
Killion dan James akhirnya mengobrol di teras samping. Mereka bicara banyak hal dan santai. Suasananya hangat dan tentram. Mengenang masa kecil dan bernoltalgia sangatlah menyangkal bagi mereka.
"Ah ngomong-ngomong Killion, pertemuanmu kemarin dengan Profesor apakah itu mengenai pekerjaan?" James bertanya spontan.
Untungnya Killiom tampak tak perduli lagi dengan masa lagunya yang dipecat jadi tutor anggota kekuatan Kerajaan.
"Yah, betul sekali. Aku akan mengajar di Akademi sebagai asisten."
Killion harusnya usdah bisa jadi pengajar, tapi karena kasus dipecatnya dia dari istana, Killion harus mengabdi menjadi asisten terlebih dahulu. Sentimen orang tua pasti akan masuk akademi kalau Killion langsung jadi pengajar.
"Aku yakin, kau akan jadi Guru besar Nanti." James membesarkan hati Killion.
Killion tersenyum dengan penghapusan temannya, "Yah, saat itu kau juga akan menjadi seorang Grand Duke yang terkenal."
Berdua berdua laku tertawa bersama.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong Killion, aku masih qda waktu sekitar dua bulan lagi sebelum pergi perang. Tidak bisakah kau sekeluarga berlibur ke wilayahku." James melontarkan tawaran yang setengahnya berisi ketulusan, lalu setengahnya berisi niat terselubung.
"Hm... kalau aku pribadi bosa mungkin Tapi hanya satu minggu, sebelum aku benar benar mulai masuk akademi untuk mengajar James. Lalu Ayah dan Freya, mereka cukup lowong, harusnya bisa berlibur ke wilayahmu." Killion menanggapi permintaan James dengan santai.
"Begitukah?" James wajahnya terpancar kekecewaan.
"Padahal aku berharap kalian bisa mampir ke wilayahku sebelum aku pergi berperang. Menghabiskan waktu dengan kalian yang seperti keluargaku adalah keingininanku."
Killion termakan omongan James. Memang benar bahwa James kehilangan orang tuanya sedari muda, dia bahka mengembangkan tugas sebagai kepala rumah tangga dan juga wilayah yang luas. Dia harus bertanggung jawab pada hal besar di usia dini dan Count Galo yang dulu menjadi gurunya sudah seperti Ayahnya sendiri, juga Killion yang seperti saudara laki-lqkinya sendiri. Kecuali Freya, dia lain hal di pikiran James. Dulu dia menganggap Freya adik sahabatnya yang imut dan cantik. Sekarang, akan banyak deskripsi kalau kalian bertanya mengenai sosok Freya di pikiran James.
James tersenyum bahagia. "Terimakasih, aku akan menyiapkan tempat terbaik di mansionku untuk Count, Kau dan Freya yang manis."
Sekilas Killion merasa aneh, sebab pada dasarnya James adalah manusia yang jarang menyanjung orang, jadi ketika dia mengucapkan bahwa Freya anak yang manis, rasanya aneh sekali di dengar oleh Killion. Tapi dasarnya Killion juga sama tidak pekanya, itu seperti angin lalu saja.
James saat ini harus berterimakasih dan meminta maaf pada Killion karena dia dengan berat hati harus memanfaatkan teman laki-lakinya itu untuk mendekati Freya. Di mata James, Freya hendak melarikan diri setelah mengaku, mungkin dia malu. Jadi James hanya harus membuat Freya mengenal dirinya agar dia tak akan kabur lagi. James bukanlah pria yang menakutkan, kira kira begitulah gambarannya. Namun, semua itu butuh proses dan James mencoba sabar untuk itu.
__ADS_1
"Ayah sepertinya kan kembali sore nanti, makan singgah disini." Killion menawarkan tawaran yang menarik bagi James.
"Aku senang ikut makan bersama denganmu dan Freya, tapi kurasa aku harus pamit karena harus bertemu dengan Felix." James sudah menunda janji temunya dengan Putra Mahkota, agar bisa membuat Killion mau membujuk keluarganya untuk pergi ke wilayah James. Nyatanya usahanya tak sia sia.
"Hm... kau harus bergegas."
James tahu maksud Killion, meskipun bersahabat, Felix masihlah Putra Mahkota, calon raja negeri ini.
"Ya, kalau begitu aku harus pamit undur diri. Terimakasih atas jamuan tehnya." James berdiri dari tempat duduknya.
"Sampaikan salamku pada Freya juga."
"....?" Killion dibuat bingung tapi dia vuru buru menjawab James . "Ya!"
Mereka berpisah.
__ADS_1
James kembali dengan senyuman kemenangan, sedangkan Killion masuk ke dalam rumah dengan rasa penasaran. Apa gerangan yang sudah membuat sifat James berubah?