
Killion merasa tenang sebab adiknya yang mabuk itu ditemukan oleh James di taman yang sepi.
James hanya menceritakan hal umum saja, sebab detail kenapa dia bisa pingsan ditaman dan apa yang sudah Freya ucapkan di hadapan James tak diceritakan kepada Killion.
"Tenanglah, biar aku yang menjaga Fre." James memberitahu Killion, karena Killion diminta untuk menemui Count Sarno yang juga profesor di Akademi.
"Kutitipkan dia padamu ya, aku akan memberi tahu Ayah tentang kondisi Fre."
Biasanya James akan merasa jenuh karena harus menjaga Fre yang kalo sudah sadar pasti banyak bicaranya. Tapi kalo ini James memasang wajah paling bahagia. Dia seperti telah mendapatkan restu dari Kakak iparnya.
"Kau pulang juga tak apa, aku akan antarkan Freya besok dengan selamat!" James lagi lagi membuat kalimat dibuat nalarnya. Dia sendiri kagum dengan tindakan spontannya itu.
"....?"
"Kau sibuk bukan? Count Sarno pasti akan banyak bicara." James berkilah.
"Benar." Killion membenarkan omongan James, "Apa tidak masalah?"
"Tentu saja!" James langsung menjawab pertanyaan Killion dalam waktu 1 detik.
Killion seperti didesak untuk menyerahkan adiknya kepada Singa jantan tersebut. Meski curiga tapi Killiin tetap pergi dan meninggalkan Freya dibawah komando James.
James tersenyum melepas kepergian Killion. James merasa seperti semesta telah merestuinya. Semua jalannya dipermudah.
Sejak pergianya Killion, James langsung bergegas pergi di kamar tamu aula yang ada di lantai 3. Membayangkan wajah Freya yang tertidur pulas di kasur membuat James kegirangan.
Pertama kalinya dia merasa terpesona pada wajah merah merona wanita yang mabuk dan mengakui perasaan dengan sangat jujur kepadanya.
Sesampainya di kamar dia (James) duduk di bangku samping ranjang, James memandangi wajah Freya yang teduh. Rambut hitamnya telah berantakan. Dia punya hidung mancung sedang, bibirnya tipis mungil, tapi kenapa dia bisa banyak bicara dengan bibir kecilnya itu. Bulu matanya lentik. Cantik!
Sadar dengan apa yang dia pikirkan, James segara sadar. Rasanya James sudah benar benar jatuh ke dalam jebakan cinta semu.
__ADS_1
James terjaga sampai pagi, dia bahkan suka sekali mengelus pipi Freya yang mulus.
Freya yang kepalanya terasa berat merasakan ada yang mengelus pipinya dengan lembut. Awalnya dia merasa sedang bermimpi, tapi kadang kadang jari itu menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya saat dia bergerak dalam tidurnya.
"Ngh...." Freya mengeluarkan suara karena badannya terasa lelah.
'Tunggu?' Freya bergumam.
Grap, Freya menangkap tangan yang mengelus pipinya Dia lalu membuka matanya dengan paksa, hasilnya penglihatannya sedikit blur lalu perlahan lahan semakin terang dan dia mendapati wajah yang tak asing.
Freya sontak membuang tangan itu dan dia duduk. Tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Apa aku mengagetkanmu?"
"....?" Freya linglung. Kenapa Kak James ada diruangan ini bersamanya. Terlebih tindakannya tadi, diluar nalar Freya.
"Ah..." Freya memegangi kepalanya karena sakit kebanyakan minum.
Freya tak menolaknya. Setelah menghabiskan segelas air minum Freya akhirnya bisa berpikir jernih.
"Ah Kak James, apa yang sebenarnya terjadi?"
Freya tentu bingung, dia ada di kamar yang asing lalu bersama dengan James, teman Kakaknya yang wajahnya dingin sedingin kutub es dan wajah garang. Freya bahkan punya pengalaman yang membuatnya takut dengan James.
Diantara semua teman Kakaknya, hanya James orang yang tak pernah dekat dengan Freya. Dia juga tak mau mendekati James lebih dulu karena perangainya yang menakutkan.
"Hm... aku harus mulai dari mana ya?" James berkata sambil tersenyum.
Karena James tersenyum itulah membuat Freya merinding. 'Ada apa dengan dia?'
"Pertama kau banyak minum dan mabuk." James memulai penjelasannya.
__ADS_1
Hm.. Freya mengingat itu, dia mabuk karena dia rasa akan mengurangi rasa gugupnya, tak disangka dia malah mabuk parah.
"Lalu kau pergi ke taman." James melanjutkannya lagi.
Ya, Freya juga masih ingat itu. Dia melihat Deron bersama dengan temannya ke taman untuk merokok. Lalu salah satu diantaranya pergi dan...
"Apa?" Freya menjambak rambutnya tak percaya. 'Apa jangan jangan aku sudah mengakui perasaanku pada Deron?'
"Kau ingat?"
Freya mengangguk tak percaya.
"Kau bilang suka padaku selama 10 tahun?"
Freya melepaskan jambakannya lalu menatap James dengan wajah bengong tak percaya.
***
Kasihan James yak wkwkwk dia korban salah orang. Mana udah ke ge er an lagi.!
***
Halo Readers...
Untuk dukung author, JANGAN LUPA LIKE, SUBSCRIBE, KOMEN, VOTE DAN RATING BINTANG 5 NYA YA! Hehe....
Tebaran bunga atau kopinya juga boleh.
Makasih!
Happy reading!
__ADS_1