
Makan malam itu seperti ada yang aneh saja. Wajah Count yang biasanya hangat dan ramah terlihat sedikit mengkerut dan bisa Freya ketahui bahwa Ayahnya sepertinya sedang banyak pikiran.
Sebelumnya, baik Killion dan Count Galo sepakat bahwa pada makan malam tersebut, mereka akan mengumumkan kepulangan mereka ke timur kepada Jmaes. Dlam hal ini, mereka sepakat bahwa Count ah yang akan bertindak sebagai orang tua yang akan berpamitan dan mengucapkan salam perpisahan.
Killion yang juga memperhatikan wajahnya Ayahnya bertanya-anya, apakah Ayahnya memang tidak berniat kembali ke rumahnya atau adakah sesuatu yang lain. Dia ingin sekali bertanya, tapi Ayahnya yang sedang menyendok cream soup dengan suapan penuh itu tampak makan dengan lahap, jadi Killion mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Setelah makan berat, aneka hidangan makanan penutup dihidangkan.
Count yang tengah mengantisipasi kapan dia harus mulai berbicara itu pun sekarag dia segera menegakkan badannya.
"Ehem...." Count berdeham ingin memulai percakapan.
"Bagaimana makanan malamnya, apakah ada yang tidak sesuai selera." James bertanya dengan ringan. Sejak tadi dia terlihat sangat santai seolah semua bebannya yang kemarin sudah membuatnya pusing terangkat semua.
"Yah, seperti biasa, semua hidangan di kediaman Grand Duke adalah yang terbaik." Itu pujian yang jujur, sebab memang semua makanan yang disajikan oleh sang koki memang sangat enak.
James tersenyum puas. Usahanya untuk memanggil kepala koki dan menyiapkan segalanya dengan versi terbaiknya itu pun tidak sia-sia. Mungkin satu poin bagus sudah tercetak. Begitu pikir James.
Count menghela nafas berat.
"....?" Freya semakin tahu bahwa Ayahnya memang sudah kepikiran akan sesuatu.
"Saya merasa terhormat mendapatkan undangan untuk datang ke wilayah uatara yang indah ini dari Grand Duke." Count Galo sudah memulai dengan sambutan perpisahannya.
"Utara adalah wilayah yang indah meski memang agak jauh dengan Ibukota, tapi disini tak kalah maju juga dengan Ibukota. Warganya ramah dan makanannya enak. Pemimpinnya cakap dan tampan tentu saja." Count memuji James.
Telingan James rasanya melebar, dengan pujian dari orang yang sangat dia hormati. James merasa ingin terbang.
"Terimakasih atas kesannya yang bagus Tuan Count yang terhormat, saya harap kalian semua betah berada disini. Merupakan kebahagiaan dan kebanggan saya tersebdiri bisa menyambut orang yang istimewa bagi saya." James berkata sambil tersenyum bangga, sesekali dia melirik ke arah Freya dan itu membuat Freya sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Hahaha.... muridku yang dulu kecil, kurus dan nakal rupanya sudah pandai memuji orang." Bagi Count sendiri, tidak mudah melupakan kenangan masa kecil anak-anak yang ikut tumbuh dengan anaknya apalagi anak-anak tersebut dia rawat setiap liburan musim panas,
"Yah... saya akui dulu saya memang sangat nakal." James membenarkan omongan Count.
Dalam hati baik Freya dan Killion pun ikut setuju. Bahkan moment yang membuat Freya takut dengan Jmaes adalah kejahilannya. Selain berwajah kaku dan dingin, James kecil suka sekali membuat Freya menangis.
Mereka semua tertawa, nostalgia adalah obat terbaik untuk mendekatkan suasana.
"Tapi Yang Mulia Grand Duke, waktu adalah hal yang tidak bisa kita ulang dan kita semua punya kesibukan masing-masing kan." Arah bicara Count sudah mulai menjurus.
Freya sepertinya sudah menangkap inti yang mau di sampaikan oleh Ayahnya bahwa liburannya kali ini sudah berakhir. Dia ingin berteriak senang tapi ada sebagian hatinya yang juga bersedih. Rasa yang datang secara bersamaan itu membuat Freya mempertanyakan hatinya. Jadi sebetulnya dia itu senang atau sedih?
