PUTRI COUNT SALAH CONFESS

PUTRI COUNT SALAH CONFESS
Bab 37


__ADS_3

James di pagi hari dengan perut yang masih tidak enak. Baru kali ini dia muntah karena makanan enak. Itu pun mulutnya brubah menjadi asam.


Masih mengenakan piyama tidur, Dia memandang pemandangan luar yang sejuk. Dia masih saja berpikir, untung saja Freya ta melihatnya muntah.


"Kerja bagus James!" Dia memuji dirinya sendiri.


Karena hari ini sedikit santai, James berniat untuk datang menemui pujaan hatinya.


Jadi James semangat untuk mandi dan berdandan rapi. Dia beberapa kali menyemprotkan minyak wangi. Tangan James melambai ke dirinya sendiri untuk mencium parfum yang dia semprotkan sendiri.


Dia lalu tersenyum sendiri. Merasa percaya diri, James kemudian melangkah menuju ruang makan.


Tanpa di sangka disana sudah ada Count Galo, Killion dan Freya. Keluarga yang sangat disiplin itu memang membuat James kagum.


"Ah... apa James masih sibuk?" Killion membuka obrolan.


James tersenyum dari belakang, karana temannya itu sangat perduli dengannya.


Baru saja James hendak mendekatkan langkahnya lagi.


"Hm... Dia sangat sibuk kak, Aku rasa dia tidak akan bergabung dengan kita pagi ini." Freya membuka mulutnya.


"Kalau begitu kita makan tanpa dia lagi."


Entah mengapa James merasa kecewa.


"Aku akan tanya kepada kepala pelayan, apakah dia sudah sarapan apa belum?"


James pun putar balik setelah mendengar ucapan Freya.


Niatnya dia ingin bergabung sarapan bersama, tapi setelah mendengarkan Freya. James akhirnya pergi ke ruang kerjanya lagi.


Sebelum kesana, dia juga sudah berpesan kepada kepala pelayan bahwa dia belum sarapan dan memberikan kodenya agar Freya datang lagi ke ruang kerjanya untuk mengantarkan sarapan untuknya.


Hm... bertemu dengan Freya dan menghabiskan waktu bersamanya adalah impiannya. Jadi dia dengan semangat menyambut Freya.


Klek... ruang kerjanya terbuka. Tak disangka disana sudah ada Baron Edy dengan wajah masam dan seram. James paham kenapa Baron Edy terlihat seperti itu. Dokumen yang rapi dan sudah selesai dikerjakan malah di berantakan kembali. Apalagi urutan dokumen menjadi kacau, sehingga harus di susun ulang.


"Selamat pagi Baron Edy." Kata James. Hehe... James tersenyum canggung.


"Bonus... " Kata James lagi, "Bulan ini akan ada banyak bonus. "


Wah baru kali ini James merasa bahwa anak buahnya sangat seram. Tapi Baron Edy memang bawahan yang sangat tekun, teliti dan tanpa cela. Makanya James juga sungkan kepadanya.

__ADS_1


Mendengar kata Bonus, Baron Edy sedikit melunak. Gelar yang dia peroleh adalah hasil kerja kerasnya. Dia bukan keturunan bangsawan, melainkan anak dari pasangan orang biasa yang jenius dan bekerja dengan keras. Makanya dia sedikit gila dengan uang. Dia selalu berpihak pada uang, tapi dia juga tidak melupakan siapa saja orang yang berjasa di hidupnya. Salah satunya adalah Grand Duke James.


Karana turut serta dalam membuat ruangan tersebut berantakan, James akhirnya ikut membantu membereskan dokuman yang berserakan di ruang kerjanya. Terlebih ada dokumen yang harus segera di urus untuk dikirim ke kerajaan.


'Ternyata kemaren aku terlalu berlebihan ya.' James baru menyadari tindakannya.


Memang benar bahwa cinta membuat orang menjadi tolloll.


Hanya perlu tidak sampai 10 menit untuk James membuat ruangannya seperti kandang babbii. Tapi ternyata membereskan banyak dokumen yang berserakan diperlukan banyak waktu serta tenaga. Apalagi harus mengunjungi ulang dan memisahkan berdasarkan tanggal.


Selang 30 menit, ada suara pintu terketuk.


'Freyakah?' James yang tadinya duduk membereskan dokumen langsung berdiri dan hendak membuka pintu dengan wajah berseri-seri.


Benar itu adalah Freya. James menyanhutnya dengan tersenyum.


Melihat James yang hanya mengenakan kemeja dengan lengan tergulung serta kangkung dada atasnya yang terbuka membuat Freya malah salah tingkah. Kemeja yang dikenakan James sangat pas dan membentuk badan James yang berotot karena sering berlatih ilmu pedang.


Freya tersenyum lantas mengalihkan pandangannya pada troli yang dia bawa.


