
Akhirnya pesta debutan Freya semakin dekat, dia membeli sebuah gaun dengan cukup mahal. Gaun yang tak terlalu mewah tapi juga tidak norak. Simpel tapi bisa dibilang elegan. Dia harus mengubur mimpinya membeli gaun mahal dan menghabiskan banyak uang. Itu semua karena Kakaknya telah dipecat dan sekarang menjadi guru sukarelawan bersama dengan Ayahnya.
Mereka mengandalkan hasil pensiunan Ayahnya serta uang hang didapat Killion dari menerbitkan buku.
Killion juga mendapatkan surat dukungan dari teman temannya. Khususnya dari Putra Mahkota Felix Wistoria. Dia juga tidak bisa berbuat banyak karena semua guru keluarga Kerajaan diatur oleh Count Bilbo Heruma. Dia dengan sangat menyesal memberikan permintaan maafnya karena adik tirinya telah berulah dan mempermalukan Killion.
Putra Mahkota, meskipun punya gelar yang agung tapi dia masih membangun kekuatannya. Ayahnya yang punya beberapa anak dari selirnya selalu membuat anaknya bersaing untuk memperebutkan tahta. Killion tahu betul soal itu. Pengetahuan politiknya juga tidak diragukan.
Kemudian surat surat lainnya datang dari teman temannya, Duke muda Haze dan juga Grand Duke James. Dari kelima teman Killion hanya Jameslah yang telah menjadi kepa keluarga karena Ayahnya telah meninggal 2 tahun yang lalu. Semua isi suratnya menyatakan simpati untuk Killion, mereka juga tahu kualitas Killion jadi tidak mungkin seorang lulusan terbaik yang selalu mengejar kesempurnaan nilai membuat seorang putri masih bodoh.
__ADS_1
Freya juga tahu setiap surat yang datang untuk Kakaknya karena Kakaknya selalu meletakkan suratnya di meja kamarnya begitu saja dan Freya bisa mencuri baca surat yang datang untuk Kakaknya. Dari sana Freya tahu kalau teman teman Kakaknya sangat perduli dengan Kakaknya. Hanya satu teman yang tak berdiri surat, Deron sang pujaan hati Freya. Dia tengah berada di perbatasan dan hanya akan pulang saat perjamuan debutan istana nanti serta pesta sebelum keberangkatan perang nanti.
Pagi, siang dan malam Freya selalu berdoa agar Deron kembali dengan selamat dan memperoleh kemenangan mutlak. Pulang ke rumah dengan kondisi badan yang utuh serta tanpa cedera. Freya semakin rutin pergi ke kuil surga untuk berdoa.
Bahkan pendeta sampai kagum dengan keteguhan hati Freya dalam beriman dan berdoa setiap hari.
Hari pekan segera datang, waktunya Count Galo, Freya dan Killion untuk mengajar di Panti asuhan dan sekolah rakyat. Tak hanya anak anak di yang datang di sekolah rakyat, kadang kadang remaja, ibu-ibu bahkan bapak bapak datang untuk sekedar bertanya dan berkonsultasi. Rakyat yang tidak bisa membaca kerap ditipu oleh kontrak tak masuk akan yang merugikan dan menguntungkan orang besar. Kebanyakan tertipu oleh rentenir, surat hutang dengan bunga yang tak sesuai ucapan, mereka akhirnya harus kehilangan barang berharga seperti rumah, menjual anak gadisnya ke tempat pelacuran karena surat hutang memang harus menyerahkan anak gadis atau peranannya sebagai jaminan kalau tidak bisa membayar hutang. Adanya sekolah rakyat membantu rakyat biasa sehingga mereka bisa protes dan memperbaiki perjanjian tersebut sebelum membutuhkan cap jempol mereka sebagai kesepakatan.
Mereka dibagi menjadi 3 kelas, kelas membaca, kelas berhitung dan kelas menulis. Semua murid tampak bersemangat sebab kelas itu gratis dan hanya datang saat akhir pekan saja. Mengenyam pendidikan di sekolah membutuhkan biaya besar dan dengan kelas gratis itu semua orang tampak bersyukur kepada keluarga Count.
__ADS_1
"Nona Freya... apakah aku mendapatkan bintang 5?" Tanya seorang anak. Freya selalu menggambar bintang di tangan setiap anak setelah mereka menyelesaikan soal pertambahan yang dia buat.
Freya tersenyum, "Kemarilah!" Freya kemudian menggambar sebuah bintang ke tangan anak tersebut.
"Yey..." anak tersebut berteriak kegirangan.
Menularkan ilmu sejatinya adalah obat yang menentramkan jiwa. Freya selalu suka kegiatan akhir pekan seperti ini. Rasanya dia sedang menghibur dirinya sendiri untuk mendapatkan kepuasan batinnya.
Pun dengan Killion dan Count Galo. Mereka juga tampak menikmati waktu mengajar mereka.
__ADS_1
Freya kembali tersenyum setelah melihat Kakaknya juga tersenyum dan kembali mengajar.