"Benar, Kawan... Aku juga harus memulai waktunya di akademi kembali." Killion ikut bergabung dalam perpisahan tersebut.
Kali ini Freya ingin membuka mulutnya untuk berbicara, tapi belum juga dia membuka mulutnya, Ayahnya sudah memanggilnya.
"Freya anakku."
"....?" Killion sendiri rupanya cukup kaget.
'Benar begitu! Ayo.. Ayah mertua, berusahalah membjuk Tuan Putri tercinta kita.' James yang menahan senyumnya itu pun mencubit lengannya agar dia menahan diri.
Freya linglung sesaat. Lalu, "Tunggu....?" Dia berusaha mencernah omongan Ayahnya. Nadanya berisi sebuah permintaan.
"Maksud Ayah?" Freya kembali bertanya untuk memastikan.
"Aayah dan Kakakmu akan kembali, tapi sepertinya dirimu harus tinggal disini untuk membantu. Bukankah itu akan juah lebih berguna dan bermanfaat dibandingkan kalau dirimu kembali pulang."
Apa-apaan ini. Freya seperti dipermainkan oleh lelucon Ayahnya. Tidak itu bukan salah Ayahnya. Freya yakin ini semua adalah idenya James.
__ADS_1
Freya melirik ke arah James dengan tatapan tajam. Tatapannya itu seolah ingin menerkam nya dengan cacian dan makian tentu saja.
Tapi James tidak mau ambil pusing, dia malah tersenyum ke arah Freya.
'Sialan, kenapa dia terlihat semakin tampan saja.' Batin Freya bergejolak. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
"Ah maaf kalau ini mungkin mengagetkan Freya dan Kill sendiri. Sebetulnya ini adalah permintaan ku. Aku membutuhkan Freya disini untuk membantuku." James memberikan keterangan dan alasannya. James juga tidak mau menjadi seorang pengecut dan bersembunyi di balik jubah Count. Count hanya perantara saja dan pembuka agar Freya juga mau mempertimbangkan keputusannya.
Benar saja, Freya jadi merenung. Memang benar bahwa Freya juga selalu di didik Ayahnya dengan banyak ilmu. Dia juga rajin membaca dan berdiskusi dengan Ayahnya. Kadang untuk menyalurkan ilmunya dia sudah mengajar di kelas minggu untuk rakyat biasa atau di panti asuhan. Meninggalkan Ayahnya? sanggupkah Freya.
"Ayah akan sendiri nanti." Freya membuat kesimpulan dengan nada sedih.
Meski Killion dirumah tapi dia juga segera mendapatkan tawaran mengajar di Akademi meskipun masih menjadi seorang asisten.
"Jangan pikirkan hal tersebut, Ayah masih sehat. Ingat penting bagimu juga untuk mencari pengalaman."
Ditawari untuk ikut membantu mengelola wilayah adalah kesempatan dan peluang bagi Freya. Sebenernya tawaran James sangat bagus kalau di tinjau dari aspek mana pun. Meskipun ya pada awalnya itu hanya modus James belaka.
Freya yang egonya masih tinggi dan jelas jelas gengsi ingin sekali menolaknya, tapi Ayahnya sudah terlanjur turun tangan jadi dia mau tak mau harus mengambil keputusan dengan bijaksana.
Utara adalah wilayah yang luas, di masa keadaan belum stabil dan penguasanya pergi berperang sedangkan belum ada pendamping tentu saja akan mengalami ketimpangan dalam pengelolaan nya. Tapi setahun Freya, James sudah mempekerjakan seseorang, kenapa dia masih butuh bantuan.
'Harusnya James menikah saja agar ada Nyonya rumah yang membantunya kan!' tiba tiba saja pemikiran Freya sampai kesana.
'Menikah? benarkah? dengan siapa?' Batinnya terus bertanya tanya
"Freya?" Count memanggil anak perempuannya.
"Huh? Iya?" Dia baru saja melamun.
__ADS_1
"Ah... kalau memang menurut Ayah begitu, baiklah aku kan tinggal." Freya tersenyum, lalu melihat ke Arah James dengan tatapan ingin membunuh.
Plong.... rasanya dada James sangat lega. Semua urusannya dari menahan Freya terus di sampingnya berjalan sesuai keinginannya.