
Air mata menetes deras membasahi kedua pipi dari sepasang suami istri yang sudah mengeriput itu.
Mereka berdua benar benar tidak menyangka, jika putra mereka akhirnya bisa kembali melihat seperti dahulu lagi.
"Angga putraku....!" panggil ibu Lastri membuat Angga terlonjak kaget.
Sejak tadi, Angga tidak menyadari jika kedua orang tua kandungnya sudah berdiri di depan pintu ruangan. Dan kini tatapan Angga berubah berkaca kaca ketika melihat kedua orang yang sangat dia cintai telah hadir di depan matanya.
"Ibu, bapak....!" panggil Angga berteriak keras.
Dengan cepat Angga berusaha melepaskan saluran infus yang ada di tangannya, namun langsung di halangi oleh mama Sinta.
"Jangan nak...! Biarkan kedua orang tuamu yang mendekati mu. Kau masih belum sembuh Angga." larang mama Sinta menatap panik.
"Benar nak. Kau di situ saja, biar ibu yang melangkah mendekati mu. "
Lalu ibu Lastri berlari memeluk tubuh putra semata wayangnya, begitu juga dengan pak Burhan. Mereka berdua benar benar merindukan Angga.
"Ibu sangat rindu kepadamu nak. Akhirnya kita bisa bertemu lagi." lirih ibu Lastri berlinang air mata.
"Aku juga bu...! Maaf jika beberapa hari ini aku tidak menghubungi ibu dan bapak. Itu karena aku sedang berada di rumah sakit bu."
"Tidak apa apa nak. Ibu mengerti, sekarang kau sudah bisa melihat lagi, betapa baiknya Tuhan kepada mu nak."
"Bapak juga merasa sangat bahagia Angga. Dengan begini kau bisa semakin sukses dari yang sebelumnya." ucap pak Burhan memuji putranya dengan bangga.
Mama Sinta, tuan Roberto dan juga Rebecca. ikut terharu melihat pertemuan yang sangat menyedihkan itu.
Bahkan tanpa terasa Rebecca ikut meneteskan air mata.
"Sungguh beruntung kamu Angga. Bisa memiliki dua orang ibu dan ayah sekaligus. Sedangkan aku, tidak mempunyai keduanya, aku hanya sendiri di dunia ini Angga." gumam Rebecca sedikit terisak.
Mama Sinta yang menyadari kesedihan Rebecca pun langsung merangkul bahu wanita itu erat.
__ADS_1
"Ada apa nak? Kenapa kamu ikut menangis?" tanya mama Sinta menatap lekat.
"Tidak ma. Aku hanya merasa iri saja, karena Angga begitu beruntung bisa memiliki dua orang ibu dan dua orang ayah sekaligus. Sedangkan aku, tidak punya kedua orang tua lagi." jawab Rebecca mencurahkan perasaannya.
Mama Sinta mengerti, apa yang dirasakan oleh Rebecca, lalu dia pun mencium rambut Rebecca dengan sayang.
"Jika memang kau menginginkannya, maka kau bisa menganggap ku sebagai ibu kandung mu sayang. Asal kau tahu, mama tidak mempunyai anak sejak dulu, dan mama sudah lama memimpikan mempunyai anak yang mau memanggilku dengan sebutan mama. Kau adalah calon menantu kami, itu artinya kau adalah putri kami juga Rebecca."
"Benar yang dikatakan oleh mama Sinta nak Rebecca. Kau bisa menganggap kami sebagai ibu mu." ucap seorang wanita yang menimpali pembicaraan mereka berdua.
Dan wanita itu adalah ibu Lastri, ibu Lastri sudah mengetahui perihal pernikahan putranya yang akan di adakan dua hari lagi. Karena Angga sudah meminta izin kepada mereka berdua, begitu juga dengan tuan Roberto dan mama Sinta.
Sebenarnya ketika Angga dalam masa penyembuhan pasca operasi, saat itu juga tuan Roberto dan mama Sinta pergi menuju ke kampung halaman Angga. Mereka berdua menjumpai kedua orang tua Angga karena ingin bersilaturahmi dan membahas masalah yang begitu penting.
Maka dari itu, akhirnya pak Burhan dan ibu Lastri setuju, untuk pergi ke kota jakarta. Dan tentunya mereka melakukan penyamaran yang di jaga ketat oleh anak buat Tuan Roberto.
