
Selepas kedatangannya Kepala Pelayan dari ruang kerjanya, James malah gugup sebab dia bingung apa yang harus dilakukannya.
James mondar mandir karena grogi tiba tiba saja. Keringat dingin badannya serta detak jantungnya tak berirama dengan baik.
Akting, bukanlah keahliannya. Tapi kepala pelayan sudah bekerja keras untuk menciptakan momen dirinya bersama dengan Freya, bagaimana mungkin bisa di sia-siakan saja.
Sibuk bekerja ya... Tiba tiba saja dia berpikir tentang sibuk bekerja. James melihat meja kerjanya. Meja itu sudah rapi karena semua pekerjaan hampir diselesaikan. Apalagi dia juga dibantu Baron Edy dalam hal mengurus Duchy. Seharusnya hari ini sudah selesai urusan Duchy jadi James bisa beristirahat dengan baik. Mata James memindai meja kerja tersebut.
James kemudian melangkah ke meja kerjanya dan membuat dokumen yang sudah tertata rapi berantakan kembali.
"Tidak?" James merasa bahwa meja belum terlalu berantakan, jadi dia memindahkan buku buku tebal ke meja kerjanya.
"Sempurna!" Katanya. Dia tersenyum puas dengan kelakuannya sendiri.
James yakin bahwa semua orang yang melihat meja kerjanya akan pusing lantaran berkas berkas menumpuk dan terlihat seperti banyak kerjaan yang belum diselesaikannya. Tak sampai disitu, dia sibuk memindai tempat yang lain agar terlihat bahwa dia memang seorang pekerja keras. Harus terlihat berantakan karena sibuk bekerja tapi James membuat ruangan tersebut seperti kapal yang dilanda badai. Membuat ruangan tersebut porak poranda.
Sementara itu Kepala Pelayan melangkah ke dapur lagi untuk memastikan bahwa makanan untuk Tuannya sudah siap. Setelah itu dia menata lagi rambutnya dan sudah putih karena uban agar terlihat rapi. Lalu menata pakaiannya kembali dan mengatur nafasnya yang tersengal sengal.
"Huh.... " berat sekali rasanya operasi dia hati ini.
"Tok... Tok... Tok.... "
Freya yang ada di dalam kamarnya juga tak kalah gugupnya. Bisa-bisanya dia mengajukan pertanyaan dan menawarkan dirinya untuk mengantar makan malam. Freya sendiri juga penasaran kenapa Grand Duke tidak menampakkan wajahnya selama 2 hari ini.
"Maaf Nona, semua sudah siap dan tinggal antar." Kepala pelayan tersenyum sangat lebar.
"Ahaha... Ya." Freya malah gugup sendiri.
Mau tidak mau Freya akhirnya berdiri dan mengantarkan makanan Grand Duke James menggunakan troli.
Freya sendiri bingung bagaimana dia harus bertegur sapa setelah dia kemarin memarahi James dan meninggalkannya di tangga.
'Hai.. apa kabar?' rasanya agak aneh bukan. Freya berjalan sambil bermolog dalam hati. Dia sedang mencari kata kata yang pas untuk menegur James nanti.
Karena sibuk dengan pikirannya, Freya bahkan sampai berjalan melewati ruangan kerja Grand Duke.
Kepala pelayan yang mengikuti Freya dari belakang sampai bingung.
"Anu Nona.... ruangannya terlewat."
Freya langsung menghentikan langkahnya, Freya menolah ke belakang arah sumber suara kepala pelayan dan tersenyum canggung.
"Maaf sepertinya saya kurang hafal dengan ruang kerja Grand Duke." Kata Freya beralasan.
Memang benar Freya sudah dia nak berkeliling mansion, tapi untuk menghafal segala ruangan pasti kesulitan kameranya mansion Grand Duke sangat besar dan luas. Tapi ruang kerja Grand Duke bahkan ada tulisan papan penunjuk jadi siapapun pasti tahu.
Freya sebenernya malu dan mengutuk dirinya sendiri.
Freya memutat langkahnya untuk kembali ke depan ruangan kerja Grand Duke.
"Tok... tok... tok... " Freya mengetuk pintu dengan sopan.
Mendengar suara pintu terketuk, James yang tadinya masih wara wiri mendekor ruangannya itu dengan buru buru ingin membukakan pintu, tapi nasibnya soal karena tiba tiba saja saat ingin berbalik dengan buru buru kakinya terbentur sudut meja.
__ADS_1
"Aw..... " James merasakan sakit di kakinya. Sakit itu tak akan lama paling hanya 10 detik. Kalian juga pasti pernah merasakannya.
"Meja sialannn!" umpatnya. Gara gara ini Freya harus menunggu di depan pintu.
Tak lama James bangkit dari keterpurukan kakinya. Dia mengatur nafasnya dan berusaha untuk senatural mungkin.
"Klek..."suara pintu terbuka.
Baik Freya dan James sama sama memandang dengan terkejut. Moment itu hening dan tanpa suara.
"Ehem...ehem..." suara kepala pelayan yang kahirnya menyadarkan keduanya.
"Ah.... Apa kabar Grand Duke?"
"Ya?" James sediit linglung karena dia terpaku dengan Freya yang semakin hari semakin cantik saja.
Sebenarnya James bukan menghilang selama dua hari ini. Dia selalu menyempatkan dirinya untuk melihat Freya walau dari kejauhan. Freya saja yang tidak sadar akan hal itu.
Saat Freya sedang asyik membaca di taman, James melihat Freya dari balik jendela kaca mansionnya. Saat Freya dengan sarapan, James juga memeriksa menu sarapan dan memastikan bahwa menu tersebut di sukai Freya. Dia mempersiapkan apapun dengan sangat rinci.Dasarnya sudah budak cinta dengan Freya, mau bagaimana lagi.
