PUTRI COUNT SALAH CONFESS

PUTRI COUNT SALAH CONFESS
Bab 41


__ADS_3

Segera setelah Putri Arabella menyetujui tawaran Felix diaturlah pertemuan antara Putri Arabela Wistoria Dengan Marquess Muda Deron Zanibun.


Arabella tak berharap apa-apa, toh ini hanya perniakahan untuk menyelamatkannya dari dunia pernikahan yang kejam, tidak ada cinta antara keduanya. Yang ada di keyakinan hati Arabella adalah Marquess Muda mau menyetuji pernikahan tersebut karena permintaan Putra Mahkota Felix yang dalam hal ini adalah temannya sendiri.


Pertemuan tersebut di atur di kediaman Putra Mahkota, di taman angsa, tempat yang penuh dengan muka bermekaran. Bisa di bilang bahwa tempat tersebut di bilang romantis. Arabella sedikit berdandan untuk menghormati pertemuan tersebut. Rambut Arabella sedikit di gelung, dia juga mengenakan pita berwarna merah. Terlihat lebih cantik. Tapi meski sudah cantik tidak ada senyuman kebahagian di wajahnya.


Arabella datang lebih dulu, lebih baik datang lebih dulu dan menunggu, itu bisa jadi kesan yang baik di mata Marquess Muda Zanibun.


Pagi tersebut sangat cerah, kicau burung juga nyaring di dengar. Arabella mengutak atik gelang sederhana pemberian pamannya. Setelah 20 menit menunggu, akhirnya kakaknya datang dengan seseorang yang ada di belakangnya. Arabela memperhatikan dan memandanganya dengan seksama. Postur tubuhnya tegap, dia juga sangat tinggi dan berotot, mungkin karena dia adalah seorang komandan pasukan.


Arabela berdiri dan memberikan salamnya.


Felix sebagai seorang jembatan mempersilahkan keduanya duduk.


"Deron ini adikku Arabella." Layaknya mak comblang dia mempertemukan laki-laki dan perempuan lajang.

__ADS_1


"Dan Arabella dia adalah Marquess Muda Deron Zanibun."


"Senang berkenalan dengan Tuan Marquess Muda."


Deron juga mengangguk memberikan penghormatan. Dia juga mencium tangan Arabela seperti perkenalan pada umumnya. Itu hanya kecupan ringan, seperti capung yang menginjakkan kakinya ke air.


Bahkan setelah bertemu dengan laki-laki tampan yang ada di depannya, Arabela masih belum terpesona.


Aneka hidangan keluar. Aroma teh earl grey menguap di ruangan terbuka tersebut.


Dalam pikirannya, dia bergulat, kenapa takdir seseorang sudah ditentukan, tidak bisakah seseorang menulis takdirnya sendiri. Dia berharap lahir dari kalangan orang biasa saja, memiliki Ayah dan Ibu yang meyanyanginya saja sudah cukup untuk semumur hidupnya. Yah mungkin punya saudara laki-laki yang juga peduli padanya juga sedikit menyenangkan. Saat pikirannya tengah mengembara dengan beranda-andai, rupanya Felix tengah memanggilnya beberapa kali.


"Arabela?"


Kaki Felix kemudian menyenggol kaki Arabella beberapa kali agar sadar.

__ADS_1


"Huh iya?" Dengan wajah bingung Arabela menoleh ke arah kakaknya. Sadar akan situasi, Arabela segera sadar dengan realita, bahwa angan-angannya hanya mimpi belaka.


"Ah maaf saya kurang enak badan," Arabella membuat alasan.


Felix sadar betul bahwa adiknya mungkin sedikit tidak ikhlas dengan garis takdirnya tapi dari segi sudut pandangnya, menikahi Deron Zanibun yang akan mewarisi gelar Marquess adalah pilihan yang terbaik untuk adiknya. Temannya itu cakap, tampan, sopan dan pria yang baik. Meski belum ada cinta, Felix yakin bahwa adiknya akan bahagia jika bersanding dengan temannya.


"Haruskah kita pindah tempat? di luar memang sedikit berangin." Deron berkata dengan lembut.


Felix lega, Deron adalah pria yang memperlakukan wanita dengan sangat baik.


Arabela tersenyum, "Tidak apa-apa Tuan Zanibun, sinar matahari juga bagus untuk berjemur."


"Tolong panggil Deron saja. Putri." Deron juga pandai berkomukasi itu sebabnya Felix sangat puas.


Tapi meski demikian, Felix juga tahu bahwa Deron pasti jugsa bisa membaca situasi Arabela yang mungkin tidak nyaman dengan pernikahan tersebut. Felix hanya pura-pura tutup mata, selama tidak ada keberatan maka rencana tersebut juga akan ters terlaksana.

__ADS_1


Meski canggung, kikuk dan kaku, pertemuan tersebut segera berakhir. Janji temu lagi juga sudah direncakan. Pertemuan selanjutnya mungkin sebuah kencan untuk keduanya. Tanpa Felix yang selalu berusahan untuk mencocokkan keduanya. Baik Arabela dan Deron sejujurnya tidak terlalu berharap dengan pertemuan tersebut, semuanya murni usaha dari Felix belaka. Tapi demi menghormati sesama keluarga dan sesama teman, keduanya pun setuju.


__ADS_2