
Selesai makan, Freya tak kembali ke kamarnya, dia malah jalan jalan mencari dimana Tuan Muda Deron berada. Freya tak tahu, yang dia lakukan saat ini benar atau tidak, tapi dia merasa bahwa kebenaran harus dia sampaikan.
Sejak siang tadi, Freya sudah mencari informasi dimana kamar Deron berada. Freya yang juga sudah tinggal di mansion ini dua minggu lebih, sudah menghafal struktur bangunan dengan sangat baik.
Bukan maksudnya pergi mengendap seperti maling, hanya saja. Dia tidak ingin ketahuan. Pergi ke kamar Marquess Muda saat ini kalau ketahan malah akan menimbulkan fitnah, terlebih Grand Duke sang pemilik wilayah dan mansion serta orang yang mempekerjakannya sekarang ini sedang menaruh perasaan kepadanya.
Perlu waktu lama bagi Freya untuk bisa menemukan kamar yang Deron tempati, setelah sampai dan dia melihat sekeliling sepi, Freya hendak pergi langsung ke depan akamr Marquess Muda, tapi saat hendak melangkah dari balik dinding persembunyiannya, terdengar pintu terbuka dan seseorang yang berpakaian seperti prajurit keluar dari kamar tersebut.
Melihat hal tersebut, Freya kembali bersembunyi di balik dinding. Jantungnya berdegup kencang, adrenalinnya sedang di uji. Dia mengatur nafasnya kembali.
Mungkin prajurit tadi adalah salah sau ksatria yang ada dalam rombongan Deron.
Freya melanjutkan aksinya. Saat dia sampai di depan pintu dan ingin mengetuk, tiba-tiba saja pintunya terbuka. Alangkah kagetnya Deron dan juga Freya. Freya bahkan membulatkan matanya.
"Freya?" Kata Deron. Meski sudah menjadi seorang Lady, Deron terbiasa memanggil nama depannya.
Mendengar suara Deron, Freya segera tersadar. "Ah...Halo Kak." Dia melambaikan tangannya dan tersenyum. Sungguh boddoh! Dia ingin mengumpat pada dirinya sendiri.
Deron mengerutkan alisnya, "Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Deron juga langsung to the point karena dia malam ini harus segera berangkat ke Ibukota.
Freya langsung berubah ekspresinya menjadi sedikit serius. "Ya, ada yang ingin kusampaikan."
Setelah mendapatkan konfirmasi, Deron kemudian menyuruh Freya masuk ke kamarnya. Kamar ruang tamu itu rapai dan bersih. Juga karena akan ditinggalkan sepertinya Deron juga sudah merapikan sprei mandiri, mungkin karena dia seorang prajurit yang terbiasa ada di medan perang sehingga, dia tak terlalu memerlukan pelayan untuk sekedar membereskan kamarnya sendiri.
"Jadi bagaimana kabar Count dan Killion?" Deron berbasa basi.
"Yah, mereka baik." Jawab Freya.
Mata Freya berkeliling memandang kamar tamu yang digunakan Deron untuk menginap.
"Setelah duduk di sofa yang ada di dalam kamar, Deron mulai menanyai Freya. "Jadi apa yang ingin kau katakan Lady Freya?" Deron tersenyum ringan.
Deg... sekali lagi Freya merasakan ketegangan. Sipanggil Lady oleh Deron membuatnya berdegup kencang. Kalalu saja sejak dulu moment seperti ini bisa berlangsung.
Freya yang duduk itu meremas gaunnya dan tersenyum. "Aku ingin membuat pengakuan."
__ADS_1
"Pengakuan?"
"Hm!" Freya mengangguk.
".....?"
"Jadi.... " Freya memulai percakapannya, "Ini di mulai saat aku kecil." Freya bersiap memberitahukan segalanya pada Deron.
"Kakak ingat saat kita tamasya di pinggir sungai?" Freya mengingat kembali kejadian masa lalu. Nostalgia yang mendebarkan.
"Saat bonekamu terjatuh ke sungai?"
Freya kembali mengangguk dan tersenyum. "Saat itu aku takut kehilangan teddy karena itu dulu pemberian Ibu sebelum beliau tiada." Raut wajah Freya terlihat sangat emosional.
"Jadi saat aku tak sengaja menjatuhkan nya. Aku menangis dan kesal dengan diriku sendiri. Lalu tiba tiba kakak datang dan membawa kembali bonekaku, tapi aksi kakak tidak mulus. Kakak terpeleset dan malah jatuh."
Deron juga tersenyum mengingat kejadian lalu.
"Tahukah kak, sejak saat itu aku menyukai kakak?"
"Mak...sudnya?" Deron masih bingung.
"Ya sejak saat itu Kakak seperti seorang pahlawan bagiku. Jadi saat musim panas tiba dan kakak belajar dengan Ayah dan Kakak Killion. Aku selalu senang karena bisa melihat wajah Kak Deron. Sampai saat Kakak dewasa dan pergi ke akademi dan kita jadi jarang bertemu." Freya menjeda omongannya, sementara Deron masih diam mendengarkan kelanjutan kisah Freya.
