
Petang telah tiba, dan saat ini Angga bersama pak Tagor baru saja sampai di halaman rumah sederhana milik Angga.
Angga langsung mempersilahkan pak Tagor untuk singgah masuk kedalam rumah. Dan setibanya di dalam, betapa terkejutnya mereka berdua kala mendengar suara keributan yang berasal dari arah dapur.
Pak Tagor melirik ke wajah Angga. Begitu juga dengan Angga. Mereka seakan sedang menerka siapa gerangan yang sedang membuat kekacuan di dapur saat ini.
"Tuan!" panggil pak Tagor mengerutkan keningnya.
"Ya Tuhan! Apa lagi yang wanita itu lakukan."
Angga menepuk jidatnya menggunakan tangan, sudah bisa ditebak, jika orang yang sedang membuat ulah di dapur sudah pasti adalah Rebecca.
Hingga detik kemudian, Indra penciuman mereka berdua sama sama menghirup aroma gosong yang menyeruak mengelilingi ruangan. Angga dengan replek langsung berlari kencang menuju kearah dapur.
Melihat hal itu, pak Tagor juga ikut berlari menyusul tuannya, jangan sampai tuanya itu menabrak dinding karena dirinya berlari tanpa melihat.
"Rebecca! Apa yang sedang kau lakukan!" teriak Angga membuat Rebecca merasa sangat terkejut.
Dia langsung mematikan kompor yang ada di hadapannya sambil tersenyum kearah Angga. Angga yang tidak dapat melihat ekspresi wajah Rebecca pun hanya menatap dingin.
Sedangkan pak Tagor, pria paruh baya itu tertawa geli melihat betapa berantakannya dapur yang ada di depan matanya saat ini.
"Ya Tuhan! Sepertinya nona Rebecca ini benar benar unik." gumam pak Tagor.
"Hay Angga! Akhirnya kau pulang juga, aku sudah sejak tadi menunggu kepulanganmu lo." sapa Rebecca ramah sambil berlari mendekati pria buta itu.
"Apa yang sedang kau lakukan Rebecca? Kenapa aku mencium bau gosong dari arah dapur?" tanya Angga mendengus dingin.
"Oh, itu, aku hanya sedang memasak makan malam untuk kita Angga. Kebetulan tadi siang aku melihat ada tukang sayur yang lewat di depan rumah, jadi aku berinisiatif untuk memanggilnya. Dan aku memborong belanjaan abang sayur sampai 300 ribu. Lihat sekarang kulkas mu sudah penuh aku isi dengan sayur sayuran Angga." jelas Rebecca sambil membuka kulkas yang ada disampingnya.
Pak Tagor kembali tertawa terpingkal pingkal, kali ini dia tidak mampu lagi menahan rasa gelinya itu.
__ADS_1
Sedangkan Angga hanya diam memasang wajah bingung. Bingung karena tidak percaya akan kemampuan Rebecca memasak sayur.
"Rebecca! Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal ini. Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu jika kau tidak usah belajar memasak lagi!"
"Iya, tapi aku penasaran Angga. Mana mungkin gadis pintar sepertiku tidak pandai memasak. Bukankah memasak itu hanya pekerjaan yang mudah?"
Mendengar perkataan Rebecca, Angga memasang wajah bingung. Hingga akhirnya dia pun berusaha merayu Rebecca agar mau berhenti belajar memasak.
"Rebecca. Begini saja, setelah kita resmi menikah, maka aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Dan kau bisa meminta ibuku untuk mengajarkan dirimu memasak. Ibuku sangat pintar soal mengolah makanan, aku yakin kau pasti bisa menguasai ilmu yang dia berikan nantinya." saran Angga membuat Rebecca berbinar bahagia.
"Benarkah Angga! Ya sudah, aku mau Angga. Ayo cepat kita segera menikah!" ajak Rebecca merangkul lengan tangan Angga.
"Ya, beberapa hari lagi kita akan melangsungkan pernikahan Rebecca. Sekarang aku sangat lapar. Lebih baik kita makan malam terlebih dahulu."
"Baiklah. Tunggulah di meja makan. Aku akan menyiapkan sayur yang sudah selesai aku masak, tapi tidak ada lauknya. Karena telur dadar yang aku goreng kembali gosong.
