
Freya sangat disayangi oleh Ayahnya. Anak yang selalu dia anggap kecil itu rupanya sudah menjadi dewasa dan sekarang, Count tak percaya kini katanya dia di lihat sebagai orang yang cakap dalam bekerja.
Benarkah itu? Count tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Mulut James membuat Count bingung sekaligus bangga.
Mengakui anaknya sama saja menjunjung Count yang telah mendidik Freya dengan sedemikian rupa. Apalagi Freya dan Killion tumbuh tanpa seorang Ibu. Tapi meninggalkan Freya di utara adalah hal lain. Meski dibutuhkan, tidak adalah pengikut Grand Duke yang juga cakap. Count Galo mengkerutkan alisnya.
"Saya tahu bahwa mungkin ada beberapa orang yang cakap dalam mengurus wilayah, tapi situasi sekarang membutuhkan banyak orang lagi." Seakan bisa membaca situasi, lebih lanjut James memberikan keterangan yang bisa membuat Count memahami situasinya.
Keputusan tersebut sebenernya harus ditanyakan kepada yang bersangkutan. Dalam hal ini ya Freyalangsung tentunya. Tapi kalau Count yang menawarkan hal tersebut, tentu Freya tak akan menolak.
James memainkan kartunya dengan sangat bagus dan terampil. Dia tahu betul kapan harus mengeluarkan kartu *** miliknya.
__ADS_1
"Tentu saja saya juga sudah meminta perri. jangan kepala pelayan Camp dan juga Baron Eddy. Mereka juga sepakat bahwa Lady Freya akan sangat mampu membantu mereka dalam mengelola mansion dan wilayah." Setengahnya benar dan setengahnya salah.
Benar adanya bahwa James sudah meminta Camp untuk mempertimbangkan bahwa Freya akan membantunya dalam mengelola wilayah, sementara kepada Baron Edy, James hanya menjual namanya saja. James berjanji akan memberikan upah setimpal karena sudah menjual namanya.
James tersenyum kepada Count, senyum penuh arti dan memiliki banyak makna. Entah itu senyum permintaan, minta di mengerti dan minta di ikhlaskan anaknya agar bisa tinggal di utara.
Awalnya Count hanya diam lalu setelah sekian lama diam dan membuka mulutnya, Count hanya bilang bahwa dia akan mempertimbangkannya bersama dengan Freya.
Sebuah jawaban yang tidak memuaskan dan hampir membuat James berteriak dalam batinnya.
Dia melontarkan aksinya kembali. Dengan mulut manis dan sedikit ilmu memelas yang entah dari mana dia pelajari. Sebab semasa hidupnya dia belum pernah bersikap demikian.
Count orang yang mudah berempati itu pun segara terjebak dalam lubang yang sengaja di buat oleh James. Lubang yang akan menelan putrinya dalam kisah cinta Grand Duke Utara yang kaku dan dingin.
__ADS_1
James senang bukan main, sebab Count akhirnya luluh. Usahanya tidak sia sia.
Dengan perasaan penuh dengan bunga James kemudian melangkah bersama dengan Count menuju ruang makan.
James menjadi orang pertama yang tidak sabar untuk tina di meja makan. Bukan karena dia merasakan lapar, tapi dia ingin segera melihat Count membujuk Freya untuk bisa tinggal di utara.
James bahkan sudah berandai-andai bahwa setibanya dia dari perang, mungkin dia dan Freya akan menikah.
Membayangkan saja sudah membuat hati James tergelitik.
Freya sudah ada di ruang makan. Mengenakan gaun sederhana berwarna kuning. Dia terlihat cantik seperti seekor burung kecil yang menggemaskan. Beralih ke sebelah Freya ada Killion, meskipun tampan di mata James dia tidak menggemaskan seperti Freya.
James dengan senyum penuh kemenangan dia melangkah menuju tempatnya makan.
__ADS_1
"....?" Dengan senyum aneh tersebut, Freya merasakan bahwa perasaannya tidak enak.