PUTRI COUNT SALAH CONFESS

PUTRI COUNT SALAH CONFESS
Bab 29


__ADS_3

Keesokan harinya, Freya bangun dengan wajah senang. Tak seperti makan malam kemarin yang kelabu. Hari ini nafsu makan Freya sudah kembali. Dia makan roti gandum dengan selai kacang dengan lahap. Sampai-sampai Count Galo dan Killion tercengang.


Dia berubah hanya dalam satu malam saja.


Berkat itu, Count Galo sedikit tenang. Kedua anaknya punya tempat kekhawatiran di hati Count sendiri. Tapi porsi Freya lebih besar dari lada Killion. Mungkin gender memang berpengaruh, juga karena Freya kehilangan Ibunya di usia yang tergolong muda dulu.


"Pelan-pelan Free, kami tidak akan meminta rotimu!" Killion melontarkan candaan pada Freya.


Freya seakan tuli, dia masih makan dengan lahap, tak seperti Lady pada umumnya yang anggun dan penuh dengan pencitraan.


Setelah selesai makannya, Freya beromqotqn karena mau mengecek kopernya untuk keperluan liburannya.


Dua jam kemudian, baik Count, Killion dan Freya sudah berkumpul di depan rumah, mereka menaiki kereta yang ka membawa mereka pergi.


Freya sedikit bingung, sebab kereta yang terparkir di depan mansionnya bukanlah kereta milik keluarganya . Kereta itu lebih besar dan mewah.


"Kereta siapa itu?" Tanya Freya.


Killion tersenyum, "Kereta orang baik!" Jawab Killion santai.


Freya mendengus kesal, sebab pertanyaannya itu tidak terjawab.


Count juga terlihat santai tidak merespos Freya.


'Benar-benar mencurigakan!' Pikir Freya.

__ADS_1


Semuanya sudah naik, kusir pun memacu kudanya untuk berjalan membawa keluarga Count Westley berlibur.


Freya masih menikmati pemandangan Ibuklta lewat jendela kacanya. Otaknya rasanya lelah belakangan ini, alangkah baiknya berlibur bersama keluarga.


Tak lama kemudian, kereta mereka telah keluar dari Ibukota. Kereta itu harus melewati Hutan Alot, yang akan menghubungkan mereka ke wilayah selatan, timur, utara dan yang lainnya. Mereka harus menembus hutan Alot sampai jauh ke dalam sampai nanti ke persimpangan bercabang.


'Belok ke kiri?' Tanya Freya dalam hati.


"Sebenarnya kita mau kemana sih?" Freya mulai tak tahan dengan rasa penasarannya.


Killion yang ada di sebrang Freya pun memandangi wajah adiknya. "Pergi ke tempat kenalan untuk berlibur Freya."


Lagi-lagi jawaban itu terlalu klise. Kalaupun kenalan tidak bisakah mereka menyebut namanya. Begitulah yang ingin Freya tanyakan.


'Yah, aku hanya perlu diam sampai kereta ini berhenti kan?' Freya akhirnya berhenti bertanya dan memilih menikmati pemandangan sampai akhirnya dia tertidur di dalam kereta.


"Dia tertidur?" Killion menangkap Count yang sedang menatap anak gadisnya di sampingnya.


Count tersenyum dan mengangguk.


"Baguslah, dia akan banyak bertanya kalau dia membuka mata." Kata Killion.


"Dia pasti kaget nanti kalau tahu kita berlibur ke utara."


Killion tersenyum, "Betul Ayah, aku tidak sabar menantikan wajah kagetnya dia!"

__ADS_1


"Ngomong-ngomong qku merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Freya."


"Akubjuga merasa begitu Yah, tapi aku juga tidak bisa mengorek informasi tersebut."


"Hm... rasanya semakin hari aku semakin khawatir dengannya." Count Galo menyampaikan kalimat putus asanya.


"Alangkah baiknya kalau dia sudah punya tunjangan yang akan menjaganya." Count kembali melontarkan kalimat yang aneh di telinga Killion.


"Laki laki bangsawan mana yang mau dengan wanita yang sulit diatur dan berpikiran merdeka sepertinya?"


Killion benar, akan sulit bagi Freya nanti untuk mencari jodoh.


"Sepertinya aku harus membuat daftar calon mempelai untuk adikmu ini."


Killion terkekeh, "Ya, Ayah harus bekerja keras untuk itu."


"Untukmu juga!" Kata Count yang dengan seketika membuat Killion diam seribu bahasa.


"Jodoh pasti akan datang Ayah." Killion berdalih kemudian.


Freya tak bangun meski sedang di gosssipkan oleh Kakak dan Ayahnya. Barangkali dalam tidurnya, dia bermimpi sedang berlayar diatas kapal dan bersantai.


Kereta terus melaju menuju wilayah utara yang sejuk.


Killion tak sabar ingin melihat respon adiknya. Utara yang belum pernah Freya datangi.

__ADS_1


__ADS_2