Pria Buta Yang Genius

Pria Buta Yang Genius
Permintaan Rebecca


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan kepada calon mertuaku?" bentak Rebecca membuat ketiga orang itu menjadi terkejut.


Dengan cepat Rebecca langsung berlari dan menarik tangan pak Tagor, menjauh dari todongan senjata yang diarahkan oleh paman William.


Sedangkan Angga, dia benar-benar merasa marah. Sekuat tenaga dia meredam amarah yang melonjak di dalam dadanya.


"Shiitt....! Ingin sekali rasanya aku menghajar pria licik itu. Andai Rebecca tidak melarang ku. Sudah sejak tadi aku memberi bogem mentah kearah wajahnya." rutuk Angga mengepalkan kedua tangannya.


Sedangkan paman William, tante Amor dan juga Laura, langsung tertawa terbahak bahak melihat reaksi Rebecca yang begitu tampak ketakutan.


Memang pantas jika Rebecca mempunyai calon suami dan calon mertua yang miskin seperti mereka berdua.


"Hahahha! Kenapa kau berteriak seperti itu keponakanku tersayang? Apakah kau takut jika aku sampai melukai calon mertuamu ini?" tanya paman William dengan tampang mengejek.


"Cukup paman! Kedatangan mereka berdua hanya ingin melamarku, bukan menantang kekuasaan paman. Sekarang biarkan aku menikah dengan Wira. Paman tenang saja, aku tidak akan meminta sepeser pun uang paman. Karena aku hanya butuh restu paman untuk menikahkan aku dengan Wira." jelas Rebecca menatap lekat.


Mendengar permintaan Rebecca, paman William langsung tersenyum miring. Kali ini dia percaya bahwa hubungan Rebecca bersama pria buta itu, murni karena saling mencintai.


"Baiklah. Paman akan menikahkanmu dengan pria buta itu. Dan setelah kau resmi menikah dengannya, maka secepatnya kau harus menepati janjimu tenpo hari Rebecca. Karena jika tidak, maka aku akan memberikan balasan setimpal untukmu." ancam paman William menujuk dingin kewajah Rebecca.


Rebecca menelan ludah kasar. Kali ini dia tidak boleh takut dan harus kuat melawan kejahatan pamannya itu.


"Baik. Aku mengerti paman." jawab Rebecca berpura-pura menurut.


"Bagus. Kalau begitu, bawalah mereka berdua keluar dari rumahku. Aku tidak sudi jika harus berdekatan dengan mereka berdua." usir paman William kepada Angga dan juga Pak Tagor.


Setelah mengatakan hal itu, paman William langsung melangkah pergi meninggalkan ruang tamu bersama dengan istrinya.


Sedangkan Laura. Dia tampak tersenyum tipis sambil berjalan kearah Rebecca.


Rebecca yang melihat kedatangan dari wanita itupun, langsung memasang wajah tak bersahabat. Sungguh dia sangat muak melihat sikap dari adik sepupunya itu.


"Hahaha! Dasar orang orang rendahan. Kau sangat pintar mencari jodoh Rebecca. Dan aku benar-benar salut kepadamu karena kau sadar diri akan level rendahanmu itu." ejek Laura menelisik tajam.


"Diam kau! Wanita tidak punya malu. Bahkan kau lupa jika kau sedang menumpang di rumahku saat ini."

__ADS_1


"Apa! Rumahmu? Jangan bermimpi Rebecca. Ini adalah rumah papaku. Dan kau tidak mempunyai hak apa apa di keluarga ini. Sekarang cepat bawa calon suami miskinmu itu. Aku muak melihat kalian berdua." sangkal Laura marah dan mengusir Angga dari rumah itu.


Rebecca langsung berlari menubruk tubuh Laura hingga menabrak dinding yang ada di belakangnya. Dia juga telah mencengkram leher Laura lumayan kuat.


"Apa.. yang kau lakukan!" teriak Laura terbata bata.


"Aku ingin sekali menghabisimu Laura. Lihat saja, dikemudian hari kau akan bertekuk lutut di bawah kakiku. Ingat itu Laura!" ancam Rebecca memancarkan tatapan yang begitu tajam.


Setelah itu, dia pun langsung melepaskan cengkraman tangannya, hingga membuat Laura menjadi terbatuk batuk.


"Uhuk... uhukkk....! Dasar gadis gila! Pergi kau selamanya dari rumah ini Rebecca. Aku tidak sudi melihatmu di sini!" histeris Laura menahan sakit di lehernya.


Sedangkan Rebecca. Dia sudah berlalu mengajak Angga dan pak Tagor keluar dari rumah mewah tersebut.


