Pria Buta Yang Genius

Pria Buta Yang Genius
Perubahan Sikap Paman Wiliam


__ADS_3

Angin bertiup kencang, di iringi suara petir yang menyambar nyambar. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Angga dengan sigap menarik tangan Rebecca untuk masuk ke dalam mobil.


Hingga tak lama kemudian, pak Tagor sudah mengemudikan mobilnya menuju kerumah Rebecca.


Di dalam mobil, Rebecca tidak henti hentinya menatap ke wajah Angga. Entah mengapa dia begitu berat berjauhan kembali dengan pria buta itu.


Angga, walaupun tipe pria pendiam dan dingin, tapi Rebecca sangat nyaman ketika berada disampingnya.


Angga yang merasakan keheningan di dalam mobil pun langsung mengeluarkan suaranya.


"Rebecca! Apakah kau baik baik saja?" tanya Angga membuat Rebecca sontak terkejut.


"Eh, iya aku baik baik saja Angga." jawab Rebecca terbata bata.


"Rebecca. Setibanya di rumah pamanmu nanti. Lebih baik kau tidak usah banyak bicara dengan mereka. Kau langsung masuk saja ke dalam kamarmu. Biar aku yang mengurus pamanmu."


"Tapi...! Bagaimana jika dia memarahimu Angga? Aku sangat mengenal seperti apa pamanku itu. Walaupun dia tidak perduli akan keadaanku, tapi dia suka sekali mencari cari kesalahanku." jawab Rebecca menjelaskan.


Angga mengerti kepanikan yang dirasakan oleh Rebecca. Dengan lembut pria itu mengusap usap atas kepala Rebecca.


"Kau tenanglah. Serahkan semuanya kepadaku. Aku sudah menyiapkan jawaban yang bagus." jelas Angga tersenyum manis.


Walaupun saat ini Angga sedang berpenampilan culun, tapi bagi Rebecca, Angga tetap saja tampan dan menawan.


"Ya Tuhan. Aku rasa aku benar-benar jatuh hati kepada pria ini." gumam Rebecca di dalam hati.


Hingga tanpa terasa kini mereka sudah tiba di perempatan jalan komplek. Angga, dan Rebecca jalan beriringan bersama pak Tagor.


Dan setibanya di depan pintu gerbang. Mereka langsung disambut oleh satpam yang berjaga.


"Nona Rebecca! Nona kau dari mana saja nona?" tanya satpam itu menatap terkejut.


"Tenanglah pak. Aku dari rumah calon suamiku. Oya apakah paman dan tante Amor ada di dalam?"


"Iya mereka ada di dalam, sepertinya baru selesai makan malam. Nona segera masuklah, cuaca akan segera turun hujan." ucap satpam itu kepada Rebecca.


Rebecca tersenyum mengangguk, dan dia membawa Angga serta pak Tagor untuk masuk kedalam rumahnya. Rumah yang menjadi asing untuknya.


"Angga! Apa tidak lebih baik, kau langsung pulang saja. Aku sangat takut jika pamanku menghina dirimu lagi." bisik Rebecca berdiri di depan pintu rumah.

__ADS_1


"Tidak! Aku bukanlah pria pengecut Rebecca. Kau telah menginap satu malam di rumahku. Jadi sudah sewajarnya aku mengatakan maaf kepada pamanmu."


"Baiklah kalau itu maumu."


Rebecca langsung mengetuk pintu, namun belum juga tangannya menyentuh kayu pintu itu, Tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dari arah dalam.


Ckleekkk....


Mereka bertiga menatap lekat, siapa kira kira yang telah membuka pintu. Dan tak lama muncullah seorang wanita yang tak lain adalah Laura.


Laura tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Untuk apa kau kembali pulang? Bukankah kau sudah aku usir dari rumah ini?" tanya Laura membuat Rebecca berdecak kesal.


Tanpa menjawab pertanyaan wanita itu, Rebecca langsung menerjang masuk sambil menarik tangan Angga. Laura yang mendapatkan terjangan dari tubuh Rebecca langsung terhempas kebelakang hingga menabrak dinding.


"Akkkkrrggg....! Apa yang kau lakukan Rebecca!" teriak Laura marah.


"Aku tidak ada urusan dengan mu." jawab Rebecca cuek.


