
Freya dan Camp banyak mengobrol dan berdiskusi mengenai hal hal penting menyangkut mansion ini. Entah kenapa Freya merasa kalau dirinya sekarang ini adalah Nyonya rumah. Pasalnya segala urusan internal diserahkan pada Freya, meski aneh Freya mengiyakan hal tersebut. Oiya, Freya juga digaji dan nominal gajinya sangat fantastis, di luar akar nalarnya, melebihi gaji kakaknya yang dulu pernah bekerja di istana. Satu kata, Hebat.
Freya makan siang di ruang kerja juga, dia sepertinya sangat asyik bekerja. Dia malah suka menyibukkan dirinya, membuat dirinya tidak memikirkan masalah perasaannya.
Sampai sore tiba, Freya akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia sudah membuat beberapa catatan mengenai pemetaan masalah dan mengenai anggaran kediaman. Freya tinggal memperlihatkan hasil kerjanya kepada Butler Camp. Meski lelah Freya merasa senang.
Sampai di kamar, Freya merebahkan badannya. Kakinya masih menggantung di ke lantai sedangkan badannya sudah ambruk ke kasur. Matanya melihat langit langit kamarnya. Bekerja ternyata rasanya menyenangkan tapi juga melelahkan. Dia niatnya hanya rebahan saja, tapi ternyata dka tertidur.
Sampai akhirnya salah seorang masuk kamarnya karena Nona Freya belum terlihat bahkan melewati jam makan malamnya. James tidak bisa sepenuhnya fokus dengan Freya sebab obrolannya dengan Deron juga masih berlanjut, kali ini mereka bicara dengan serius perihal persiapan keberangkatan mereka di medan perang
"Apa kau berniat dulu sebelum menikah?" James akhirnya melontarkan pertanyaan konyol.
"Kau sendiri?" Deron bertanya balik.
"Entahlah." Jawab James singkat. Mereka tengah minimal minuman alkohol.
__ADS_1
"Kalau kali ini kita tidak selamat.... " Deron berkata dengan berandai andai.
"Apa yang kau katakan!" James membentak tak suka. Memang benar, kali ini kawan mereka adalah pemberontak bar bar yang bekerja sama dengan Kerajaan perbatasan dan menuntut kemerdekaan.
"Perkataan adalah doa Deron. Kau adalah komandan, bagaimana mungkin bisa berkata demikian."
James berjanji pada dirinya kalau dia akan pulang dengan selamat tanpa bekas luka. Itu adalah janji dirinya sendiri. James ingat sekali wajah Freya yang mabuk, yang mengatakan kalau dia berdoa setiap hari demi keselamatannya, meskipun sebenarnya doa itu untuk Deron, tapi yah James terlanjur salah sangka.
Deron diam, kalau dia menikah sebelum perang dan tak kembali, dia hanya akan membuat Putri Arabella menjadi janda Marchioness. Deron meminum minumannya lagi. Pikirannya kusut.
Deron tersenyum kecut. Benakah? Nasib orang itu tidak ada yang tahu.
"Istirahatlah, kau kan habis menempuh perjalanan jauh." James memberikan sarannya.
Mereka pun kemudian bubar pergi ke kamarnya masing-masing.
__ADS_1
Sementara itu Camp datang menghampiri tuannya untuk memberi tahu kan aktivitas Nona Freya nya.
"Dia tertidur dan tidak melewatkan makan malamnya?" James bertanya tak percaya.
Apa dia selelah itu? James berpikir kalau besok dia harus memarahi Baron Ed dan meminta Freya melakukan hal yang sedikit saja.
"Lalu dia sudah makan?"
Camp mengangguk, pelayan membangunkan Freya agar dia bisa makan malam meski di kamarnya.
"Baguslah... " Deron sedih tidak bisa memberikan waktunya secara penuh kepada Freya, sebab memang semuanya sibuk.
Setidaknya besok, dia bisa sarapan bersamanya. Ah... apalagi ada Deron, teman Kakaknya dan temannya. Mereka belum sempat memberikan hormat dan menyapa satu sama lain.
Setelah memberikan laporannya, Camp pamit undur diri. Sedangkan James mengganti pakaiannya dengan piyama yang nyaman untuk dia tidur.
__ADS_1