"Ah.... saya baik, bagaimana dengan Lady Freya?" James menanyakan kabar Freya.
"Saya juga baik."
Melihat interaksi keduanya yang masih kaku dan malu-malu, kepala pelayan harus segera bertindak. Sorot matanya kemudian menajam. 'Baiklah, pria tua ini akan mati dengan tenang setelah kalian menikah dan punya anak.' Gumam Kepala pelayan.
"Lady Freya kemari membawakan makan malam untuk Yang Mulia." Kata kepala pelayan.
Freya baru sadar lagi setelah kepala pelayan itu membuka mulutnya.
"Hah?.... Ah ya... silahkan masuk!"
Kepala pelayan dobuat kaget bukan main. Ruangan itu.... bagaimana ya mendiskripsikannya. Terlihat seperti gudang. Bahkan Freya pun kaget bukan main.
James menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Itu karena Freya dan kepala pelayannya mengamati ruangan itu dengan seksama. 'Apakah merea sangat terkesan dengan ruangan kerjaku? Itu artinya hasil kerjaku berhasil kan?' Gumam James dalam hati.
'Apa ini? Kandang Babbii kah?' Kepala pelayan ingin meninju Tuannya sendiri rasanya. Sibuk bekerja bukan berarti harus menjadikan ruangannya seperti kandang Babbii.
'Wah.... kacau sekali, pantas dia tidak keluar dari ruangannya selama beberapa hari ini. Aku rasa dia akan terjebak disini sampai sebulan??'
Tik...tok...tik...tok saking heningnya rasanya suara jam menggema di ruangan tersebut.
"Jadi?....." James mulai mebuka mulutnya keran dua orang tersebut sepertinya terlalu kagum dengan ruangannya.
"Ah... silahkan makan malam, saya akan pamit setelah Grand Duke makan." Kata Freya kemudian.
Bahkan meja untuk tamu pun tak kalah berantakan.
Kepala pelayan sepertinya sedang menagis dalam hatinya melihat kelakuan minus tuannya.
Tapi dia tetap harus bertindak, jadi meski hatnya tengah menangis tapi tangannya terampil dalam menyaiapkan makan malam Tuannya.
Menu yang di siapkan adalah ketang panggang dengan steik dagingĀ domba yang empuk.
__ADS_1
Melihat menunya saja sudah membuat perut James begah. 50 meniat yang lalu dia baru saja makan dengan porsi besar lalu sekarang dia harus disuruh makan lagi. Masalahnya dia tadi makan dengan lahap dan mengahbiskan semua makan malamnya.
Freya bertanya-tanya, apakah menua makan malamnya tidak sesuai? sebab Grand Duke hanya menatap makanan itu saja.
"Apakah menunya tidak sesuai selera Yang Mulia?"
Melihat Freya yang menanyakan hal tersebut, sontak membuat Jmaes langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak, menu makan malamnya SANGAT PAS!" Kata James penuh dengan tekanan kata.
James lalu mulai menotong gading tersebut. Demi Freya yang sudah rela meluangkan waktunya. Meski perut sudah penuh, James rela makan lagi.
Walau makanan tersebut lezat tapi kalau perut sudah kenyang dan penuh, makanan tersebut lagi terasa nikmat. Benar kata orang bawa makanan paling terlihat enak saat kita lapar.
Glek, daging itu masuk ke saluran pencernaan Grand Duke dengan sempurna.
Suapan suapan berikutnya pun demikian, masuk dengan sempurna. James tipe orang yang makan tidak berlebihan, ini pertama kali dalam hidupnya dia harus makan seperti orang kelaparan.
Perutnya sudah tidak kuat lagi menahan tampungan tapi Freya yang melihatnya makan terlihat antusiasme dan tersenyum senang.
Kepala pelayan berkali kali hanya mengelus dadanya melihat penderitaan Tuannya. Tapi mau bagaimana lagi.
Freya senang, akhirnya Grand Duke makan dengan lahap dan menghabiskan menu makannya dengan sempurna.
James hanya minum sedikit sebab perutnya sudah tidak muat.
"Menganai kemarin..." Kata Freya menjeda, "Saya minta maaf karena terlalu kasar dengan Yang Mulia."
James segera melambaikan tangannya untuk menolak perkataan Freya.
"Tidak... tidak... sepertinya saya yang sudah kelewatan karena tidak bertanya dahulu."
James ingin menikmati momen mengobrol mereka, tapi apa daya. Dia rasanya ingin muntah karena kekenyangan.
"Hm... baiklah.... saya anggap masalah kemaren selesai dan mohon Yang Mulia lebih memperhatikan diri Yang Mulia sendiri. Jangan sampai terlambat makan."
James ingin bersuara, tapi dia menahan muntahannya. Dia hanya menganggukka kepalanya.
Kepala pelayan kecewa sebab Tuannya tidak bisa pro aktif dalam percakapan.
"Kalau begitu saya persimi. " Freya pamit sebab makan malam Grand Duke habis dan Freya tak sampai hati menganggu orang yang sangat sibuk.
James senang akhirnya Freya pamit pergi.
'Apa ini? hanya sampai begini saja?' kata kepala pelayan dalam hati.
James hanya mengangguk dan tersenyum.
Meski kecewa tapi setidaknya kepala pelayan sudah berusaha.
Klek... pintu tertutup.
James menyumbat mulutnya dengan tangannya. Dia ingin muntah tapi tidak sekarang sebab Freya pasti tak jauh dari ruangannya.
__ADS_1
Dia menghitung sampai 50 dengan lambat dan pada angka 50 James akhirnya "Huek.... " memuntahkan makanannya.