
Ditempat makan Freya menemukan Kakak, Ayah dan Count tengah berbincang dan saling melemparkan canda tawa.
"Wah gila... " Gumam Freya pelan. Mereka bisa vercanda dan tertawa sangat gembira.
James yang menyadar Freya sudah turun ke ruang mana pun melirik Freya sekilas. Dia tampak tersenyum.
"Dih.. Dasar messum!"
Freya melangkah menuju tempat duduk sampaing kakaknya.
"Ah, anakku sudah mandi dan wangi rupanya." Ejek Count kepada putrinya.
"Tumben kan, Yah." Killion menimpali gurauan.
Sontak wajah Feya langsung bertekuk.
James juga tersenyum karena wajah Freya yang bertekuk kesal itu malah semakin imut di matanya. Rasanya dia ingin mencium pipi Freya.
"Ehem... " Dehaman suara Count membuat yang lain langsung sadar, termasuk James. "Ayah hanya bercanda Freya. Sekarang mari kita makan. "
__ADS_1
Akhirnya mereka makan dengan damai. Menu malam itu cukup mewah. James menyambut keluarga Count penuh dengan hormat, sebagai seorang guru yang sudah dia anggap juga seperti Ayah atau sebentar lagi mungkin Ayah mertua. Membayangkannya saja membuat James ingin tersenyum. Makanya James menundukkan wajahnya untuk menutupi senyumannya karena terlalu berkhayal.
Di sisi lain, Freya malah semakin tidak bernafsu makan. Rasanya sangat stress sekali memikirkan nasib dirinya yang terjebak dalam rumah singa.
Sesekali Freya melirik ke arah James dan Freya kedapagan melihat wajah James yang tersenyum sambil menunduk.
'Apa dia gila?' Freya semakin takut karena terlibat dengan dengan orang gila.
Freya tak menghabiskan makanannya. Rasanya dia sudah terlalu memaksakan untuk makan. Karena ada Ayah dan juga Kakaknya. Bisa mengamuk mereka kalau Freya tidak makan dengan benar.
"Karena Count sudah ada disini. Bagimana kalau besok berkeliling wilayah ku? " James menawarkan sebuah tawaran yang menarik.
"Bukan ide yang buruk. " Killion memberikan respon positifnya.
'Wah rubah ini sangat licik!'
James tersenyum kepada Count. "Itu tidak benar. "
"Tapi Ayah benar. Kak James pasti sibuk. " Freya tersenyum ke arah James.
__ADS_1
'Senyumnya sangat menggemaskan!'
"Memang benar bahwa saya sangat sibuk. Tapi dua bulan lagi saya harus pergi berperang. Jadi saya ingin menghabiskan waktu dengan orang terdekat saya. Count"
James memberikan pernyataan telak yang tidak bisa dibantah oleh siapaun. Dia memakai bahasa formal setiap berbicara dengan orang yang lebih tua.
Freya telah kalah. Ayahnya pasti akan bersimpati dengan James. Bahkan dirinya (Freya) juga merasa tak enak mendengarnya.
"Maaf James, aku tidak mempertimbangkan hal tersebut." Count langsung merasa tak enak dengan Jmaes.
"Tidak-tidak, ini bukan salah siapaun. Jadi tolong nyamanlah selagi kita semua disini." James menjawab dengan tersenyum kepada Count.
Senyum James yang langka hanya ditujukan dengan orang terdekatnya saja. Salah satunya adalah Count, Killion, ketiga teman lainnya serta kepada Matahari keraajan dan yang terakhir untuk Freya.
"Maaf ya kawan, pasti sangat berat perjuanganmu." Killion juga merasa bersalah. Dia sendiri hanya seorang tenaga pendidik dan tidak berbakat menjadi seorang ksatria seperti James ataupun Deron.
"Maaf suasananya menjadi seperti ini." James akhirnya tahu bawa pembicaraan itu menjadi kelam setelah kata perang disebutkan.
"Baiklah karena sudah diputuskan, mari kita besok berkeliling wilayah utara yang mempesona ini." Killon mengambil tindakan agar suasana canggung itu hilang.
__ADS_1
Semuanya tampak senang kecuali Freya.
Dalam hati dia sudah mengutuk James dan juga kakaknya yang tidak peka.