Saat ini perasaan Rebecca sangatlah kesal, tampak dari langkah kakinya yang berkali kali dia hentakkan ke atas tanah.


Angga yang menyadari hal itu, langsung meraba raba kearah sampingnya dan memegang tangan Rebecca erat, setelah berhasil menemukannya.


"Ada apa? Apakah kau merasa kesal?" tanya Angga terdengar lembut.


Senyum kebahagiaan langsung terukir di bibir merah Rebecca. Dan hal itu tak luput dari penglihatan pak Tagor, yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku mereka berdua.


Pak Tagor memilih berjalan di belakang mereka. Karena pak Tagor ingin memberikan waktu luang agar mereka bisa semakin dekat.


"Sudahlah, jangan marah marah lagi. Aku yakin suatu saat mereka semua akan mendapatkan ganjaran atas perbuatan jahat mereka."


"Iya, kau benar. Setiap perilaku yang kita lakukan, pasti memiliki karmanya sendiri, karma baik dan karma buruk akan tetap menghampiri kehidupan setiap manusia. Terimakasih ya karena kau sudah mendukungku." ucap Rebecca tersenyum manis.


Mendengar perkataan wanita di sampingnya, membuat Angga menjadi ikut tersenyum. Lalu tak lama kemudian, Angga pun merasakan jika tangannya yang sedang memegang erat tangan Rebecca, di ayun ayunkan oleh wanita itu dengan nada kegirangan.


"Oya, kalau boleh tahu, tadi kau kemari naik apa? Kenapa mobil pak Tagor tidak ada di depan pagar?" tanya Rebecca merasa heran sambil celingukan melihat kearah kanan dan kiri.


"Aku dan pak Tagor berjalan kaki saat menuju kemari, sedangkan mobil pak Tagor, dia parkirkan di jalan simpang tiga yang ada di ujung komplek. Sekarang kau masukklah kedalam. Aku dan pak Tagor akan melanjutkan perjalanan kami." titah Angga sambil menghadap kearah Rebecca.


Mendengar perintah dari Angga. Rebecca langsung mengerucutkan bibirnya. Jujur saja dia sangat malas untuk kembali masuk kedalam rumah itu.

__ADS_1


Bahkan Angga yang berniat ingin melepaskan genggamanan tangannya, langsung Rebecca tahan, membuat Angga mengernyitkan keningnya heran.


"Ada apa Rebecca?"


"Angga! Malam ini saja, aku mohon, izinkan aku untuk menginap di kamar hotelmu!"


"Apa....!! "


Angga dan pak Tagor berteriak secara bersamaan, karena merasa terkejut mendengar permintaan dari wanita itu.


****


Hampir satu jam kemudian, mobil yang dikemudian oleh pak Tagor sudah berhenti di depan sebuah rumah papan tua yang terlihat sepi.


Rebecca yang merasa asing dengan tempat yang mereka kunjungi itu pun, langsung menurunkan kaca mobil dan mengarahkan pandangnya ke sekitar tempat itu.


Rebecca benar-benar merasa heran, bukankah seharusnya mobil pak Tagor pergi menuju ke hotel bintang lima yang ada di kota Jakarta? Tapi kenapa ini malah berhenti di perkampungan sepi yang terlihat menyeramkan.


Lampu lampu di depan jalan tempat itu, terlihat remang remang, dan ada juga yang berkelipan seperti hampir putus. Rebecca yang sudah sangat penasaran pun langsung mengarahkan tatapannya kearah Angga.


Namun sayang, belum juga dia berbicara, Angga sudah keluar terlebih dahulu dari dalam mobil yang mereka tumpangi.


"Angga tunggu!" pekik Rebecca merasa takut.


"Cepat turun. Katanya kau mau menginap di rumahku." ajak Angga tersenyum.


Rebecca tersentak kaget, dia langsung berlari mendekap tubuh Angga.


"Jangan main main Angga. Bukankah kau tinggal di kamar hotel mewah? Lalu kenapa sekarang kita berada di rumah yang begitu menyeramkan ini?" tanya Rebecca menatap tak percaya.


"Nona Rebecca. Ini adalah rumah Tuan Angga. Dan mulai dari sekarang Tuan Angga akan tinggal di rumah ini."


"Haah......!!! "


Rebecca membuka mulutnya lebar. Sambil menelisik sekitar rumah tua itu. Di dalam hatinya, dia harus bisa menerima apapun yang menjadi milik Angga.

__ADS_1


"Kau pasti bisa Rebecca. Cobalah untuk berdamai dengan keadaan." gumam Rebecca di dalam hati.


__ADS_2