
Setelah selesai menyantap sarapan yang dibawakan oleh pak Tagor, Angga bersama pak Tagor memutuskan untuk segera pergi ke perusahaan milik Tuan Roberto.
Sedangkan Rebecca, dia masih betah berada di rumah Angga. Dan memutuskan tidak mau kembali ke rumahnya sendiri, karena merasa muak melihat tingkah dari adik sepupunya yang tak tahu diri itu.
Di dalam mobil, Angga tersenyum geli, kala mengingat masakan yang dibuat oleh Rebecca. Ternyata benar jika ada wanita yang tidak bisa memasak. Lalu andai mereka jadi menikah nantinya, apakah setiap hari mereka berdua akan terus terusan makan makanan cepat saji! Pak Tagor yang sedang menyetir pun menjadi penasaran menatap sikap tuannya itu.
"Ada apa Tuan? Kenapa anda senyum senyum sendiri tuan?" tanya pak Tagor menatap lekat dari arah kaca kecil yang ada di hadapannya.
"Tidak pak. Aku hanya heran saja dengan Rebecca. Bagaimana mungkin dia tidak bisa memasak telur dadar. Apakah kau tahu pak, rasa masakan yang dia berikan kepadaku itu sangatlah asin dan juga gosong dibagian pinggirnya. Hahahha....! Bisa kau bayangkan bagaimana ekspresi wajahku ketika memakannya. Saat itu juga sebenarnya aku ingin muntah pak Tagor." ucap Angga tertawa terpingkal pingkal.
Melihat kebahagiaan yang tersirat jelas dari wajah Angga. Membuat pak Tagor juga ikut tertawa.
"Tuan! Apakah tuan lupa, jika nona Rebecca adalah keturunan dari keluarga kaya raya, jadi sudah pasti dia tidak bisa memasak tuan."
"Ya kau benar pak Tagor. Tapi aku sangat ingin memiliki seorang istri yang bisa memasak, setidaknya aku tidak akan makan makanan instan setiap harinya."
"Kalau begitu, nanti tuan bisa mengatakannya kepada nona Rebecca, saya yakin pasti Nona Rebecca mengerti akan keinginan tuan ini."
"Yah, aku berniat ingin mengenalkan dia kepada kedua orang tuaku pak Tagor. Nanti setelah dia bertemu dengan ibuku, barulah aku akan menyuruhnya untuk belajar memasak dengan ibuku." jawab Angga tersenyum tipis.
"Bagus Tuan. Saya sangat setuju dengan rencana tuan ini. Kalau begitu kapan kira kira tuan akan mengajak nona Rebecca pergi menemui kedua orang tua Tuan?"
"Dua hari lagi. Setelah kita menyelesaikan misi kita membantu tuan Roberto, barulah kita pergi kita menuju pulang ke rumah kedua orang tuaku."
"Baik Tuan. Saya akan mengikuti rencana yang sudah tuan susun." jawab Tuan Roberto semangat.
Hingga tak lama kemudian. Tiba-tiba saja pak Tagor dikejutkan oleh sebuah mobil hitam yang menghadang jalan mereka.
Cciiiiitttt… . . .!!!"
"Akkgggrrrhhh… .!!"
__ADS_1
Angga yang duduk di kursi belakang pun langsung menahan tangannya agar tidak tertabrak oleh kursi yang ada di hadapannya.
Angga merasa sangat terkejut kala pak Tagor memijak rem secara tiba-tiba.
"Ada apa pak?" tanya Angga penasaran.
"Tuan. Sepertinya jalan kita telah dihadang oleh beberapa orang preman tuan."
"Apa! Preman!"
"Iya tuan. Dan saat ini mereka sudah keluar dari dalam mobil untuk melangkah mendekati mobil kita tuan."
"Benarkah! Ada berapa orang para preman itu pak Tagor?" tanya Angga menampilkan wajah yang begitu tajam.
"Lima orang tuan."
"Baiklah, kita ikuti permainan mereka pak Tagor. Aku sangat yakin mereka pasti suruhan dari David yang ingin membalas dendam kepadaku."
"Kau benar tuan. Aku juga sepemikiran dengan tuan." timpal pak Tagor tersenyum menyeringai.
"Keluar kalian! Cepat keluar!" seru para preman itu berteriak marah.
Angga langsung memberikan isyarat kepada Pak Tagor, hingga setelahnya pak Tagor pun membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
Namun baru saja pak Tagor hendak mengarahkan pandangannya kearah mereka semua, mereka sudah langsung menodongkan senjata api tepat menyentuh kening pak Tagor.
Teekkkk……
"Perintahkan pria yang ada di dalam mobilmu untuk keluar detik ini juga. Atau aku tidak akan segan segan menembuskan timah panas ini hingga menembus ke dalam otakmu" ancam preman itu kepada pak Tagor.
Mendengar ancaman yang dilontarkan oleh preman itu, Angga langsung keluar dari dalam mobil dan memukul mereka semua menggunakan tongkat besi miliknya.
__ADS_1
Keempat preman yang tidak bersiap siagapun, tidak dapat menghindari serangan yang dilancarkan oleh Angga.
Mereka semua merasa kesakitan kala mendapatkan serangan tongkat besi milik Angga.
"Akgrrr… .. Apa yang kau lakukan sialan!" teriak mereka secara bersamaan.
Sedangkan preman yang sedang menodongkan senjata kekening pak Tagor, menggeram sangat marah. Dia langsung mengarahkan pandangannya menatap kearah Angga.
"Bangsat! Berani sekali kau menyerang para anak buahku!" teriak preman itu sambil menodongkan senjatanya kearah Angga.
Mengetahui gerakan sang preman menggunakan instingnya, dengan cepat Angga langsung mengarahkan tongkat besinya hingga mengenai senjata yang ditodongkan kearah dirinya.
Hingga detik kemudian, senjata itupun jatuh terlempar ke atas rerumputan yang ada disamping jalan.
"Kau!"
Buukkkk… . Bukkkk…
Belum sempat preman itu mengeluarkan kata katanya, pak Tagor langsung menumbuk wajah dari preman tersebut dan mengeluarkan senjata apinya yang dia simpan dibalik jas yang dia kenakan.
Doorrrr… .. . Dooorrr… . Dorrr… .
Tiga kali suara tembakan menggema dan bersarang di kaki ketiga preman tersebut. Sedangkan dua preman yang lainnya sudah tidak bisa bangkit karena mengalami patah tulang akibat serangan tongkat besi yang dilancarkan oleh Angga.
Melihat para musuhnya telah kalah, pak Tagor pun langsung tersenyum dan melangkah mendekati tuanya.
"Bagus tuan. Kau benar-benar sangat hebat." puji pak Tagor menepuk punggung Angga.
"Terimakasih pak, tapi kenapa pak Tagor menggunakan senjata api? Apakah itu tidak akan berbahaya untuk kita pak?"
"Tentu tidak tuan. Mereka hanyalah kelompok para penjahat, tidak mungkin mereka melaporkan kita ke kantor polisi, oya untuk kedepannya aku akan mengajarkan tuan menggunakan senjata api. Sekarang ayo kita pergi tuan." ajak pak Tagor membuat Angga tersenyum manis.
__ADS_1
"Terimakasih pak Tagor. Ternyata kau adalah orang yang sangat hebat." puji Angga kepada pak Tagor.
Setelah itu mereka pun kembali masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju ke perusahaan milik Tuan Roberto.