, Cika menggeram marah, dia langsung menjerit histeris membuat semua karyawan yang sedari tadi menggibahi dirinya merasa keheranan.


"Aaaarrrrgggghhh.......! Kurang ajar kau Angga! Kau kira kau siapa hah, kau itu hanya orang miskin, kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini Angga. Lihat saja, aku pastikan kau akan berlutut di bawah kaki ku sama seperti dulu, kau akan mengejar dan memohon kepadaku Angga!" jerit Cika sambil memukul kaca pintu itu menggunakan sebelah tangannya.


Sedangkan Angga dan pak Tagor, mereka berdua sudah berlalu pergi meninggalkan perusahaan milik David Becam. Rasanya hari ini benar-benar puas dan membahagiakan, sekali menepuk, dua lalat langsung kena dan mati. Bukan hanya David Becam saja yang kalah dan kehilangan perusahaan miliknya, tapi Cika sangat wanita pengkhianat juga merasa terkejut kala melihat keadannya yang begitu mengejutkan.


"Apakah kau bahagia tuan?" tanya pak Tagor yang menatap senyum tipis di bibir Angga.


"Iya Pak Tagor. Aku tidak pernah menyangka, akan dipertemukan oleh wanita pengkhianat itu dalam kondisi yang kacau seperti ini. Sekarang dia pasti akan mengira, jika aku sudah menjadi pria sukses dan tidak buta lagi Biarkan dia berpikir seperti itu pak Tagor. Dia sudah menyakitiku dan membuatku sangat sangat kecewa di masa lalu." jawab Angga memancarkan aura dendam yang membara.


"Baiklah, aku sudah mengerti sekarang, siapa sebenarnya wanita itu. Oya, setelah ini siapkan dirimu tuan, karena nanti malam kau akan bertemu dengan keluarga dari calon istrimu." Goda pak Tagor kepada Angga.

__ADS_1


__ADS_2