
Arabella yang sudah menunggu Kakaknya, akhirnya bisa bertemu dengan Putra Mahkota Felix.
"Maaf sudah membuatmu menunggu." Felix mendekat ke arah
Arabella yang sedang menunggunya.
"Yah, tidak masalah..." Arabella tersenyum menyambut kakaknya.
"Tadi ada urusan mendesak, jadi terpaksa harus membuatmu
menunggu." Kepala pelayan Mino, sudah memberi tahu Arabella tadi, tapi sepertinya Felix mencoba untuk menjelaskannya kembali.
"Tak masalah Kak.." Kata Arabella lagi dengan tersenyum.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, bagaimana dengan kakak?"
"Yah... situasi sedang kacau jadi aku sangat sibuk dan kurang tidur. Lihat... apa kantung mataku sudah
mulai terlihat?" Felix memajukan wajahnya agar lebih dekat untuk dilihat adiknya.
Berkat lelucon Felix. Arabella ingin tertawa tapi ditahannya. Meskipun kurang tidur, Arabella yakin bahwa pihak istana akan membuatkan serangkaian perawatan untuk Kakaknya, mengingat statusnya adalah Putra Mahkota, terlebih dia belum memiliki tunangan dan calon Putri Mahkota.
Melihat Arabella yang terhibur, Felix juga tersenyum. Bohong
rasanya kalau Felix tidak tahu situasi adiknya. Tapi dia sendiri juga belum memiliki kekuatan untuk melindungi adiknya, makanya dia sibuk untuk mengokohkan tempatnya.
“Arabella, berapa umurmu sekarang?” Tanya Felix santai.
Deg…
Arabella bisa menduga arah obrolan ini.
“18 tahun Kak.” Jawab Arabella dengan masih tersenyum, padahal isi hatinya gelisah.
“Begitu ya….”
Felix tidak sedang menguji adiknya hanya karena pertanyaan sepele. Alasan dia menanyakan pertanyaan
tersebut karena Felix cukup tau siklus kehidupan keluarga kerajaan jika dia adalah seorang perempuan.
Dirawat dan dibesarkan sepenuh hati, seperti hewan kurban yang pada saatnya hanya akan dikurbankan. Arabella
sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, dia cantik dan cemerlang, meskipun labelnya tetap perempuan bodoh. Tapi Felix sadar bahwa adiknya tidak sebodoh seperti yang ada di rumor. Felix yakin bahwa sejatinya
Arabella adalah perempuan cerdas, dia bahkan bisa bertahan hidup di istana tanpa dukungan siapapun
karena Ibunya sudah meninggal. Kerajaan sedang masa perang wilayah karena banyaknya perpecahan
di seberang perbatasan. Sekarang adalah waktu yang tepat bagi Sang Raja untuk mengeluarkan pion yang sudah dia rawat di istananya. Salah satunya adalah Arabella.
Felix menuangkan teh darjeeling ke dalam gelasnya.
“Arabella…. Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?”
Arabella tersenyum kecut, dia amat sangat tau bahwa dia tidak akan dipanggil ke kediaman istana Putra Mahkota
jika tidak ada hal yang penting.
“Entahlah Kak….” Kata Arabella sambil menyesap tehnya.
Felix juga menyesap teh hangat tersebut, setelah itu menatap ke Arabella dengan tajam.
__ADS_1
“Benarkah?”
Kali ini Arbella yang berbalik menatap Kakaknya dengan tatapan serius.
“Kau pasti bisa menduga bagaimana kondisimu sekarang kan?”
Baik-baik saja bukanlah jawaban. Arabella sedang dalam kondisi berjalan di jalan berduri istana yang sudah membuat lukanya dimana saja.
“Jadi apa yang sebenarnya ingin kakak katakan?”
Arabella yang tak sabaran langsung menuntut poin Kakaknya yang sedang disembunyikan.
“Hahaha....” Felix tertawa dengan sangat keras.
“Sungguh... adikku ini adalah seorang aktris berbakat!”
“.....?”
“Bagaimana mungkin ada gosip yang beredar bahwa Adikku yang cantik ini
idiiot dan boodoh.”
Arabella tahu, Felix sang kakak tak mudah dibodohi seperti para pelayan atau bangsawan di Wistoria. Kakaknya tahu betul bagaimana kehidupan istana dan juga mengupayakan banyak hal untuk bisa bertahan dari posisi yang mencekik dan punya tanggung jawab yang besar.
Melihat wajah Arabella yang sudah sedikit kesal, Felix tersenyum. Senang
sekali bisa menggoda adiknya yang lucu.