'Apa dada James memang selebar itu?' Rasa panas menjalar ke badan Freya. James yang berantakan karena bekerja ternyata terlihat lebih menarik di mata Freya.


Sementara James malah merutuk dirinya sendiri sebab sekarang dia terlihat sangat berantakan.


'Sial!!!! Harusnya tadi aku menyuruh Baron Edy saja!' Tapi James yang kooperatif tak mungkin meninggalkan Baron Edy yang membereskan kekacauan yang sudah James perbuat.


 membuka mulutnya untuk memulai percakapan.


"Ah... ya mari masuk."


Mata Frey melihat sekeliling karena dokumen yang semalam bertaburan sudah banyak yang rapi. Terlebih di ruangan tersebut juga ada seorang laki-laki.


"Ah dia Baron Edy, ajudanku dalam hal administrasi Duchy."


Freya mengangguk dan tersenyum kepada Baron Edy.


"Dia adalah Putri Count Galo dan tamu sepresialku." James mengenalkan Freya kepada Baron Edy.


Baron Edy menganggukkan kepalanya untuk memberi salam saja. Sikapnya terhadap perempuan sebenernya 11 12 dengan James. Hanya saja dia belum menemukan pawangnya.


James ingin sekali menjitak kepala Baron Edy karena sudah mengacuhkan wanita pujaannya itu. Tapi kemudian James berfikir kembali. Berarti Baron Edy tidak tertarik dengan Freya. James lantas tersenyum dalam senang di dalam hatinya.


"Sarapannya?" karena terlalu lama ada jeda membuat Freya bingung memulai percakapan kembali, jadi yang dia keluarkan hanya menanyakan kata sarapan.

__ADS_1


"Ah... ya... " James membimbing Freya ke arah sofa tempat tamu dijamu di ruangannya.


"Apakah Baron Edy sudah... " belum selesai Freya berbicara, James sudah memotongnya.


"Sudah... " Kata James membuat Freya dan Baron Edy kaget secara bersamaan.


"Iya kan Ed?" James dan Edy seumuran, dan karena James sudah menganggap Edy sebagai rekan dekatnya makanya dia sering memanggilnya dengan sebuah Ed saja.


"....?" Edy bingung sebab kalimat itu belum ada subjeknya.


Sementara itu James memolototinya dan memberikannya kode untuk mengangguk saja. Tangan James kemudiN memberikan isyarat jempol dan telunjuk bertemu dan menggerakannya beberapa kali yang artinya duit....


Baron Edy langsung mengerti isyarat tersebut, lalu tersenyum ringan dan mengangguk.


'Dasar kapitalis! giliran uang saja langsung mengerti!' batin James.


'Ada apa dengan mereka? aku bahkan belum menyelesaikan omonganku.' Batin Freya.


'Wah Nona Muda itu sepertinya akan jadi kadang penghasilanku!' Batin Edy.


Karena tak ingin di ganggu, James kemudian membuat alasan bahwa Edy harus mengirim dokumen sewa untuk para pendatang di Duchy nya.


Edy yang mengerti omongan tersebut pun langsung pamit tanpa banyak drama.


James melambaikan tangan untuk Edy yang bersedia pergi dan tidak akan menganggu waktu sarapannya dengan Freya.


James makan dengan bahagia>a sebab dia bisa meandangi wajah Freya dengan sepuasnya. Meskipun Freya terlihat tidak nyaman dengan hal tersebut.


James makan tidak buru-buru sebab hanya dengan begitu James bisa melihat Freya lebih lama. James sebenernya juga ingin membuat obrolan sembari makan tapi dia sendiri bingung harus bagaimana. Apa yang harus dia tanyakan. Karena James juga takut dia menganggu Freya dengan pertanyannya.


Aslinya dia ingin bertanya bagaimana tidurmu semalam? nyenyak tidak? adakah yang kurang nyaman? apa mau ganti kasur? atau pindah sekasur denganku?


Tapi semua pertanyaan itu tercekat sampai James menyelesaikan sarapannya.


"Terimakasih sudah repot repot membawakan sarapan kesini. Maaf sudah merepotkan." James suka Freya datang kepadanya. Tapi itu sedikit membuat James juga tidak enak karena harus merepotkan Freya. Kondisi dua keadaan yang tertolak belakang.


"Tidak masalah, saya harap Grand Duke tidak melewatkan jam makannya agar terus sehat. " Ucapan Freya tulus dari hatinya.


Mendengar Freya yang perhatian kepada sudah membuat James ingin berteriak kencang karena saking senangnya.


"Terimakasih." Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut James.


Freya pergi dan Baron Edy tidak kembali lagi melanjutkan pekerjaannya. Hal itu membuat James akhirnya mengumpat.

__ADS_1


"Sialan kau Ed!!"


Di tempat lain, Baro Edy yang tengah menyantap macaron sambil membaca buku di taman pun merasakan telinganya terus gatal. Seperti mitos ketika ada orang yang sedang mengutuknya.


__ADS_2