
"APAAA???" Suara kaget James menggelegar.
Camp, sang butler hanya menyampaikan bahwa Count Galo, beserta anaknya Killion dan Freya segera mengakhiri liburan musim seminya di kediamannya dan berniat kembali ke wilayahnya.
James panik seketika. Dia ingin memutar otak tapi seketika otaknya blank... kosong tak berisi. Telinganya rasanya berdengung, belum pernah dia merasakan guncangan dalam hidupnya kecuali saat kedua orang tuanya yang meninggal dunia akibat kecelakaan kereta yang ekstrem.
Pandangannya kosong.
"Yang Mulia!" Camp sang Bulter segera berteriak untuk menyadarkan tuannya yang linglung. Ini bukan saatnya untuk berdiam diri. Camp merasa juga harus bertindak sebab tuannya ini sangat boddoh kalau menyangkut urusan cinta.
"Yang Mulia harus bertindak dan membuat rencana agar Lady Freya tetap berada di Duchy meskipun Count dan kakaknya Tuan Killion pulang ke wilayahnya."
Benar, ini bukan saatnya untuk berdiam diri. James merasakan kalau dirinya harus segera bertindak cepat.
Komanda pasukan yang biasa memimpin perang tiba tiba saja harus mondar mandir seperti seorang mandor yang bingung. Count dan keluarganya memang sudah lama berlibur, mereka pasti punya kesibukan lain, jadi wajar kalau mereka harus kembali ke wilayahnya. Masalahnya adalah Freya, James tak rela kalau pujaan hatinya juga harus kembali. Cara cepat untuk menahannya adalah menjadikannya sebagai tunangan. Tapi James jelas bingung harus memulai dari mana pembicaraan tersebut.
Bukannya James tidak cakap, James juga menjadi salah satu mantu paling diminati di Kerajaan Wistoria. Masalahnya adalah, Count dan Killion merasakan bahwa bunga dalam rumahnya itu harus dijaga. Sosok James yang sudah dekat dengan keluarga Count pasti tidak akan terpikirkan mereka untuk menjadikannya menantu.
__ADS_1
James tahu betul Count tipe orang yang seperti apa, dibanding mengejar kejayaan dan kekayaan. Count lebih suka sepak terjang reputasi yang baik. Keluarga tersebut hidup tak terlalu mewah dan gemar melakukan amal.
Merasa frustasi, James mengacak ngacak rambutnya.
Sebetulnya mungkin sekitar satu atau dua bulan lagi James harus berangkat ke medan perang. Jadi dia harus menyiapkan banyak hal untuk kepergiannya. Keberadaan Freya itu seperti jimat bagi James, semangatnya, keberuntungannya dan kecintaannya.
Setelah lama berpikir, James menemukan satu hal. Satu-satunya orang yang bisa mengubah keputusan tersebut adalah Count. Maka berangkatlah James ke ruangan Count.
Ini adalah waktu sebelum makan malam, James harus bergegad dan membuat Count bisa mengambil keputusan.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, James menemui Count sebagai seorang guru dan calon mertua baginya.
"Apa aku menganggu waktu istirahat gu.. "
Count segera menepis, "Sama sekali tidak."
James melangkah sambil tersenyum teduh.
__ADS_1
"Begini, Guru... aku rasa aku butuh bantuan guru."
"....?"
"Yah seperti yang Guru tahu, aku akan segera pergi berperang. Butler Camp juga sudah tua. Baron Edy kewalahan mengurus wilayah utara yang luas. Sebetulnya aku memikirkan seseorang untuk membantu. Tapi aku ingin meminta pendapat guru terlebih dahulu."
Count adalah orang yang bijak, diberi pemaparan tersebut. Dia tersenyum. Di minta pendapatnya dalam hal yang penting memberikannya gambaran bahwa dirinya memang dianggap orang yang penting bagi James.
"Siapa orang tersebut? Orang yang ada dalam pikiranmu."
"Yah, dia adalah orang yang cakap dalam bekerja. Saya yakin dia adalah orang yang cocok untuk membantu mengurus wilayah utara ini."
James tak langsung berterus terang. Sementara Count semakin penasaran.
"Kalau di ijinkan, bisakah Lady Freya tinggal di utara membantu saya, sementara saya akan mengurus untuk pergi berperang." Ucap James tanpa ragu ragu.
".... ?" Ucapan yang tiba tiba itu membuat Count kaget bukan main.
__ADS_1