
"Apa maksud dari semua ini tuan Roberto....?" tanya pak Burhan terkaget kaget, saat tiba di sebuah rumah besar yang berada di pinggir hutan.
Tuan Roberto tersenyum lirih, lalu mengajak pak Burhan untuk masuk ke dalam pagar rumah yang tidak terkunci itu.
Melihat rumah tua itu, pak Burhan sedikit merinding. Pasalnya rumah itu terlihat menyeramkan dan seperti tidak ada penghuninya. Di depan mereka, pak Tagor terus berjalan menuntun mereka hingga masuk ke dalam rumah.
Pintu rumah itu tidak terkunci, karena para penjaga dari rumah itu sudah membukanya terlebih dahulu, sebelum mereka bertiga tiba di tempat tersebut.
"Silahkan masuk Tuan Burhan." ucap Pak Tagor mempersilahkan Pak Burhan dan juga Tuan Roberto.
Sesampainya di dalam ruangan yang persis seperti ruang tamu, Pak Burhan menelisik seluruh ruangan itu dengan tatapan tidak percaya.
Apa lagi ketika dirinya melihat foto seorang pria muda yang sedang memeluk anak laki-laki berusia 2 tahun. Pak Burhan membulatkan matanya karena merasa kenal dengan wajah dari sosok di foto tersebut.
"Boby..!" pekik pak Burhan dengan nada terkejut.
Dengan cepat, dia berlari mendekati foto itu dan berusaha menatapnya lekat.
"Iya, ini adalah foto boby sahabat baik ku. Bagaimana mungkin fotonya ada di dalam rumah tua ini? Apakah kalian mengenal siapa pemilik dari rumah ini?" tanya pak Burhan berbalik badan menatap kearah pak Tagor dan juga tuan Roberto.
Tuan Roberto langsung tersenyum tipis, lalu dia pun menurunkan foto itu dan memegang nya erat.
"Apakah kau mengenal siapa pria yang ada di foto ini Burhan..?" tanya Tuan Roberto menatap sedih.
Mendapat pertanyaan seperti itu, pak Burhan terdiam sesaat, sambil menatap lekat wajah tuan Roberto. Sebenarnya siapa pria ini? Mengapa dia sepertinya dia juga mengenal dekat sahabatnya Boby.
__ADS_1
"Iya aku mengenal pria itu, dia adalah Boby sahabat lama ku sewaktu kami muda dulu."
"Lalu, apakah kau ahu di mana keberadaan dia saat ini?"
"Tidak...! Aku tidak mengetahuinya. Kami sudah lama berpisah, dan kami sudah lama sekali tidak pernah bertemu lagi. Hiks... hiks.."
Pak Burhan meneteskan air mata dengan deras, dada nya serasa sesak dan kesedihannya tidak dapat tertahankan lagi. Melihat pak Burhan yang menjadi seperti itu, dengan cepat tuan Roberto mendekatinya dan mengelus punggung pak Burhan.
"Luapkan kesedihan yang kau tahan sejak lama itu Burhan..! Kau tidak boleh menyimpan nya terlalu lama lagi."
"Kau benar. Aku memang sudah sangat lama menyimpan kesedihan ini di dalam hatiku. Karena aku begitu pengecut untuk mencari keberadaan dirinya." jawab pak Burhan semakin meluapkan kesedihannya.
Bahkan pria paruh baya itu sampai terduduk di atas lantai yang sudah lama tidak di injak oleh siapapun.
Pak Burhan langsung mendongakkan wajahnya menatap kearah tuan Roberto, dia merasa penasaran dengan perkataan yang akan diucapkan oleh pria itu.
"Katakan tuan! Apa sebenarnya yang kau ketahui tentang sahabatku Boby dan juga keluarganya? Apakah kau tahu, di mana dia saat ini?"
"Burhan...! Boby sudah lama meninggal dunia. Dia di bunuh sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, putranya masih berusia 15 tahun. Dan putranya menjadi saksi bisu atas pembunuhan keji yang dilakukan oleh para musuh kalian berdua. Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal siapa Boby. Tapi aku pernah bertemu dengannya ketika kami sama sama akan memulai bisnis batu bara di wilayah plosok kota ini. Dan aku baru tahu kematian Boby setelah bertemu dengan putranya empat tahun yang lalu. Putra Boby bernama Jackson. Dia terpaksa mengubah seluruh identitas dirinya demi mencari aman dan bisa membalas dendam kepada para pembunuh ayahnya. Bahkan demi menjalankan rencananya, dia sampai membuat kelompok mafia yang sekarang masih berdiri kokoh, dengan tujuan ingin membalas atas kematian ayahnya Boby." jelas tuan Roberto kepada pak Burhan.
Pak Burhan langsung menatap wajah tuan Roberto dengan lamat. Saat ini mereka saling berhadapan duduk di atas lantai.
Lalu pak Tagor ikut menimpali penjelasan tuan Roberto. Dia yang telah sepuluh tahun mengikuti bos nya Jackson, sejak awal berdirinya kelompok mafia Blakc Dragon pun, ingin menyampaikan segala suka duka yang sudah dilalui oleh bos nya itu.
"Hormat saya Tuan. Maaf jika saya sudah menyembunyikan identitas saya yang sebenarnya. Tapi, ini semua demi pendekatan kami semua kepada putra anda Angga. Bos Jackson telah menyusun rencana sejak 4 tahun yang lalu, tepatnya ketika kejadian kecelakaan yang menimpa tuan Angga. Dan kami sengaja masuk secara diam diam agar tuan Angga tidak merasa terkejut tuan."
__ADS_1
Tunggu...! Apa maksud mu sebenernya pak Tagor? Aku sungguh tidak mengerti. Kenapa kalian berusaha mendekati putraku Angga? Apakah kalian sengaja ingin melibatkan dirinya dalam masalah ini?" tanya pak Burhan menatap tajam.
Sungguh, dia tidak setuju jika putra yang susah payah dia jaga dan lindungi bertahun-tahun, malah harus ikut ke dalam permasalahan di masa lalu nya.
Melihat kemarahan pak Burhan. Tuan Roberto langsung mengajak pak Burhan berjalan menuju ke sebuah ruangan.
Sepertinya masalah ini harus dijelaskan sendiri oleh orang yang patut menjelaskan nya.
"Ayo ikut aku Burhan."
"Tapi kita mau kemana tuan Roberto?"
"Tenanglah, jangan panik seperti itu. Kau aman saat ini bersama kami." ucap tuan Roberto meyakinkan.
Lalu tak lama berselang, mereka bertiga sudah sampai di ruangan yang memiliki alat alat proyektor seperti layar lebar.
Setelah duduk di sebuah bangku panjang. Pak Tagor pun langsung menghidupkan layar monitor yang memunculkan seorang pria tampan memenuhi layar tersebut.
Kedua mata pak Burhan kembali membulat sempurna, kala melihat siapa sosok pria yang berada di dalam layar itu.
"Jackson.....! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian bisa mengenal anak muda itu?" tanya pak Burhan menatap penuh tanya kearah mereka berdua.
Lalu pak Tagor kembali melanjutkan tugasnya, setelah panggilan Video berjalan sempurna, pak Tagor mempersilahkan Jackson untuk menyambut pria paruh baya yang muncul di dalam layar handphone nya.
"Hai om Burhan..! Senang bisa bertemu lagi dengan anda om." sapa Jackson tersenyum ramah.
__ADS_1