PUTRI COUNT SALAH CONFESS

PUTRI COUNT SALAH CONFESS
Bab 25


__ADS_3

Freya syok berat setelah mendengar penuturan dari James. Freya masih mencerna apa maksud dari perkataannya itu.


"Tunggu..." Tangan kanan Freya maju seperti menginstruksikan James untuk berhenti berbicara. Freya kehilangan akal sejatinya untuk sesaat. Dia menarik nafas pelan pelan untuk menenangkan dirinya.


"Oke." Katanya pada dirinya sendiri. "Katakan sekali lagi kak!" Freya menyuruh James untuk mengulangi Kalimatnya.


"Kau sudah menyukaiku selama 10 tahun." James mengatakan itu lagi dengan bangga.


'Bukan dengan Kak Deron tapi aku menyatakan semua perasaan itu pada Kak James?' Batin Freya terguncang.


Tangan James menggenggam tangan Freya.


"Aaa...." Freya menjerit kaget dengan tindakan James itu.


Sebaliknya, James malah terkekeh dengan respon Freya yang menurutnya malah menggemaskan. Wajah Freya kaget dan penuh dengan ketakutan.


Pikiran Freya tentu saja bingung, bagaimana dia harus menjelaskannya pada Kak James yang sudah terlanjur salah paham.


'Tidak mungkin kan Kak James mengira aku menyukainya. Yang ada aku takut padanya!'


James masih menatap Freya seperti anjing bodoh yang menunggu majikannya.


"Anuuu Kak...."


"Ya?" James merespon dengan sangat cepat.


Glek... Freya menelan ludahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Sebenarnya itu... Ehmt...." Freya menengok wajah James sebentar. Raya wajah bahagia itu akan dihancurkan Freya dengan mengatakan bahwa semuanya adalah kesalahan pahaman dan dia salah orang.


Ekspresi wajah James yang baru dilihat Freya itu menggoyahkannya. Biasanya dia selalu berwajah datar tanpa ekspresi juga acuh tak acuh.


"Sebenarnya itu kenapa?" James yang tak sabar dengan ucapan Freya pun menanyakan ulang perkataan Freya.


'Haruskah aku jujur? bagaimana ini?'


"Mungkin kau masih syok dengan pernyataanmu yang tiba tiba soal kemarin kan. Aku juga tidak menduganya." James malah yang akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara.


'Kalau kau tidak pernah menduganya harusnya kau menghentikan mulutku kak.' Freya menggerutu dalam hatinya.


"Sejak kapan adik Killion punya sifat rendah diri yang seperti itu?"


"....?"


"Kesempatan terakhir? bahkan kau tak pernah meminta kesempatan pertama, kenapa mengatakan ini kesempatan terakhir? Apa kau akan berhenti menyukaiku setelah 10 tahun? Apa itu begitu mudah? melupakan perasaan yang begitu lama tumbuh?" James memberondong Freya dengan banyak pertanyaan.


James yang tadinya duduk di kursi kemudian beralih duduk di tepi ranjang. Dia kemudian mengelus rambut Freya yang masih berantakan. Dia juga membenahi rambut yang menutupi wajah Freya.


Semua tindakan asing itu membuat Freya kaget sekaligus berdebar. Pertama kalinya dia mempunyai skinsip dengan lawan jenis.


"Jangan terburu-buru bertindak. Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal." James berkata dengan nada lembut.


Freya melihat wajah James sekali lagi. Benar dia memang James, tapi semua tindakannya mengatakan kalau dia bukan James.


"Aku baru pulang berperang dan akan kembali ke medan perang dua bulan lagi." James kembali menjelaskan situasinya.

__ADS_1


"Kita akan menghabiskan waktu bersama selama itu. Aku juga akan berjanji untuk menepati semua doamu dengan kembali dari medan perang tanpa cacat dan hidup hidup. Terimakasih untuk selalu mendoakanku." Semua kata kata James sangat tulus dan bentuk dari rasa syukurnya.


Cup


James mencium kening Freya.


Deg deg deg


Freya yang dari awal berdebar karena gugup, kaget dan syok, sekarang tambah berdebar dengan perlakuan James yang begitu lembut saat berbicara dengannya.


Freya kemudian memegang kening yang tadi di cium oleh James dengan singkat.


James malah tersenyum melihat Freya yang salah tingkah.


"Kita harus sarapan terlebih dahulu. Kakakmu menitipkanmu padaku." Katanya James lagi. Dia lalu bangkit dari tepi ranjang Freya dan pergi untuk memanggil pelayan untuk kebutuhan sarapan mereka berdua.


Freya melihat punggung James pergi. "Tamatlah kau Freya!" Katanya sendiri. Dia menyesal telah mabuk dan salah mengungkapkan perasaan pada sembarang orang. Kalau saja dia waras pasti dia bisa mengenali wajah Deron dan James yang berbeda jauh. Deron yang ramah dan mudah tersenyum punya watak yang jauh sekali dengan James. Mereka seperti langit dan sumur, bukan langit dan bumi. Sumur dan langit, tak hanya jauh tapi juga dalam.


Freya rasanya hidupnya kali ini akan seperti uji nyali baginya.


***


Halo Readers...


Untuk dukung author, JANGAN LUPA LIKE, SUBSCRIBE, KOMEN, VOTE DAN RATING BINTANG 5 NYA YA! Hehe....


Tebaran bunga atau kopinya juga boleh.

__ADS_1


Makasih!


Happy reading**!


__ADS_2