"Aku selalu mencuri informasi Kakak dari Kak Killion karena aku tidak berani mengaku." Katanya lagi.
Freya, sosok wanita cantik yang juga menggoyahkan hatinya itu kini tengah mengaku kepadanya.
"10 tahun bukan waktu yang sebentar. Jadi aku menunggu moment seperti ini untuk mengatakannya."
Seandainya, seandainya Dirinya tidak menerima permintaan dari Felix sang Putra Mahkota sekaligus temannya. Mungkin saja, dia akan pergi ke hadapan Freya dan menciumnya. Tapi karena dia juga sudah memberikan janjinya pada seseorang, Deron juga menahan perasannya.
"Ah.. tapi kakak tidak perlu khawatir, aku hanya ingin menyampaikan hal yang sudah kupendam sejak lama. Aku tidak meminta apapun, lagi pula setelah ini mungkin aku akan melupakan Kakak."
Kata 'melupakan' itu terngiang di kepala Deron, 10 tahun Freya menyukainya, kenapa semudah itu akan melupakan. Bukankah itu terlalu mudah. Deron tak tahu dia harus senang apa sedih.
__ADS_1
"Karena sudah menyampaikan, aku benar benar lega." Freya tersenyum sejenak. Sedangkan Deron hatinya malah kacau, seperti balon hijau yang meletus .
"Maaf sudah menganggu waktunya. Aku harap perjalanan kakak lancar. Dan juga... kakak akan pergi berperang kan? Aku akan doakan kakak kembali dengan baik." Setelah mengatakan itu, Freya kemudian berdiri dan pamit.
Siapa sangka, percakapan keduanya sebenarnya telah di curi dengar. Sebetulnya itu adalah ketidaksengajaan, James yang tadinya ingin menghampiri Deron untuk memberikan surat dari County Wallew itu tiba di depan kamar Deron, saat hendak mengetuk pintu kamarnya, tiba tiba saja dia mendengar suara yang amat di kenalnya. James berdiri mematung di depan pintu. mendengarkan omongan Freya sampai akhir. Pengakuannya kepada Marquess Muda Deron, perasaan cintanya selama 10 tahun bukan kepadanya. Selama ini dia telah salah paham.
kalau dipikir pikir, dia menerima pernyataan cinta Freya saat itu, Freya dalam kondisi mabuk, dia juga tak pernah menyebutkan namanya James, Freya hanya menyebutkan Kak saja. James tersenyum kecut di depan pintu. Lalu saat sura langkah Freya semakin dekat hendak pergi.
James buru buru pergi mencari tempat persembunyian. "Kenapa aku bersembunyi seperti seorang penjahat." Kata James bermonolog pelan. Dada James bergemuruh, ada rasa sesak, sungguh tidak enak.
Saat Freya semakin jauh, barulah James keluar dan pergi menuju kamar Deron. Kamar itu masih terbuka dan wajah Deron mengetas menetap ke arah pembakaran di depan sana. Kalau James tidak salah menilai, dia yakin kalau Deron juga punya rasa suka juga dengan Freya.
'Apa ini? cinta segitiga?' James hanya membatin. Dia juga sedikit linglung pikirannya.
"Apa kau sudah siap?" James tiba tiba saja bersuara dan itu membuat Deron yang sedang bengong kaget.
"Ah ya." Deron beranjak dari tempat duduknya.
Di tangan James, sebuah surat yang dari tadi dia pegang, surat yang akhirnya mengantarkan nya pada fakta yang menyakitkan.
"Ini surat dari wilayah County Wallew." James kemudian memberikan suratnya pada Deron.
"Terimakasih." Deron menerima surat itu dan membukanya. Sebuah pemberitahuan singkat tentang jalur perjalanan yang rusak karena tanah longsor.
"Yah, Aku harus segera pergi. " Kata Deron, ksatria yang mungkin bisa membantu memperbaiki jalan itu juga.
"Sudah diputuskan, mau bagaimana lagi." Tadinya James menawarinya menginap lebih. Tapi Deron menolak.
James mengantarkan kepergian Deron, pun dengan Freya yang juga sudah berdiri di depan mansion, seolah tidak terjadi apa apa.
Freya yang tersenyum kepada James bersamaan dengan hadirnya Deron, tapi entah kenapa James mengacuhkannya. Freya kemudian sadar bahwa James sedang menghindarinya.
Setelah pasukan berkuda itu pergi, Freya hendak menghampiri James. Tapi James yang tahu bahwa Freya mungkin memang mau menghampirinya membuat James mempercepat langkahnya ke dalam mansion.
Freya cukup syok. Untuk pertama kalinya, Freya juga diabaikan oleh James
__ADS_1