" Tidak perlu Rebecca. Sekarang ikut aku. Kita akan makan bersama sama."
Melihat tuan dan nona nya sudah melangkah meninggalkan dapur. Pak Tagor langsung menelisik dapur yang berantakan itu. Pak Tagor sangat penasaran akan apa yang dimasak oleh calon istri dari tuannya.
"Oh! Ternyata nona Rebecca sudah selesai memasak sayur kangkung tumis. Jika aku perhatikan bentuknya tidak terlalu buruk, tapi bagaimana dengan rasanya ya?" gumam Pak Tagor merasa penasaran.
Dan tanpa sadar, jari tangan pak Tagor sudah masuk kedalam piring sayur tersebut. Dia ingin mencicipi rasa masakan calon istri tuannya.
Hingga detik kemudian......
"Huekkkk..... Huekkkk..... !"
"Makanan apa ini? Rasanya begitu asin dan terasa mentah. Untung saja tuan Angga tidak memakannya. Jika tidak, pasti tuan Angga bisa sakit perut dan muntah muntah." rutuk pak Tagor langsung pergi meninggalkan dapur yang berantakan itu.
****
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian, kini Angga, pak Tagor dan Rebecca sudah selesai menyantap makanan nasi bungkus yang sengaja Angga beli saat menuju pulang.
Rebecca yang tidak pernah memakan makanan seperti itu pun, merasa sangat senang, karena baginya nasi uduk adalah makanan yang begitu lezat.
"Terimakasih ya Angga! Karena kau sudah membelikanku makanan istimewa seperti ini. Oya kalau boleh tahu kau beli nasi nya di mana?" tanya Rebecca menatap lekat.
Angga meneguk air putih yang ada di hadapannya, setelah itu barulah dia menjawab pertanyaan Rebecca.
"Aku membelinya tepat di depan gaba gaba kampung. Di sana ada menjual berbagai makanan murah meriah. Memangnya kau belum pernah memakan nasi uduk sebelumnya?"
"Belum. Pamanku sangat menjaga pola makan kami. Jadi mau tidak mau, aku terpaksa mengikuti apa yang mereka terapkan."
"Benarkah! Itu artinya pamanmu sangat menjaga kesehatan kalian semua Rebecca. Tidak seperti kami yang selalu menyantap apapun, asalkan mengenyangkan dan halal."
"Tidak juga. Sehat dari mananya? Buktinya aku memiliki penyakit lambung." sangkal Rebecca lirih.
Angga tersenyum tipis mendengar perkataan Rebecca. Bisa dia rasakan jika wanita di hadapannya ini memiliki begitu banyak beban dan juga kesedihan yang mendalam.
"Rebecca. Ayo sekarang aku antarkan kau pulang. Kita tidak bisa tinggal satu rumah tanpa adanya ikatan yang sah. Aku janji setelah kita menikah maka kita akan tinggal di rumah ini." ajak Angga kepada Rebecca.
Rebecca menatap lekat kedua mata Angga yang tampak kosong. Apakah dia harus kembali pulang malam ini? Jujur saja, walaupun rumah Angga tidak mewah dan besar, tapi Rebecca merasa nyaman tinggal di tempat ini.
"Benar yang dikatakan oleh Tuan Angga. Lebih baik nona kembali pulang kerumah. Dan kami akan mengantarkan nona sampai di rumah." timpal pak Tagor membuat Rebecca mengangguk lesu.
"Baiklah. Aku akan bersiap siap terlebih dahulu."
Rebecca melangkah menuju masuk ke kamar yang dia tempati tadi malam. Sedangkan Angga dan Pak Tagor kembali melakukan penyamaran mereka.
Merubah penampilan menjadi pria buta yang bodoh dan pria tua yang miskin.
Sebenarnya Angga tidak tega menyuruh Rebecca kembali pulang kerumahnya lagi.. Tapi Angga juga tidak mau, jika mereka sampai digrebek oleh orang orang kampung. Karena mengetahui mereka tinggal dalam satu rumah tanpa status yang jelas.
__ADS_1
"Sabarlah Rebecca. Aku janji akan membawamu kembali untuk tinggal di rumahku ini." gumma Angga di dalam hatinya.