PUTRI COUNT SALAH CONFESS

PUTRI COUNT SALAH CONFESS
Bab 47


__ADS_3

Diluar prediksi Freya, semua dokumen itu sangat rapi dan teliti sehingga membuat Freya kagum bukan main. Semuanya sangat tersusun dan terstruktur, mudah di pahami.


James yang memperhatikan Pula itu kecewa, karena sepertinya Perempuan yang ada di depannya tidak kesulitan sama sekali dan harus bertanya kepadanya.


Pukul 9.30 Camp sanga butler datang membawakan minuman dan camilan. Sang butler memperhatikan tuannya yang masih setia menatap Lady Freya tanpa melakukan aktivitas apa pun, sungguh tindakan yang sia-sia, kalau begini terus bisa-bisa semua urusan akan berantakan.


"Ehem..." Camp berdeham di samping Tuannya yang masih setia menatap Lady Freya. Bahkan dengan dehamannya itu kedua orang yang sama-sama fokus dengan urusannya masing-masing itu belum sadar akan realita.


Gawat, pikir Camp.


"Tuan Duke, Anda hari ini harus mengecek peralatan pasukan yang ada d gudang."


"Hm...." Jawab James singkat.


"Anda juga harus menemui wakil komanda, Count Carlo untuk membicarakan keberangkatan dan segala keperluan."


"Hm..." Jawab James lagi.

__ADS_1


"Ah, Ada surat yang datang dari Ibukota mengenai Komandan hsatria mawar yang akan datang juga untuk keperluan persiapan perang."


"Hm...."


Camp yang kesal dengan jawaban yang hanya hm..hm...hm.... itu, ingin sekali nemapar kepala Tuannya dengan baki teh yang ada di meja.


"Ck..." Camp mendecakkan lidahnya, sungguh Tuannya ini tidak tertolong.


Batin Camp berkecamuk, untuk Tuannya yang baru bisa melihat dan merasakan bagaimana mencitai seseoarng. Dia terlihat seperti anak anjjing yang hanya mengekori induknya yaitu Lady Freya. Sedangkan Lady Freya hanyalah induk yang merasa risih karena anaknya tidak mau pergi dan terus menempel padanya. Sungguh lucu untuk bisa menyatukan keduanya, usahanya berjalan pelan-pelan dan terbilang selalu lancar. Tapi yang jadi masalah adalah Tuannya, bisa-bisanya rasionalnya mati seketika. Padahal situasi sedang genting-gentingnya.


***


"Biasanya ocehan Freya akan menggema, tapi sei sekali rasanya ada dirumah." Gumam Killion yang baru merasakan ketidakhadiran adiknya.


"Kau benar, dia kan seperti burung beo yang selalu mengoceh." Kata Ayahnya menyetujui Killion.


"Kalau aku juga ikut pergi, apa Ayah tidak akan kesepian?"

__ADS_1


"Harusnya kau segera punya istri dan anak agar aku tidak kesepian." Count berkata dengan sekecil mungkin. Killion sudah di usia menikah, tapi kekasih pun tidak punya, jadi sia-sia saja Count sudah berharap pada anak laki-lakinya. Lalu dengan Freya, ah... pusing sekali memikirkan jodoh anak-anaknya.


"Ayah bilang apa?"


"Yah lupakan saja." Kata Count berlalu.


Killion mengkerutkan alisnya, dia tadi mendengar Ayahnya menggumamkan sesuatu secara sekilas, tapi apa yang digumamkan Ayahnya, Killion tak terlalu mendengarkannya..


"Kapan kau berangkat?"


"Besok."


"Besok?"


Killion menganggukkan kepalanya. Sangat siingkat, Count tak pernah membayangkan kalau dia akan ditinggal seorang diri oleh kedua anaknya. Count berpikir bahwa ini mungkin sudah saatnya, dia harus merelakan anak-anaknya. Tiba-tiba saja suasana hatinya buruk.


Dia tak lagi menanyai Killion, langsung berjalan menuju lantai atas ke kamarnya. Tiba-tiba saja dia merindukan mendiang istrinya.

__ADS_1


Sebaliknya, para pelayan di rumah Count  sibuk membongkar koper Tuannya itu, Count bilang semua orang akan mendapatkan bagian, jadi mereka dengan semangat menyambut kedua Tuannya yang datang .


__ADS_2