Sedangkan Rebecca yang mendengar perkataan dari calon ibu mertuanya pun menjadi terkejut.
"Ibu... ! Apakah ibu sudah mengetahui siapa aku?" tanya Rebecca menatap malu.
"Tentu saja ibu tahu. Kau adalah calon istri Angga, yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya Angga. Ayo peluk calon ibu mertuamu ini nak. Ibu sudah lama ingin bertemu langsung denganmu."
Tanpa banyak berpikir, Rebecca langsung berlari memeluk wanita berpenampilan sederhana itu. Tidak pernah menyangka, jika kedua orang tua Angga begitu baik menyambut dirinya.
"Terimakasih bu...! Sungguh aku sangat bahagia rasanya."
"Terimakasih juga nak, karena kau sudah menerima Angga, yang awalnya tidak bisa melihat. Kau benar benar wanita yang baik Rebecca. Angga sungguh beruntung mendapatkan wanita sesempurna dirimu."
"Hahaha...! Ibu terlalu berlebihan memujiku." Rebecca tersenyum malu sambil mencuri pandang kearah Angga.
Angga yang melihat lirikan dari Rebecca pun, ikut tersipu malu, Angga tidak pernah menyangka, jika wanita yang menjadi jodohnya adalah wanita yang begitu cantik sempurna.
Deeggghhhh.....
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Angga merasakan jantungnya berdetak hebat. Dia yang gugup pun langsung mengalihkan pandangannya dan menyentuh dada nya sendiri.
"Ya Tuhan....! Sepertinya aku mempunyai perasaan kepada wanita ini. Semoga saja, kelak hatiku tidak merasakan sakit lagi. Aku sungguh trauma dengan cinta. Setelah Cika menghianati ku beberapa tahun yang lalu." gumam Angga di dalam hati.
Setelah itu, mereka semua duduk saling berbincang bincang layaknya saudara yang sudah lama mengenal.
Hingga tak lama kemudian, tuan Roberto tampak memberikan isyarat kepada pak Burhan agar beliau mengikuti langkah kaki tuan Roberto.
"Angga...! Papa izin keluar sebentar bersama pak Burhan ya. Papa ingin mengajak pak Burhan minum kopi di cafe yang ada di depan klinik." ucap tuan Roberto kepada Angga.
"Iya silahkan pa. Papa jangan memikirkan diriku. Karena di sini ada mama, ibu, dan calon istriku yang akan menjaga ku." jawab Angga sedikit menggoda Rebecca.
"Hahaha.... Baiklah kalau begitu, mari pak Burhan."
Sebelum pergi pak Burhan menatap kearah Angga. Angga yang mengerti akan tatapan bapaknya langsung menganggukkan kepala. Tapi tidak dengan ibu Lastri, dia menggelengkan kepalanya seakan tidak memberi izin kepada pak Burhan.
Melihat ekspresi wajah bu Lastri, pak Burhan langsung mengedipkan mata sebagai tanda kalau semua akan baik baik saja, dan dengan terpaksa ibu Lastri mengizinkan pak Burhan keluar bersama tuan Roberto.
Tujuan tuan Roberto saat ini akan membawa pak Burhan ke markas utama milik Jackson. Dia ingin memperkenalkan pak Burhan kepada Jackson melalui panggilan Video.
"Kita hendak kemana tuan?" tanya pak Burhan ketika sudah berada di dalam mobil.
"Ke tempat rahasia, yang tidak kau ketahui pak."
"Maksud tuan apa?" tanya pak Burhan merasa panik.
Pak Burhan sempat berpikir, mungkinkah tuan Roberto adalah komplotan dari para musuhnya di masa lalu? Yang masih gencar mencari dirinya sampai saat ini.
Melihat kepanikan yang tersirat jelas di wajah pak Burhan, membuat tuan Roberto dan pak Tagor yang sedang menyetir tertawa lucu.
"Hhahahaa..... hahha.....! Lihatlah pak Tagor. Ternyata preman satu ini, sedang mencurigai kita berdua." sindir tuan Roberto membuat pak Burhan tersentak kaget.
"Apa maksud perkataannya? Apakah mereka mengetahui siapa aku sebenarnya!" tebak pak Burhan di dalam hati.
__ADS_1