Pak Tagor juga mengikuti langkah kaki Rebecca dan juga Angga. Lalu ketika mereka hendak duduk di ruang tamu. Terdengar suara paman Wiliam yang menyambut kedatangan mereka ramah.


Paman Wiliam tersenyum dan melangkah duduk di hadapan mereka bertiga. Sikap paman Wiliam tampak berubah tidak seperti yang biasanya. Dan hal itu membuat mereka mengeryit heran.


"Rebecca! Akhirnya kau kembali juga. Paman sangat khawatir dengan mu Rebecca."


"Benarkah paman!"


"Tentu saja. Oya, bagaimana dengan pernikahan kalian berdua? Maaf karena malam itu paman sudah berkata kasar kepada kalian. Paman sadar jika seharusnya paman tidak boleh melakukan hal seperti itu. Wira! Jadi kapan kau akan menikahi keponakanku?" tanya paman Wiliam menatap Angga lekat.


"Dalam minggu ini paman. Aku akan menyiapkan segala keperluannya terlebih dahulu."


"Oh, tidak usah repot repot Wira. Biarkan semua paman yang mengaturnya. Kau dan bapakmu hanya perlu datang tepat waktu. Bagaimana pak?"


Pak Tagor mengangguk setuju. Kali ini mereka akan mengikuti permainan yang sudah di rencanakan oleh pria licik itu.


Melihat anggukan pak Tagor, paman Wiliam langsung tertawa senang. Setelah itu Angga dan pak Tagor memutuskan untuk kembali pulang.


Sepergiannya mereka berdua, Rebecca menatap wajah pamannya dengan lekat.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya paman rencanakan? Kenapa tiba-tiba paman menyetujui pernikahanku bersama Wira?" tanya Rebecca curiga.


"Kenapa Rebecca? Kau terlalu curiga kepada pamanmu sendiri.. Sekarang beristirahatlah ke kamar mu. Paman masih mempunyai banyak pekerjaan." titah paman Wiliam meninggalkan Rebecca sendiri.


Rebecca memandang punggung pamannya yang sedang naik ke atas tangga. Dia sangat yakin jika pamannya sedang merencanakan sesuatu untuk dirinya.


"Semoga saja paman benar benar berubah!" gumam Rebecca pelan.


***


Sedangkan di luar pagar. Angga dan pak Tagor berjalan beriringan meninggalkan rumah mewah Rebecca.


Angga hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun, dan pak Tagor dapat mengerti jika pria muda itu pasti sedang memikirkan banyak masalah.


"Ayo tuan. " pak Tagor mempersilahkan Angga masuk ke dalam mobil. Setelah itu pak Tagor mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Hujan lebat mengguyur perjalanan pulang mereka. Angga yang sedang melamun langsung dikejutkan dengan bunyi handphone yang dia pegang.


"Pak. Sepertinya ada penyusup yang ingin meretas akun ponselku." ucap Angga kepada pak Tagor.


"Siapa Tuan? Apakah Tuan dapat mengenali akun peretas itu?"


"Aku tidak tahu pak. Aku tidak bisa melacaknya menggunakan handphone. Aku harus melacak menggunakan komputerku pak."


"Ya sudah, saya akan menambahkan kecepatan mobilnya."


Pak Tagor mengemudi dengan kecepatan kencang, hingga beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di rumah milik Angga.


Angga langsung turun dan membuka pintu rumah. Dia merasa khawatir jika identitas dirinya dapat diketahui oleh orang lain.


Setibanya di kamar, Angga menghidupkan komputer jaman miliknya, komputer itu memiliki semua akses yang Angga inginkan. Dan dia langsung mengotak atik mouse yang ada di tangannya. Sambil mendengarkan arahan dari suara yang keluar dari komputer tersebut.


Sedangkan pak Tagor. Hanya memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Tuannya. Hingga detik selanjutnya.


"Gawat pak. Ini semua adalahlah ulah orang orang David Becam. Sepertinya mereka belum menyerah mencari identitasku pak Tagor." ucap Angga membuat pak Tagor terkejut.


"Lalu apa yang harus tuan lakukan? Agar mereka tidak dapat membobol akun anda tuan?"


"Aku akan mengubah sistem keamanan sandiku. Sehingga mereka tidak akan berhasil meretas akun ku pak Tagor." jawab Angga tersenyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2