“Aku hanya menawari sebuah tawaran, aku pikir itu adalah yang terbaik
untukmu.”
Arabella mengernyit. ‘Tawaran?’ batinnya.
akan merugikannya.
“Sudah kubilang situasi sedang genting bukan.”
“.....?”
“Cepat atau lambat, Ayah pasti akan menjualmu!”
Deg....
Arabella tau pasti akan hal tersebut, tapi mendengarnya langsung dari mulut orang lain tetap saja membuatnya cemas dan gelisah sekaligus.
“Untuk itu aku memberimu pilihan.”
“.....?”
“Menikahlah!”
Arabella sudah menduga nya, tapi tetap saja masih membuatnya kaget.
‘Dengan siapa kali ini dia akan dijual?’
“Dengan bangsawan lokal pilihanku.” Kata-kata Felix sepihak masih membuat
Arabella bertanya-tanya.
“Dia orang baik dan punya reputasi yang baik, Ayah juga tidak akan
menentangnya.”
__ADS_1
Felix masih memberikan teka-teki. Arabella merasa sangat frustasi karena Kakaknya yang memang sangat pandai beretorika itu tak langsung mengutarakan siapa orangnya.
“Bisakah aku menolaknya?”
“Hahaha....” Felix kembali tertawa karena adiknya memang sangat tidak
sabaran.
“Arabella, kau harus berpikir dengan baik sebelum membuat keputusan
gegabahmu itu.”
Felix benar, berkali-kali Arabella cepat menyimpulkan situasi dan malah mendorongnya ke jurang kesengsaraan.
“Kalau kamu punya opsi atau pilihan yang lebih bagus, aku akan menerimanya,
tapi kalau tidak pertimbangkanlah tawaranku ini.”
“Orang yang akan aku pasangkan denganmu adalah temanku sendiri. Deron
Zanibun, orang yang akan mewarisi gelar Marquess!”
“....?”
Dia adalah salah satu komandan pasukan ksatria mawar yang terkenal, jadi bagaimana mungkin Abella tidak tahu siapa itu Deron. Yah menjadi seorang Marchioness bukanlah hal yang buruk, terlebih March atau wilayah yang dipimpin oleh Marquess Zanibun ada di perbatasan selatan, jadi Abella akan pergi meninggalkan
istana yang sudah seperti neraka baginya. Itu kalau Arabella tidak menolak. Tapi entahlah, Arabella merasa perlu pertimbangan meskipun sebenarnya dia tidak memiliki opsi lain.
Hal yang ditawarkan Kakaknya sangat menggiurkan
“Pikirkanlah baik-baik,hal yang bagus tidak datang berulang kali. Sebagai seorang Kakak aku juga
berharap musim semi mu segera datang. Arabella!”
Felix menyudahi percakapan keduanya, sebab dia juga masih ada urusan. Felix memberikan Arabella
waktu 3 hari untuk berpikir dan memberikan keputusannya. Waktu yang singkat tapi juga sebenernya ini untuk menghindari Ayahnya segera mengambil keputusan akan Arabella, sebab bangsawan sudah banyak yang bersuara untuk menjalin aliansi dengan negara tetangga. Salah satunya dengan Kerajaan Burj, tempat
pangeran Yaser yang brengsek berasal.
Arabella kembali ke kediamannya dengan perasaan kacau. Sudah saatnya ternyata. Dia bersusah payah
membangun citra seperti orang idiott tapi ternyata itu tidak terlalu membantunya. Yah setidaknya dia tidak dijual di umur 16 tahun seperti Putri 1.
Kepada siapa dia harus berbagi keluh kesahnya ini. Satu-satunya orang yang dia ingat dan ingin dia
temui adalah pamannya. Orang yang bahkan ada du dunia gelap dan tinggal di gang
kumuh.
Seperti yang Kakaknya katakan, Deron adalah manusia yang baik dan pilihan yang bagus, tapi entah
kenapa hatinya meragu, di atas perasaan bimbangnya, Arabella teringat seseorang yang pernah dia bodohi dan dia injak harga dirinya. Tapi dia jugalah yang pernah membantunya saat menghadapi Pangeran Yaser, orang yang ingin
melecehkannya.
‘Dia tampan dan cerdas, juga sangat sabar!’
Tiba-tiba saja, Arabella sadar, apa yang baru saja dia pikirkan!
Hidupnya saja belum tentu aman, bagaimana mungkin dia memikirkan hal lain.
Arabella melanjutkan aktivitasnya melamun, semakin dia larut memikirkan hidupnya yang kusut.
__ADS_1