PUTRI COUNT SALAH CONFESS

PUTRI COUNT SALAH CONFESS
Bab 55


__ADS_3

James duduk dengan lemas. Dia meletakkan sendok yang tadinya dia hendak mentantap makanan.


"Camp, sepertinya selama ini aku salah menduga."


".....?" Camp tidak tahu duduk masalahnya, jadi dia sepertinya harus mendengarkan semua ini dari awal sampai akhir.


Daun telinga Camp telah dilebarkan, semua informasi yang Tuannya ucapkan akan membantunya dalam mengambil segala tindakan.


"Freya... " James menjeda omongannya. Nama itu sepertinya sangat berat untuk diucapkan.


Camp semakin penasaran.


"Ku kira dia menyukaiku."


"Bukankah itu kebenarannya?"


"Tidak Camp."


".....?"


"Aku... aku telah salah paham selama ini. Aku tidak pernah menanyakan secara langsung. Tidak tepatnya, kenapa dia tidak meluruskan kesalahan pahaman ini dari awal." James meracau.

__ADS_1


Baru kali ini dia melihat Tuannya sangat kacau akibat seorang perempuan.


"Saya tidak mengerti Tuan. Masalah ini dimulai dari mana?" Camp masih belum paham, jadi keterangan seterang mungkin akan membantunya.


"Yah kau ingat pesta pendirian negara. Sebagai kepala wilayah aku harus hadir. Disana aku bertemu dengan Freya yang tengah mabuk. Lalu menyatakan perasannya."


"Hm... Bukankah itu bagus?"


"Ya, kalau sejak awal itu untukku. Masalahnya itu bukan untukku dan aku terlanjur salah mengartikannya."


Sekarang Camp paham masalahnya. Cinta memang serumit ini.


"Apa masalahnya?" Camp berkata dengan sangat tegas.


"Apa?" James sedikit terpukul dengan suara Camp.


"Tuan, itu semua sudah berlalu." Camp kemudian membuat suara setenang mungkin. Sekarang ini penting baginya until membuatnya sadar bahwa, segala sesuatu dari tindakannya adalah yang terpenting.


"Tuan, mungkin saat itu Nona Freya memang sedang mengakui oerasannya pada orang lain. Tapi sekarang tidak Yang Mulia. Di mata saya Nona Freya mulai menaruh hati pada Yang Mulia."


James diam saja, tak menanggapi omongan Camp. Karena omongan Camp terdengar sangat mustahil.

__ADS_1


"Tuan.. masa lalu adalah hal diluar kemampuan kita. Tapi masa depan, kitalah yang bisa menentukan arahnya." Usia dan pengalaman Camp sudah membuatnya bisa berpikir bijak. Makanya tak jarang, James sangat mendengarkan omongan butlernya tersebut.


"Kalau Tuan memang menyukai Lady Freya. Tuanlah yang harus bertindak. Apa Tuan rela Lady Freya dimiliki laki laki lain?"


James diam tidak menjawab.


"Kalau Tuan terus seperti ini, saya yakin kalau Nona Freya juga akan berjodoh dengan orang lain."


James akui bahwa dia telah jatuh hati dengan Freya, meski berawal dari kesalahpahaman, tapi dia cukup yakin kalau berlama lama dekat dengannya membuatnya lebih bahagia. Semua omongan Camp memang benar. Tapi egonya itu belum juga runtuh.


"Ini hanya sebuah nasehat Yang Mulia. Kalian berdua perlu berbicara. Katakan kalau Yang Mulia menyukai Lady Freya terlepas dari kondisi berawal dari kesalahpahaman. Dan juga kalau Yang Mulia memang menyukai Lady Freya, maka kejarlah. Jangn berlarut-larut dalam semua ini."


Setelah menyampaikan hal tersebut, Camp panitia undur diri. Dia harus memberikan Tuannya ini ruang untuk berpikir sejenak. Mencerna semua nasihatnya dengan bail. Agar esok hari bisa bertindak dengan kepala dingin.


James ditinggalkan dalam kondisi termenung. Semua yang Camp bicarakan adalah nasihat yang berharga. Keputusan semuanya ada di dia. Akan mempertahankan Freya atau melepasnya.


"Sial*n!!!" Membayangkan Freya bersanding dengan laki laki lain saja membuat dadanya sesak bukan main.


James punya ego yang juga sangat tinggi. Harga dirinya terluka. Tapi kalau dia akan begini setiap hari, benar yang dikatakan Camp, hubungannya dengan Freya mungkin tidak akan tertolong.


Huh... helaan nafas kasar itu seakan tersirat bahwa dia sedang memikul beban yang sangat berat. Beban asmara yang sampai saat ini masih bergelantung di dirinya.

__ADS_1


__ADS_2